Beranda Gaya Hidup Bukan Hanya Kecerdasan Intelegensi Saja, Dalam Bekerja Juga Butuh Kecerdasan Emosi

Bukan Hanya Kecerdasan Intelegensi Saja, Dalam Bekerja Juga Butuh Kecerdasan Emosi

301
0
Ilustrasi - foto istimewa IDN Times

Tes kecerdasan intelegensi (IQ) kerap kali digunakan sebagai prediktor untuk mengetahui kemampuan penalaran logis dan teknis, salah satu yang dijadikan indikator untuk menuju kesuksesan dalam dunia bisnis. Tetapi, kemampuan IQ saja tanpa dibarengi dengan kecerdasan emosi (EQ) tidak cukup memadai untuk mengembangkan keberhasilan perusahaan. Bisa dibilang IQ saja tidak menjamin bahwa orang dapat menonjol dan naik di atas orang lain.

Harvard Business Review menerangkan bahwa EQ adalah faktor penting yang memberi hasil luar biasa, sekaligus pembeda utama antara karyawan yang memiliki IQ dan keterampilan teknis yang hampir sama. Inilah alasan mengapa menjaga keseimbangan antara faktor IQ dan EQ dalam diri karyawan menjadi hal penting di dunia kerja saat ini. Apa saja alasan lainnya?

1. Sekitar 85% kesuksesan finansial disebabkan oleh faktor pembentuk EQ seperti kepribadian dan kemampuan komunikasi

Penelitian yang dilakukan oleh Carnegie Institute of Technology menunjukkan bahwa 85 persen kesuksesan finansial disebabkan oleh keterampilan dalam “rekayasa manusia”. Rekayasa yang dimaksud dalam hal ini adalah bagaimana karyawan dapat mengenali emosinya, memahami emosi orang lain, dan bersikap proaktif dalam setiap situasi yang dihadapi.

Selain itu, kepribadian dan kemampuan berkomunikasi, bernegosiasi, dan memimpin juga diperlukan. Salah satu hasil mengejutkan menyebutkan bahwa pengetahuan teknis hanya dibutuhkan 15 persen dari keseluruhan faktor penentu kesuksesan.

2. Menurut Daniel Kahneman, orang lebih suka berbisnis dengan mereka yang disukai dan dipercayai daripada yang tidak

Psikolog Israel-Amerika yang merupakan pemenang Hadiah Nobel bernama Daniel Kahneman menemukan bahwa orang lebih suka berbisnis dengan mereka yang disukai dan percayai daripada yang tidak. Bahkan ketika orang yang disukai tersebut menawarkan produk atau layanan berkualitas rendah dengan harga yang lebih tinggi.

Tentu saja untuk membuat orang mudah disukai atau dipercaya orang lain butuh kemampuan komunikasi dan persuasif yang tinggi. Hal ini tidak bisa didapat tanpa memiliki EQ yang mencukupi.

3. EQ memang bukan sesuatu yang mudah diukur, namun signifikasinya bisa jadi lebih besar daripada IQ

EQ bukanlah sesuatu yang bisa mudah diukur seperti IQ, namun kemampuan EQ seseorang bisa jadi dapat memberi dampak yang lebih signifikan dalam kariernya di dunia bisnis atau tempat dia bekerja. Hal ini selaras dengan hasil studi tahun 2015 oleh TalentSmart yang menemukan bahwa EQ adalah prediktor terkuat dari kinerja pekerjaan yang menyumbang 58 persen dari kesuksesan semua bidang.

4. Kemampuan mengendalikan emosi barangkali hanya pelengkap kesuksesan, tapi EQ lebih menarik untuk dibahas daripada IQ

Hal ini tampak ketika orang selalu ingin tahu tentang dirinya (kecerdasan intrapersonal), bagaimana bisa mengenali orang lain dengan objektif (kemampuan interpersonal), dan bagaimana mengatur perasaan dalam diri dan orang lain, serta menggunakan emosi yang tepat sesuai dengan situasi. EQ juga cukup berperan dalam membangun hubungan, memberi motivasi baik pada diri sendiri maupun orang lain.

5. Kecerdasan emosi yang dimiliki karyawan mampu mengendalikan hal-hal penting di tempat kerja

Setiap lini kehidupan sepertinya menghubungkan seseorang dengan dunia bisnis. Kenyataan di lapangan menyebutkan bahwa bisnis tergantung pada bagaimana karyawan mampu melakukan negosiasi, kompromi, dan kolaborasi. Inilah yang membuat kecerdasan emosi tidak dapat diabaikan di lingkungan kerja.

EQ dapat membuat seseorang mengambil keputusan secara tepat dengan klien sehingga menghasilkan profit yang lebih menguntungkan. Disamping itu, kondisi emosi seseorang sangat mempengaruhi bagaimana mereka dapat membangun komunikasi baik dengan kolega.

6. Lalu, faktor apa saja yang dapat melejitkan kemampuan EQ hingga dapat memunculkan seluruh potensi di tempat kerja?

Jujur terhadap kemampuan diri baik itu kelebihan dan kekurangan, memberi perhatian terhadap hubungan rekan kerja dengan penuh kesabaran dan empati, serta mengembangkan soft skills lain dapat dilakukan untuk meningkatkan EQ. Selain itu, mengeliminasi emosi negatif juga penting karena manusia tidak mungkin terlepas dari emosi ini.

Untuk dapat mengenali dan mengambil respon yang tepat terhadap orang lain, kemampuan mengevaluasi secara objektif juga dibutuhkan. Apalagi kalau bisa terus membiasakan diri bersikap proaktif ketimbang reaktif, itu jadi poin plus tersendiri dalam usaha meningkatkan EQ di tempat kerja.

Sampai di sini, kecerdasan emosi karyawan ternyata cukup berperan penting di tempat kerja. Bagaimana kalau menurut kamu? (Red)

Sumber : IDN Times