Beranda Bisnis Berjuang Mencari Rezeki, Pedagang Serabi di Serang Ini Terapkan 3M

Berjuang Mencari Rezeki, Pedagang Serabi di Serang Ini Terapkan 3M

549
0
Ida, pedagang serabi di Kota Serang. (Foto: Afifah/Bantennews)

SERANG – Di tengah gempuran jajanan kekinian, tak mempengaruhi Ida, warga Kampung Kebaharan Dukuh, Kelurahan Lopang, Serang dalam mencari peruntungan.

Lebih dari 14 tahun, wanita paruh baya itu masih setia untuk menjual salah satu makanan tradisional, yakni kue serabi.

Ada enam tungku pencetak serabi berderet, dengan pemanas dari kayu bakar dicampur arang.



Ida menuang adonan berwarna putih satu sendok besar ke dalamnya lalu ditutup. Sekitar 1-1,5 menit saja, serabi sudah matang tanpa perlu dibolak-balikkan.

“Bahan adonannya hanya tepung beras sama parutan kelapa. Tapi pilihan rasanya ada gurih, manis, sama pedas. Sering juga pembeli itu bawa topping sendiri, kaya sosis, abon, keju. Soalnya ini kan bahan dasarnya tepung beras, jadi cocok disandingin sama apa saja,” kata Ida saat ditemui di lokasi dagangannya, Selasa (20/10/2020).

Meski bersaing dengan makanan kekinian dan jenis lainnya, Ida melihat panganan legendaris berbentuk bulat ini tak kehilangan pamor dan masih banyak peminatnya.

“Sekarang banyak orang yang jualan apa-apa itu ngeluh karena makin dikit penghasilannya. Tapi alhamdulillah jualan saya ini masih laku terus. Sehari bisa 100-400 biji kejual,” ujarnya.

Perempuan asal Indramayu ini bercerita, Serang telah menjadi kota peraduan nasibnya demi mengais pundi-pundi rezeki.

Sempat berpindah tempat jualan beberapa kali, sejak beberapa tahun kebelakang ia mantap menjajakan serabi olahannya di saung pinggir jalan, tepatnya di Kaujon, Kota Serang.

“Awal tertarik jualan karena keluarga pada berdagang. Sebelum saya, yang lebih dulu jualan serabi ini bibi saya. Harganya waktu itu masih Rp100 per biji. Baru setelahnya saya yang nerusin, sampe sekarang harganya udah jadi Rp2.000,” kata Ida.

Sambil menuangkan adonan serabi, Ida bercerita, meski dagangannya tak terlalu terdampak karena pandemi Covid-19, ia tetap menaruh kekhawatiran terhadap virus berbahaya itu.

Harus berjibaku menjadi pejuang hidup di tengah pandemi, tak menjadi halangan bagi Ida untuk tetap melangkahkan kaki tiap pukul empat pagi setiap harinya ke lokasi dagangannya.

Penerapan protokol 3M diakui Ida menjadi kunci pertahanan diri agar terhindar dari risiko penularan Covid-19.

“Iya khawatir pastinya, apalagi usia saya sudah tua dan kerja di luar tiap hari. Jadi dari awal (pandemi) udah sering pake masker sama sedia wadah biar sering cuci tangan juga,” katanya.

Menjaga jarak juga diakui Ida bukanlah sesuatu yang sulit dilakoni. Pasalnya ia berjualan sendiri dan tidak berdekatan dengan pedagang lain.

“Ini kan saya jualan rada jauh sama pedagang lain jadi bisa dibilang sudah jaga jarak. Orang-orang kalau beli juga pada buat dibawa pulang, karena tempat jualan saya terbatas. Jadi saya emang sendiri saja,” kata Ida. (Afifah/mg/Red/SG)