
SERANG– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten mengakui masih ada kemungkinan sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan belum terdata. Warga di sejumlah titik diduga belum melaporkan kondisi kekurangan air kepada aparat desa sehingga informasi tersebut tidak sampai ke BPBD.
Kepala Pelaksana BPBD Banten Lutfi Mujahidin mengatakan pendataan kekeringan saat ini masih mengandalkan laporan dari pemerintah daerah hingga tingkat desa dan kampung. Karena itu, wilayah yang tidak melaporkan kondisi kekeringannya berpotensi luput dari pemantauan.
“Saya yakin ada satu dua titik yang tidak terdeteksi mereka juga tidak melaporkan ke kita,” kata Lutfi, Rabu (12/8/2026).
Menurut dia, warga di wilayah terdampak itu kemungkinan tidak melapor kepada aparat desa. Di sisi lain, aparat desa yang menerima informasi tersebut juga belum tentu meneruskannya kepada BPBD.
“Mereka juga tidak lapor aparat desanya dan aparat desanya tidak lapor ke sini,” ujarnya.
BPBD Banten saat ini mencatat kekeringan telah terjadi di 55 kecamatan yang mencakup 164 desa atau kelurahan serta 287 lingkungan. Wilayah-wilayah tersebut diklaim telah mendapatkan penanganan berupa distribusi air bersih.
Namun, Lutfi mengatakan angka tersebut belum tentu menggambarkan seluruh wilayah yang mengalami kekurangan air. BPBD masih menunggu laporan dari petugas di lapangan untuk menemukan titik-titik yang belum masuk dalam pendataan.
“Kami masih tunggu (informasi) dari pasukan kami di lapangan,” kata dia.
Penanganan kekeringan sejauh ini, kata Lutfi dilakukan melalui kolaborasi berbagai unsur. TNI, Polri, Pramuka, BPBD kabupaten dan kota, Baznas, PMI, hingga masyarakat turut mendistribusikan air bersih sesuai wilayah yang menjadi tanggung jawab mereka.
Distribusi air harus dilakukan berulang karena satu tangki air hanya mampu memenuhi kebutuhan minum warga selama sekitar empat hari. Setelah itu, pasokan harus kembali dikirim ke titik yang sama.
“Karena setiap titik itu setiap empat hari sekali harus ditreatment karena satu tangki itu hanya bertahan empat hari saja untuk minum jadi empat hari sekali kita supply ke situ,” ujar Lutfi.
BPBD Banten belum dapat memastikan total volume air yang telah didistribusikan maupun jumlah kepala keluarga yang telah menerima bantuan. Laporan dari pemerintah kabupaten dan kota yang diterima BPBD provinsi masih berupa jumlah titik terdampak.
“Total liternya kami belum bisa menyampaikan karena laporan dari kabupaten masih sebatas titik jadi KK-nya pun kami belum mendeteksi,” kata Lutfi.
Data lebih rinci, kata dia, tersedia di Pusat Data dan Operasi BPBD dalam bentuk lembar kerja. Adapun pada tingkat provinsi, BPBD baru melakukan pendataan berdasarkan kecamatan, desa, dan kampung.
Dari sisi status bencana, baru Kabupaten Pandeglang dan Lebak yang telah menetapkan status siaga kekeringan. Status siaga di Lebak telah berakhir setelah ditetapkan selama 15 hari. Pemerintah Kabupaten Lebak katanya hari ini kembali menggelar rapat koordinasi untuk membahas kondisi kekeringan dan kemungkinan memperpanjang status tersebut.
Pemerintah Provinsi Banten belum menetapkan status siaga darurat. Menurut Lutfi, salah satu indikator untuk menaikkan status ke tingkat provinsi adalah adanya sedikitnya dua kabupaten yang lebih dulu menetapkan status siaga darurat.
“Provinsi belum menetapkan siaga karena di beberapa kabupaten salah satu syaratnya dua kabupaten itu harus menetapkan status siaga darurat baru kita naik ke provinsi ke level siaga darurat,” kata dia.
Selama pemerintah kabupaten dan kota masih mampu menangani kekeringan dengan sumber daya operasional yang tersedia, status siaga darurat belum diperlukan. Jika kemampuan daerah tidak lagi mencukupi, pemerintah daerah dapat menaikkan status sehingga bisa memanfaatkan dana Belanja Tidak Terduga (BTT).
“Artinya kalau belum menetapkan status itu belum sampai ke level pemanfaatan dana BTT masih bisa operasional,” ujar Lutfi.
BPBD berharap hujan segera turun untuk mengakhiri ketergantungan warga terhadap distribusi air bersih. Namun sebelum kondisi itu terjadi, petugas di lapangan masih dituntut menemukan titik-titik kekeringan yang belum terlaporkan agar bantuan dapat diberikan.
“Semoga tidak terlalu lama turun hujan jadi air bersihnya sudah mulai ada lagi,” kata Lutfi.
Penulis: Audindra Kusuma
Editor: TB Ahmad Fauzi