SERANG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga Februari 2026.
Koordinator Data dan Informasi BMKG Provinsi Banten, Trian Asmarahadi, menjelaskan bahwa wilayah Banten secara klimatologis memang telah memasuki musim penghujan sejak Desember. Namun, dinamika atmosfer saat ini turut memperkuat intensitas hujan dan kecepatan angin.
“Kalau kita lihat saat ini, wilayah Provinsi Banten memang sudah memasuki musim penghujan. Kenaikan curah hujan yang terjadi sebenarnya masih tergolong normal,” ujar Trian, Kamis (18/12/2025).
Meski demikian, ia menegaskan adanya faktor tambahan yang perlu diwaspadai, yakni gangguan siklonik di wilayah Samudera Hindia. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan curah hujan sekaligus memperkuat angin di sejumlah wilayah Banten.
“Normalnya di bulan Desember Banten memang masuk musim hujan. Akan tetapi, karena ada gangguan siklonik di Samudera Hindia, terjadi kenaikan curah hujan sekaligus kecepatan angin,” katanya.
BMKG memprakirakan pola cuaca dengan hujan berintensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang masih berpotensi terjadi hingga Januari–Februari 2026. Kondisi ini dinilai rawan memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang, terutama di wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi.
“Diperkirakan kondisi cuaca seperti ini masih akan berlangsung sampai Januari–Februari,” tambah Trian.
Sementara itu, BPBD Provinsi Banten mencatat sejumlah kejadian bencana hidrometeorologi yang terjadi pada periode 17 hingga 18 Desember 2025. Bencana dilaporkan terjadi di empat wilayah, yakni Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, dan Kota Cilegon.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten, Lutfi Mujahidin, mengatakan bencana yang ditangani meliputi banjir, angin kencang, tanah longsor, serta pohon tumbang. Data tersebut dihimpun dari laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD kabupaten/kota.
“Berdasarkan pantauan petugas piket dan laporan BPBD kabupaten/kota, kejadian bencana terjadi sejak 17 Desember hingga 18 Desember 2025 pukul 08.00 WIB,” ujar Lutfi.
Di Kabupaten Serang, banjir merendam enam desa di Kecamatan Padarincang, Cinangka, dan Gunungsari. Banjir dipicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat serta meluapnya Daerah Aliran Sungai (DAS) Cidanau dan Cikalumpang. Sebanyak 695 kepala keluarga atau 2.125 jiwa terdampak, dengan ketinggian air berkisar antara 20 hingga 120 sentimeter.
“BPBD kabupaten bersama tim gabungan telah melakukan kaji cepat, evakuasi warga terdampak, pemantauan debit sungai, serta pembaruan data secara berkala. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian banjir di Kabupaten Serang,” jelasnya.
Di Kabupaten Pandeglang, banjir merendam ratusan rumah warga di Kecamatan Patia dan Carita. Selain itu, angin kencang menyebabkan enam rumah roboh serta memicu tanah longsor di Kecamatan Panimbang yang sempat menutup akses jalan.
Sementara di Kota Cilegon, hujan lebat disertai angin kencang mengakibatkan rumah roboh dan pohon tumbang. Salah satu kejadian pohon tumbang di Jalan Kembar Cilegon–Merak menyebabkan seorang pengendara sepeda motor meninggal dunia.
Lutfi menegaskan, penanganan bencana dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari BPBD kabupaten/kota, TNI, Polri, Basarnas, PMI, Tagana, relawan, hingga masyarakat setempat.
“Penanganan dilakukan secara terpadu untuk memastikan keselamatan warga serta percepatan respons darurat,” ujarnya.
Selain penanganan darurat, BPBD Banten juga merekomendasikan peningkatan status kesiapsiagaan serta pemenuhan kebutuhan mendesak bagi warga terdampak. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti informasi dari sumber resmi.
“Kami mengingatkan masyarakat agar tetap waspada dan mengikuti informasi resmi dari BPBD dan BMKG,” pungkasnya.
Penulis: Audindra Kusuma
Editor: Usman Temposo
