Beranda Peristiwa Cerita Nelayan Desa Teluk yang Selamat dari Tsunami Mematikan

Cerita Nelayan Desa Teluk yang Selamat dari Tsunami Mematikan

Daerah terdampak tsunami Selat Sunda di Kecamatan Sumur, Pandeglang. (Wahyu/bantennews)

Cerita Nelayan yang Selamat dari Tsunami Selat Sunda

Laporan: Wahyu Arya

Raut wajah Gendon tampak lesu. Namun pria berdarah Brebes, Jawa Tengah itu masih bisa tersenyum, meski terasa pahit. Matanya seperti menyimpan peristiwa memilukan Sabtu malam itu ketika bertemu BantenNews.co.id di Posko Bencana Tsunami yang menempati Radio Krakatau, Labuan, Pandeglang, Banten.





Ketika tsunami menghantam gubuk rumahnya, ia memilih untuk tidak melaut karena angin barat tidak bersahabat. Ikan-ikan seringkali tak mampir ke jaringnya. Sementara ia harus pulang dengan tangan hampa dan harus menambah panjang daftar utang biaya solar dan rokok untuk melaut.

Sambil menggendong putrinya yang masih kecil, Gendon bercerita, bahwa malam itu nelayan Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten masih sibuk beraktivitas di atas perahu yang tersandar di sungai yang menghadap muara. Ada yang menganyam jala, menambal perahu, sebagian lain meperbaiki kerusakan mesin.

“Seperti malam biasanya, selalu ramai. Ada saja yang dikerjakan,” kata Gendon.

Dalam suasana tenang perkampungan nelayan tersebut, tsunami yang senyap menerjang kampung yang dihuni lebih dari 300 orang nelayan tersebut. Tidak ada sirine peringatan, tidak ada gempa memberi aba-aba, tiba-tiba saja perkampungan itu porak poranda.

Gendon yang berada di dalam rumah panik menyelamatkan diri beserta keluarganya. Meski tsunami merendam rumah, ia selamat. Namun lebih dari 30 nelayan yang berada di muara tewas seketika. Beberapa orang belum ditemukan. Ratusan perahu yang tengah sandar di dermaga rusak diterjang tsunami, termasuk perahu yang semala ini ia gunakan untuk melaut.

“Belum bisa melaut lagi. Selain kondisi yang tidak memungkinkan seperti ini, perahu saya juga rusak,” kata dia.

Saat ini, ia hanya bisa pasrah. Gendon hanya berharap cuaca kembali normal dan perahu bisa diperbaiki. Sebab, ia masih terlilit utang pinjaman kepada bank dan majikan. “Terutama perbaikan perahu yang saya pikirkan. Kalau bukan dari melaut, mau kasih makan keluarga dari mana,” tuturnya.

Tari, nelayan lain asal Lontar, Tirtayasa, Serang, Banten mengaku datang ke Labuan untuk mengunjungi sang kakak di Desa Teluk, Labuan, Pandeglang, Banten. Malam terjadinya tsunami, ia berada di rumah kakaknya. “Saya lagi di rumah kakak. Nggak nyangka kalau ada air besar,” ujarnya.

Malam itu, ia tengah bercengkrama di rumah sang kakak sebelum tsunami datang menerjang perkampungan nelayan. Ia sempat menyaksikan bagaimana perahu-perahu yang tengah bersandar di pelabuhan pecah-remuk terdorong air yang dahsyat.

“Perahu-perahu seperti dibuat satu, tabrakan dan pecah,” ujarnya.

Salah seroang rekan nelayan di tempat itu masih hilang. Tari berharap bisa segera menemukannya meski enggan melihat kembali perkampungan nelayan yang porak-poranda itu.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dampak tsunami Selat Sunda disampaikan Kepala Pusat Data dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Selasa (25/12/2018) menyebutkan ada 429 orang meninggal dunia, 1.485 luka-luka, 154 orang hilang 16.082 orang mengungsi.

Sementara tsunami juga merusak 882 unit rumah, 73 penginapan, 60 warung, 434 perahu dan kapal, 24 kendaraan roda empat, 41 kendaraan roda dua, 1 dermaga, dan 1 shelter. (You/red)