Beranda Pemerintahan Butuh Perhatian Pemerintah, Warga Kampung Cibarani Keluhkan Jalan Tanah Merah

Butuh Perhatian Pemerintah, Warga Kampung Cibarani Keluhkan Jalan Tanah Merah

Warga melintasi jalan tanah merah di Kampung Cibarani, Desa Cibarani, Kecamatan Cirinten, Kabupaten Lebak, Banten. (Foto: Istimewa)

LEBAK – Kondisi jalan di Kampung Cibarani, Desa Cibarani, Kecamatan Cirinten, Kabupaten Lebak, Banten, hingga kini masih memprihatinkan. Jalan yang hanya beralaskan tanah merah tersebut telah bertahun-tahun dikeluhkan warga karena sulit dilalui, terutama saat musim hujan.

Selain menghambat aktivitas sehari-hari, rusaknya jalan juga berdampak serius terhadap keselamatan warga. Bahkan, seorang warga dilaporkan terpaksa melahirkan di dalam mobil pikap saat hendak dibawa ke puskesmas akibat sulitnya akses jalan.

Risna, warga Kampung Cibarani, mengatakan kondisi jalan tersebut tidak pernah mengalami perbaikan berarti sejak lama.

“Sudah dari dulu seperti ini, tidak ada perubahan sama sekali. Kalau musim hujan sering terjadi kecelakaan, mobil tidak kuat menanjak lalu nyungsep ke pinggir jalan,” ujar Risna, Kamis (22/1/2026).

Menurutnya, kondisi paling mengkhawatirkan terjadi saat ada warga yang sakit atau hendak melahirkan, karena perjalanan menuju fasilitas kesehatan menjadi lebih lama dan berisiko.

“Kalau ada yang sakit atau mau melahirkan itu paling susah. Jalan rusak begini bikin perjalanan lama dan sangat berisiko,” katanya.

Risna berharap pemerintah segera melakukan perbaikan, mengingat jalan tersebut merupakan satu-satunya akses utama warga Kampung Cibarani.

“Pengennya jalan di sini seperti di tempat lain, bisa diaspal atau dicor. Jangan dibiarkan seperti ini terus,” ujarnya.

Sementara itu, Warsa, Staf Desa Cibarani, menjelaskan total panjang jalan di Kampung Cibarani mencapai sekitar 4,5 kilometer. Dari jumlah tersebut, sekitar 2 kilometer berada dalam kondisi rusak parah dan sulit dilalui kendaraan roda empat.

“Yang paling parah sekitar dua kilometer. Betul-betul susah dilewati, apalagi kendaraan roda empat,” kata Warsa.

Ia menyebutkan, sebagian ruas jalan memang telah diperbaiki melalui Dana Desa. Namun keterbatasan anggaran, ditambah adanya pemangkasan Dana Desa, membuat pemerintah desa tidak mampu melanjutkan perbaikan secara mandiri.

Baca Juga :  Komisi III DPRD Banten Nilai Program Pemutihan Pajak Belum Optimal

“Kondisi ini sudah sekitar dua tahun. Kalau musim hujan, kendaraan roda empat sama sekali tidak bisa lewat karena jalan licin oleh tanah,” jelasnya.

Warsa menambahkan, pemerintah desa telah berulang kali mengusulkan perbaikan jalan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), namun hingga kini belum ada realisasi.

“Dana Desa tidak cukup untuk menangani kerusakan sebesar ini. Harus ada bantuan dari pemerintah kabupaten, provinsi, bahkan pusat,” tegasnya.

Penulis: Sandi Sudrajat
Editor: Usman Temposo