Pak Guru Surya
Cerpen : Qizink La Aziva
Hujan baru saja reda ketika Surya, guru berusia dua puluh delapan tahun itu melangkah menuju ruang kelas dengan tas ransel penuh beban. Tas yang lebih menyerupai kantong kenangan ketimbang wadah buku. Tas itu pula yang setia menemani dirinya saat masih kuliah dan menjadi aktivis.
Masa kerjanya baru sekitar tujuh bulan, setelah Juli lalu dirinya dinyatakan lolos seleksi guru kontrak. Langkah kaki Surya selalu tergesa serupa rumor tentang idealismenya yang menyebar cepat di lingkungan sekolah. Para guru senior menyebutnya “terlalu bersemangat”, sementara sebagian siswa memanggilnya “Pak Surya yang bisa bikin pelajaran hidup”.
Surya mengajar Pendidikan Pancasila, mata pelajaran yang oleh sebagian besar murid dianggap tempat bernaung ketika lelah menghadapi deretan rumus dan angka-angka. Namun di tangan Surya, mata pelajaran ini berubah menjadi lebih hidup dengan deretan pertanyaan siswa. Pertanyaan-pertanyaan itu, seperti benih liar, tumbuh tanpa takut pada musim. Pak Surya selalu gembira ketika para murid berebut bertanya. Baginya, pertanyaan adalah penanda bahwa siswanya tahu fungsi otak.
Pak Surya tiba di ruang kelas tepat ketika bel masuk berbunyi. Semua siswa sudah hafal, Pak Surya merupakan satu-satunya guru paling disiplin dalam waktu di sekolah. Guru bertubuh kurus tinggi dengan kaca mata minus itu tak pernah ingkar jadwal.
Surya mengambil spidol dari ransel biru laut miliknya lalu menuliskan satu kata besar di papan tulis: KORUPSI.
Seperti biasanya, ruang kelas berubah gaduh setelah Surya menulis. Beberapa siswa meluncurkan pertanyaan bahkan sekadar celetukan.
“Kenapa sih korupor gak dihukum mati?” Rahman yang bercita-cita jadi hakim mengajukan pertanyaan.
“Soalnya yang ngasih hukumannya juga ikut korupsi!” Dewi, siswi yang tahun lalu juara pertama lomba pidato tingkat provinsi menyahuti.
“Korupsi massal dong!” balas Rahman.
“Korupsi berjamaah. Biar di nerakanya gak sendirian!” kali ini Bahtiar Rifai, siswa yang duduk di kursi kedua paling kanan buka suara.
“Beuh kayak kamunya bakal masuk surga aja! Yang suka nguntit bakwan di kantin juga bakal nemenin koruptor di neraka!” Dewi kembali bersemangat menyampaikan pendapat.
“Eits! Nggak dong! Kan saya punya orang dalem di surga!” Bahtiar membalas asal ceplos.
Surya membiarkan anak didiknya terus bersuara. Sesekali ini ikut memberikan tanggapan atau membalas pertanyaan siswa.
“Anak-anak,” kata Surya sambil menatap satu per satu muridnya, “korupsi bukan hanya soal uang. Ia adalah soal memilih diam atau bersuara ketika kita tahu ada yang salah.”
Murid-murid kelas XI IPS 2 tiba-tiba sunyi seperti ruang perpustakaan. Lalu Surya bercerita—tentang guru di kampung yang harus berjalan lima kilometer ke sekolah, tentang pasien yang telantar di rumah sakit, tentang siswa yang belajar di ruang kelas rusak, tentang anak yang bunuh diri karena tak mampu beli buku dan pensil. “Semua itu terjadi karena anggaran untuk bangun jalan, fasilitas kesehatan, dan pendidikan dikorupsi,” ujar Surya.
Ruang kelas yang semula gaduh kini berubah hening. Sekitar tiga menit lagi jam pelajaran berakhir. “Apa yang akan kalian lakukan ketika menemukan perilaku korup?” ucap Surya perlahan lalu memberi jeda bagi siswanya memberi jawaban.
“Laporkan ke aparat,” Dewi cepat menjawab.
“Sumpahin sengsara tujuh turunan,” Bahtiar tak kalah memberi suara.
“Gebukin aja lah!” Rizki yang biasanya lebih banyak diam kali ini ikut berpendapat. Siswa bertubuh bongsor itu tampak geram.
“Jangan tunduk! Karena ketundukan itu bisa berubah jadi warisan,” ujar Surya tepat dengan suara bel istirahat berbunyi.
Tidak ada yang menyangka, terutama Surya sendiri, bahwa kalimat itu akan berubah menjadi bara.
