Beranda Opini Corona dan Pembangkangan Massa

Corona dan Pembangkangan Massa

200
0
Presiden RI, Joko Widodo meninjau antisipasi Virus Corona di Bandara internasional Soekarno-Hatta

 

Oleh Muhammad Alfaris

Saat ini kita sedang saksikan bentuk pembangkangan oleh rakyat kepada pemerintah yang berkuasa. Anjuran penguasa, dalam upaya mencegah menyebarnya wabah corona, tak dipatuhi rakyatnya.

Pembangkangan, _disobidience_, biasanya dipahami pada perspektif potilis. Rakyat tak puas terhadap kebijakan pemerintah yang berkuasa, atau rakyat mulai muak akan tingkah laku pemerintah yang ada.

Jika ide pembangkangan ini laku dan diapresiasi oleh rakyat luas, dari semua kelas sosial, akan progres menjadi gerakan politik lalu berujung pada revolusi sosial-politik, dan ujungnya jatuhnya penguasa itu.

Pembangkangan model ini sangat ditakuti penguasa. Namun hari ini, dalam kasus wabah covid-19, kita saksikan banyak model pembangkangan rakyat yang berlangsung, tak semuanya bentuk pembangkangan politik. Paling tidak ada tiga motif kenapa rakyat membangkang pada hari ini.

1. Pembangkangan motif politik,

2. Pembangkangan motif ekonomi,

3. Pembangkangan motif keyakinan agama.

Pembangkangan Politik

Seperti yang diperlihatkan oleh PA 212, mereka menolak anjuran konsentrasi massa. Seperti telah kita ketahui sebelumnya massa PA 212 adalah kelompok yang oposisi terhadap penguasa, sejak pilpres yang lalu. Maka di saat penguasa banyak membuat kebijakan yang tak populis, ini ibarat bahan bakar bagi mesin protes mereka.

Pembangkangan Ekonomi

Pembangkangan jenis ini celakanya banyak dilakukan oleh golongan rakyat ekonomi lemah. Jelas mereka keberatan memenuhi anjuran agar diam di rumah. Mengandalkan nafkah harian skala kecil pasti akan risiko besar jika sehari tak usaha. Maka mereka terpaksa membangkang.

Pembangkangan Iman

Ada segolongan masyarakat, karena keyakinannya, menolak anjuran tak melaksanakan ibadah skala massal. Mereka yakin bahwa urusan wabah adalah urusan Tuhannya. Biarkan Tuhan yang menyelesaikan dan menentukan perkara ini. Kecelakaan dan keselamatan ada di kuasa Tuhan. Manusia tak kuasa menolaknya.

Ada satu lagi, saya sebut pembangkangan sosial. Orang-orang kota yang biasa kumpul, malam hari biasanya, untuk ketemu kolega, ngobrol ngalor ngidul sambil minum kopi di cafe, merasa keberatan jika kebiasaannya ini dilarang.

Aneh melihat pembangkangan ini, seolah-seolah mereka tak merasa adanya sebuah krisis yang ada di sekitarnya, dan mengancam nyawa mereka sendiri, kerabat, keluarganya.
Uniknya pembangkangan yang terjadi kali ini tak membuat takut pemerintah, yang ada pemerintah sekedar jengkel saja.

Wabah ini telah membuat super repot pemerintah. Pemerintah dituntut harus hadir dan mengurus soal ini, bahkan harus keluar duit banyak. Rakyat minta diurus tapi rakyatnya membangkang?

*Penulis adalah penasihat spiritual di Kubah Budaya.