Beranda Opini Covid-19 dan Kepedulian Sosial

Covid-19 dan Kepedulian Sosial

543
0
Ilustrasi - foto istimewa kompas.com

Oleh : Albertus Ario Nugroho, Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Universitas Pamulang

Tahun 2020 menjadi tahun yang kelam bagi dunia dan seluruh negara, tak terkecuali Indonesia, berpacu dalam waktu untuk berperang melawan wabah Covid-19. Wabah ini sangat meresahkan dan menjadi hantaman keras bagi dunia. Virus ini mampu menjatuhkan lawan-lawannya hingga sekarat bahkan mematikan. Jutaan orang terinfeksi dan ribuan nyawa meninggal karena keganasaan virus ini.

Dunia ini semakin krisis dan hampir lumpuh karena wabah tersebut. Indonesia sendiri terus bekerjasama mencari vaksin dan memberikan sanksi sosial dan administrasi kepada warga agar penularan Covid-19 tidak terus melaju. Disiplin yang rendah dan kurangnya kesadaran akan protokol kesehatan, membuat Indonesia terus menyuarakan 3M. Memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Daya dobrak Covid-19 semakin menggila karena sudah melumpuhkan diberbagai sektoral.



Klaster perkantoran dan perusahaan banyak menyumbangkan penularan Covid-19. Mobilitas pergerakan yang tinggi, tanpa ada pengawasan protokol kesehatan yang ketat, mengakibatkan sejumlah perusahaan lumpuh hingga gulung tikar. Banyak perusahaan melakukan PHK secara besar-besaran, hingga merumahkan karyawan. Alhasil, jumlah pengangguran semakin banyak dan orang miskin baru bertambah.

Terlebih, diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang banyak memukul telak sektor ekonomi hingga mengalami resesi. Ditambah lagi, di tengah pandemi yang nestapa, disahkannya UU Cipta Kerja yang merugikan buruh, ibaratnya ‘sudah jatuh tertimpa tangga.’ Ekonomi sudah jatuh, buruh makin menderita.

Kesusahan demi kesusahan semakin tidak berujung. Mereka harus memutar otak agar uang yang terbatas itu bisa cukup untuk makan sehari-hari. Gerakan-gerakan kepedulian sosial pun muncul untuk membantu para warga yang terkena terdampak. Mulai dari pembagian sembako, makanan, uang, dan kebutuhan lainnya.

Di tengah wabah Covid-19 ini, tidak seharusnya kita saling berjauhan dan saling bermusuhan. Lupakan sejenak perbedaan politik, perbedaan fanatik club bola, perbedaan yang membuat kita semakin jauh dan tidak bersatu. Justru di tengah pandemi ini, tunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang kuat, bangsa yang solid dan peduli, sebagaimana bhineka tunggal ika dan pancasila mengajarkan kita, berbeda-beda tetapi satu jua.

Kepedulian sosial kita sebagai anak bangsa sedang diuji ditengah wabah. Akankah kita bisa berempati dan simpati terhadap keadaan yang serba susah ini, atau sebaliknya. Saya berharap, fenomena bagi-bagi makanan, sembako, dan kebutuhan lainnya di jalan, maupun di tempat lain bukan sekedar pencitraan, tapi kepedulian ini berangkat karena kita sebagai bangsa yang besar yang mempunyai kepedulian antar sesama.
Gerakan kepedulian sosial diinisiasi bukan saja dari perorangan, tapi juga kelompok dan komunitas. Kepedulian ini mudah-mudahan bukan hanya sementara, dadakan dan spontanitas, tapi juga menjadi karakter bangsa yang mampu bertahan dalam situasi apapun.

Kepedulian bukan lagi muncul karena seruan maupun ajakan. Kepedulian itu muncul karena masyarakat Indonesia dikenal mempunyai sifat gotong royong dan kepedulian. Ini sudah terbukti dari sejarah Indonesia di masa lalu. Nilai-nilai ini sudah terkristal dalam pancasila dan menjadi jati diri bangsa. Jangan sampai hilang jati diri itu di era globalisasi, terlebih di masa pandemi ini.

Lepaskan ego sektoral dari berbagai kepentingan golongan dan pribadi. Saatnya kita bergandengan tangan, bahu-membahu membantu saudara-saudara kita yang terkena dampak Covid-19. Sisihkan sedikit rizki kita untuk membantu semampu yang kita bisa. Sudah bosan jika kita diperdengarkan dan dipertontonkan retorika-retorika murahan tanpa makna.Saatnya kita buktikan, bahwa kita peduli tanpa memandang agama, suku dan budaya.

(***)