PANDEGLANG – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pandeglang mengungkap sejumlah faktor yang membuat Kabupaten Pandeglang masih menjadi daerah dengan persentase penduduk miskin tertinggi di Provinsi Banten.
Meski angka kemiskinan mengalami penurunan pada 2025, persoalan pengangguran, rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM), hingga lemahnya penyerapan tenaga kerja dinilai masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Kepala BPS Kabupaten Pandeglang, Achmad Widijanto, mengatakan tingkat kemiskinan di Pandeglang pada Maret 2025 tercatat sebesar 8,51 persen, turun dibandingkan Maret 2024 yang mencapai 9,18 persen. Persentase tersebut setara dengan sekitar 105,35 ribu penduduk yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.
“Kalau dibandingkan kabupaten dan kota lain di Provinsi Banten, berdasarkan persentase, Pandeglang masih berada di urutan pertama dengan angka 8,51 persen,” ungkap Achmad di ruang kerjanya, Kamis (2/7/2026).
Ia menjelaskan, angka kemiskinan yang dirilis BPS merupakan kemiskinan makro yang dihitung setiap tahun melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menggunakan pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach). Data tersebut menjadi acuan pemerintah dalam menyusun kebijakan pengentasan kemiskinan.
Menurut Achmad, meski masih tertinggi di Banten, tingkat kedalaman kemiskinan di Pandeglang tidak tergolong tinggi. Hal itu tercermin dari Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) yang berada di angka 0,99.
“Artinya penduduk miskin di Pandeglang rata-rata tidak terlalu jauh dari garis kemiskinan sehingga peluang untuk diintervensi melalui berbagai program pemerintah masih cukup besar,” jelasnya.
Achmad menilai kemiskinan di Pandeglang merupakan persoalan yang kompleks sehingga tidak bisa diselesaikan oleh satu organisasi perangkat daerah (OPD) saja. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat penurunan angka kemiskinan.
Salah satu langkah yang dinilai penting adalah menciptakan iklim investasi yang kondusif agar semakin banyak investor masuk ke Pandeglang dan membuka lapangan kerja baru.
“Kalau investasi masuk, penyerapan tenaga kerja juga akan meningkat sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” kata Achmad. (Mg-Madani Prasetia)
Penulis : Moch Madani Prasetia
Editor : TB Ahmad Fauzi
