Beranda Ramadan Cara Membuat Anak Semangat Bangun dan Makan Sahur

Cara Membuat Anak Semangat Bangun dan Makan Sahur

Ilustrasi anak-anak sahur. (Ist)

SUASANA rumah masih gelap. Alarm berbunyi pelan, dapur mulai beraroma masakan hangat, tetapi satu “misi besar” belum berhasil: membangunkan si kecil untuk sahur. Tangisan kecil, wajah cemberut, atau permintaan “lima menit lagi” sering menjadi bagian dari cerita Ramadan di banyak keluarga.

Padahal, sahur memegang peranan penting agar anak tetap kuat dan fokus selama berpuasa. Energi yang cukup saat sahur membantu mereka tetap aktif belajar, bermain, dan beribadah tanpa mudah lemas. Lalu, bagaimana caranya agar sahur tak lagi menjadi drama tahunan?

Kuncinya ada pada kebiasaan, suasana, dan pendekatan yang penuh empati.

Langkah pertama dimulai sejak malam hari. Anak yang tidur terlalu larut tentu akan sulit dibangunkan. Biasakan waktu tidur lebih awal selama Ramadan dan kurangi penggunaan gawai sebelum tidur. Cahaya layar membuat tubuh sulit rileks. Sebagai gantinya, ciptakan rutinitas menenangkan seperti membaca buku cerita singkat, berbincang ringan tentang kegiatan esok hari, atau doa bersama. Ketika tubuh cukup istirahat, bangun sahur akan terasa lebih ringan.

Saat waktunya tiba, bangunkan anak dengan cara yang lembut. Hindari nada tinggi atau tergesa-gesa. Sentuhan pelan di bahu, usapan di kepala, atau panggilan dengan suara hangat jauh lebih efektif daripada bentakan. Beberapa orang tua bahkan memutar lagu religi favorit atau menyalakan lampu secara perlahan agar anak tidak “kaget” oleh perubahan suasana.

Hal berikutnya yang tak kalah penting adalah menu sahur. Anak-anak lebih mudah bersemangat jika tahu ada makanan yang mereka sukai. Namun tentu saja tetap harus bergizi. Karbohidrat seperti nasi atau roti gandum memberi energi utama, protein dari telur, ayam, atau tahu membantu daya tahan tubuh, sementara sayur dan buah menyuplai vitamin serta serat. Sajikan dalam porsi kecil terlebih dahulu agar anak tidak merasa terlalu kenyang atau mual karena masih mengantuk. Tampilan juga berpengaruh—omelet berbentuk hati atau nasi dengan hiasan sederhana bisa membuat anak tersenyum sebelum suapan pertama.

Baca Juga :  Cegah Malas Sahur Puasa Ramadan: Tips agar Tetap Semangat Bangun Meski Ngantuk

Agar sahur terasa istimewa, libatkan anak dalam persiapannya. Sore hari sebelum berbuka atau menjelang tidur, ajak mereka memilih menu untuk esok hari. Biarkan mereka membantu hal kecil seperti menata sendok atau memilih buah. Keterlibatan ini membuat anak merasa dihargai dan memiliki peran dalam tradisi keluarga.

Yang paling penting, hindari paksaan. Setiap anak memiliki kemampuan berbeda dalam menjalani puasa, terutama jika masih belajar. Beri apresiasi ketika mereka berhasil bangun dan makan sahur tanpa rewel. Pujian tulus, pelukan hangat, atau sistem “bintang Ramadan” yang dikumpulkan hingga akhir bulan bisa menjadi motivasi yang menyenangkan.

Tim Redaksi