PANDEGLANG – Di tengah anggapan bahwa lahan marginal sulit dimanfaatkan, seorang pemuda asal Kampung Curuggaru, Desa Kadugemblo, Kecamatan Kaduhejo, Kabupaten Pandeglang, justru berhasil mengubahnya menjadi sumber penghasilan.
Lewat budidaya bunga telang, Muhammad Teguh Arrosid tak hanya membangun usaha, tetapi juga mengajak warga sekitar ikut merasakan manfaat ekonominya.
Setiap hari, Teguh menghabiskan waktunya merawat ratusan tanaman bunga telang yang tumbuh di pekarangan rumah hingga pematang sawah. Baginya, lahan yang selama ini dianggap kurang produktif justru menyimpan potensi besar jika dikelola dengan tepat.
Perjalanan budidaya bunga telang dimulai sejak 2020. Selama empat tahun pertama, Teguh mengembangkan usaha tersebut secara mandiri. Seiring meningkatnya permintaan pasar, ia mulai melibatkan masyarakat, khususnya para istri anggota Kelompok Tani Kadugemblo 3, untuk menanam bunga telang di pekarangan rumah masing-masing.
“Awalnya saya secara mandiri selama empat tahun. Nah, dua tahun terakhir saya berkolaborasi dengan masyarakat tani, terutama istri-istri anggota Kelompok Tani Kadugemblo 3. Mereka menanam bunga telang di pekarangan rumah dan lahan marginal seperti pematang sawah,” ungkap Teguh, Minggu (2/8/2026).
Menurut Teguh, pematang sawah yang tidak bisa ditanami komoditas utama ternyata sangat cocok untuk budidaya bunga telang. Dari konsep tersebut, ia membangun klaster budidaya agar panen dapat dilakukan setiap hari sehingga warga memperoleh penghasilan secara rutin.
Setiap harinya, kelompok budidaya mampu memanen sekitar 6 hingga 10 kilogram bunga telang segar. Seluruh hasil panen kemudian dikeringkan menggunakan chamber dehydration, alat pengering yang dikembangkan secara mandiri untuk menjaga kualitas produk.
“Dalam sehari kami menghasilkan sekitar 6 sampai 10 kilogram bunga telang segar. Setelah dikeringkan, hasilnya diolah menjadi berbagai produk. Ibu-ibu punya penghasilan harian, sementara bapak-bapaknya tetap bertani padi. Jadi ada tambahan pendapatan dari bunga telang,” katanya.
Produksi bunga telang kini tidak hanya berasal dari Desa Kadugemblo. Warga dari desa tetangga juga ikut menyuplai bunga telang segar ke Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya Bumi Teduh (P4S) Bumi Teduh yang menjadi pusat pengolahan hasil panen.
“Kami sudah bekerja sama dengan desa tetangga. Mereka setiap hari menyetor bunga telang segar ke lokasi kami untuk diproses,” ucapnya.
Bunga telang yang telah dikeringkan kemudian diolah menjadi berbagai produk bernilai jual, mulai dari bunga telang seduh, teh celup, minuman siap saji, jamu hingga sirup. Harga produknya berkisar Rp7 ribu hingga Rp17 ribu per kemasan.
Dari usaha tersebut, Teguh mengaku mampu meraih omzet sekitar Rp7 juta hingga Rp10 juta setiap bulan. Menurutnya, potensi pasar bunga telang masih sangat terbuka karena semakin banyak masyarakat yang mencari produk herbal alami.
Selain memiliki nilai ekonomi, bunga telang juga dikenal kaya akan kandungan antosianin dan antioksidan. Tanaman ini dipercaya bermanfaat untuk membantu menjaga kesehatan mata, mengontrol gula darah, menjaga kesehatan jantung, hingga membantu mengurangi stres dan meningkatkan kualitas tidur.
“Bunga telang mengandung antioksidan tinggi. Khasiatnya banyak, mulai dari membantu mengontrol gula darah, menjaga kesehatan mata dan jantung, hingga membantu mengatasi insomnia,” tuturnya.
Penulis : Mg-Madani Prasetia
Editor: Usman
