Beranda Nasional BMKG Sebut Indonesia Sedang Alami Fenomena Cuaca Ekstrem, Kok Bisa?

BMKG Sebut Indonesia Sedang Alami Fenomena Cuaca Ekstrem, Kok Bisa?

377
0
Gedung BMKG Serang. (Ade/bantennews)

JAKARTA – Sejak awal tahun pada 2020, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) selalu memantau perkembangan cuaca Indonesia yang cenderung dianggap masuk kategori cuaca ekstrem.

Berdasarkan data historis serta analisa klimatologis BMKG, sejak tahun 1866 hingga 2019, proyeksi atau perkembangan perubahan iklim menjadi penyebab utama cuaca ekstrem yang terjadi hingga awal tahun 2020 ini.

Meskipun proyeksi atau pemantauan perkembangan perubahan iklim telah dilakukan sejak 1866, tapi perubahan yang terjadi dalam bentuk cuaca ekstrem mulai terjadi sejak 1900-an.

“Ini bukan cuaca yang biasa saja, dari yang kami pantau adalah kondisi perkembangan cuaca ekstrem sejak tahun 1900-an sampai tahun 2020,” kata Dwikorita Karnawati M.Sc, selaku Kepala BMKG, Selasa (25/2/2020).

Dipaparkan Dwikorita, akumulasi curah hujan tertinggi awalnya terjadi di tahun 1918, dengan curah hujan per hari mencapai 125,2 mm per hari.

Kemudian, kondisi ekstrem pada tahun 1918 itu terjadi lagi pada tahun 1950.

Pada pengulangan terjadinya kondisi ektrem tersebut, BMKG memperhitungan selisih jumlah tahun kondisi terulang.

Dari tahun 1918 menuju tahun 1950, membutuhkan waktu 32 tahun lamanya sampai bisa terjadi kondisi cuaca ekstrem.

“Sejak tahun berikutnya setelah itu, semakin singkat selisih tahunnya, dan intensitasnya semakin meningkat, yang tadinya hanya 125,2 mm per hari sekarang bisa mencapai 377 mm dalam satu hari. Itu terjadi pada awal tahun baru 2020,” ujar Dwikorita.

Dia melanjutkan, ternyata kondisi kejadian fenomena cuaca dan iklim ekstrem menjadi semakin sering selama 30 tahun terakhir dengan intensitas yang semakin tinggi.

“Kondisi ektrem ini kejadiannya semakin sering sejak 30 tahun terakhir dan jangka tahunnya semakin memendek. Hari ini adalah sebagian dari fenomena (cuaca ekstrem) yang panjang tadi,” ungkap dia.

Proyeksi perkembangan perubahan iklim ini, kata dia, masih akan berlangsung hingga periode tahun 2040 mendatang.

“Hal yang sama juga diproyeksikan akan terjadi di masa yang akan datang, periode tahun 2020-2040,” kata dia.

Dari data yang telah dianalisis tersebut, menurut Dwikorita perlu adanya lompatan dalam upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Serta, perlu lebih ditingkatkan lagi koordinasi dan sinergitas antara stakeholder terkait dalam penanganan bencana banjir. (Red)

Sumber : kompas.com