(*)
Selang empat hari kemudian, bisik-bisik muncul di koridor: ada dugaan kepala sekolah, Pak Hardiman, menggelapkan dana BOS dan memanipulasi laporan pembangunan perpustakaan yang tak pernah selesai. Awalnya hanya gumaman murid ketika menunggu bel pulang; gumaman itu kemudian menjadi keluhan; dan keluhan tumbuh menjadi tekad.
Suatu sore, beberapa siswa mendatangi Surya di ruang guru. Wajah mereka tegang, tapi matanya menyala seperti lampu yang mengetahui untuk apa ia diciptakan.
“Pak,” ujar Azzam, ketua kelas, “kalau benar ada korupsi di sekolah, kita harus apa?”
Surya terdiam. Kalimat itu nyaris serupa dengan yang ia tanyakan di kelas beberapa waktu lalu. Ia sadar bicara di kelas berbeda dengan kenyataan yang tiba-tiba berdiri di hadapannya. Ia menatap jendela: halaman sekolah tampak damai, tapi ia tahu kedamaian sering kali hanya topeng bagi mereka yang tak ingin diganggu.
“Aku tidak bisa menyuruh kalian melakukan apa pun,” katanya pelan. “Tapi kalau kalian mencari kebenaran… pastikan langkah kalian tidak dibangun atas amarah.”
Namun anak-anak itu sudah memiliki keberanian yang tak lagi menunggu izin. Jawaban itu sudah cukup bagi mereka untuk memilih langkah selanjutnya.
(*)
Senin pagi, upacara bendera berubah menjadi aksi siswa. Halaman sekolah berubah menjadi lautan seragam putih abu-abu yang mengangkat karton bertuliskan: Usut Dana Perpustakaan! Transparansi atau Mundur! Kami Berhak Sekolah Jujur!
Terik matahari seperti tersipu melihat keberanian yang tak pernah diundang itu. Para siswa sudah mengambil langkah untuk menyikapi dugaan penggelapan dana pembangunan perpustakaan sekolah. Hari itu para siswa sudah bersepakat melakukan protes terhadap pembangunan fasilitas sekolah yang tak kunjung selesai. Para siswa telah berbagi tugas ; ada yang mengumpulkan data anggaran sekolah, mencari informasi, hingga meminta dukungan dari para alumni dan beberapa wali murid dan guru.
Surya berdiri di tepi halaman, dadanya sesak. Ia tidak memimpin aksi itu, tapi siswa-siswa melihat Surya sebagai cahaya pertama yang menuntun. Polisi tidak datang, namun beberapa pejabat dinas turun tangan. Mereka melihat demo sebagai ancaman, bukan seruan keadilan.
Di ruang kepala sekolah, Surya dipanggil. Hardiman duduk dengan wajah dingin, ditemani tiga pegawai dari dinas. Ada ketegangan yang bisa memotong napas.
“Pak Surya,” ujar Raden Audindra, salah satu pegawai dinas dengan jabatan kepala bidang, “kami menilai Anda telah menanamkan paham yang memprovokasi siswa hingga melakukan demonstrasi. Ini mencoreng nama sekolah, nama dinas, bahkan nama baik pemerintah.”
“Yang saya tanam hanya keberanian untuk jujur,” jawab Surya tegas, seperti dulu ketika dirinya masih jadi aktivis di Ibukota.
“Dan itulah masalahnya! Anak-anak menjadi kurang ajar! Berani melawan!”
Sebuah amplop putih disodorkan. Surya tidak perlu membukanya untuk tahu isinya: surat pemutusan kontrak.
Petang itu, Surya berjalan keluar dari gerbang sekolah untuk terakhir kalinya. Hujan turun rintik-rintik, seolah langit sedang menahan sesuatu yang lebih deras. Dari kejauhan, beberapa muridnya berdiri diam, menatapnya dengan wajah berat.
“Pak… kami tidak menyesal,” kata Azzam, mendekat. “Kalau Bapak pergi karena kami, itu bukan kegagalan Bapak. Itu bukti bahwa pelajaran Bapak berhasil.”
Surya tersenyum, tipis, nyaris patah. “Jaga suara kalian. Jangan matikan apa yang sudah kalian nyalakan hari ini.”
Ia melangkah pergi, membiarkan gerbang tertutup di belakangnya. Tidak ada upacara perpisahan, tidak ada ucapan terima kasih. Hanya langkah seorang guru muda yang pernah mencoba menanam kejujuran di tanah yang belum tentu mau menumbuhkannya.
Tapi Surya tahu satu hal: musim selalu berganti. Meski ia diusir dari sekolah itu, benih yang ia tanam kini telah tumbuh. Dan ia berjanji akan tetap memberi benih itu cahaya agar menjadi pohon yang kokoh. (*)
