Beranda Pendidikan Cegah Covid-19, Pondok Pesantren di Cilegon Ini Terapkan 3M

Cegah Covid-19, Pondok Pesantren di Cilegon Ini Terapkan 3M

796
0
Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Huda As-Shofwani Cibeber, Kota Cilegon

CILEGON – Walikota Cilegon, Edi Ariadi pada tanggal 9 Oktober lalu menetapkan perubahan peraturan Walikota Cilegon Nomor 43 Tahun 2020 tentang pembatasan kegiatan dalam rangka pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Ia menyatakan bahwa Kota Cilegon berganti statusnya dari zona merah menjadi zona oranye.

Menanggapi hal itu, Abdul Rofiq Al-Khudori Lurah Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Huda As-Shofwani Cibeber mengaku cukup senang. Artinya ada perubahan yang baik. Meski begitu, menurutnya warga atau khususnya santri mesti tetap waspada.

“Pandemi ini memang cukup besar memberi pengaruh pada sistem pembelajaran di pesantren. Tapi kami tak ingin menganggapnya sebagai gangguan, karena kalau kita mengatakan demikian seakan-akan kita tidak menerima takdir yang Allah berikan,” terangnya, Minggu (18/10/2020).



Lulusan UIN SMH Banten jurusan Hukum Keluarga Islam ini juga mengatakan kalau pembelajaran di pesantren jadi kurang maksimal dan beberapa orangtua santri merasa khawatir sehingga meminta anak-anaknya untuk pulang.

“Kita kudu tetap percaya bahwa dibalik semua ujian ini pasti ada hikmahnya. Sebaiknya kita senantiasa meminta perlindungan dari Allah SWT,” katanya optimis.

Pandemi Covid-19 ini sejak awal kemunculannya hingga kini sudah kurang lebih 8 bulan berada di Indonesia. Pemerintah pun tak bosan-bosannya mengimbau masyarakat untuk patuh pada protokol kesehatan.

Sama halnya dengan yang disampaikan Rofiq, memang harus sabar sewaktu mengingatkan santri ketika tidak menerapkan 3M yakni Mencuci tangan, Memakai Masker dan Menjaga Jarak.

“Kami di pesantren memang sudah menyediakan perangkat protokol kesehatan itu. Cuma ya namanya santri, ada saja alasannya. Lupalah, ketinggalanlah, atau hilang maskernya. Tapi, kita kudu sabar untuk mengingatkan mereka,” jelasnya diselingi tawa.

Katanya, kalau pemerintah punya aturan 3M, dia juga menerapkan 3M. “Saya juga punya 3M, yaitu mengingatkan, menasihati, dan memarahi kalau santri di sini masih bandel juga,” ucap pria 27 tahun yang aktif mengunggah konten bertema kehidupan santri di akun youtube-nya itu.

Ia juga mengatakan penerapan 3M yang dicanangkan pemerintah dan WHO ini cukup efektif. Selain mencegah penyebaran virus Covid-19, kita juga mengamalkan spirit yang sudah jauh-jauh hari sering dianjurkan dalam agama Islam.

“Sejak dulu juga menjaga kesehatan itu penting. An-nadhofatu minal iman, menurut pepatah begitu. Dengan adanya virus ini kita jadi sadar betapa pentingnya menjaga kesehatan yang bahkan dalam Islam dianggap sebagian dari iman,” jelas guru agama di Madrasah Tsanawiyah Al-Jauharotunnaqiyyah Cibeber ini.

Sewaktu ditanya apa harapannya, ia ingin agar masyarakat lebih meningkatkan kesadarannya karena kalau kita tak peduli, yang rugi bukan diri kita sendiri saja tapi juga membahayakan kesehatan orang lain.

“Semoga kita nggak egois dan mau sama-sama berikhtiar dan bertawakal agar virus yang mewabah seluruh dunia ini lekas hilang,” tutupnya penuh harap.

(AU/Red/SG)