TANGSEL – Tim peneliti photovoice dari Universitas Islam Syekh-Yusuf (Unis) Tangerang berkolaborasi dengan Pewarta Foto Indonesia (PFI) dan KMF Kalacitra UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sukses menyelenggarakan kegiatan Workshop dan Diskusi Peningkatan Literasi Digital Melalui Photovoice. Kegiatan edukatif ini berlangsung di Pondok Tasawuf Underground, Ciputat, Tangerang Selatan, pada Sabtu (1/8/2026) hingga Minggu (2/8/2026).
Sebanyak 20 anggota komunitas punk dan anak jalanan dilibatkan sebagai peserta. Mereka dilatih untuk menciptakan karya fotografi dengan pendekatan jurnalistik, yang bertujuan sebagai sarana untuk menyuarakan keresahan serta menyampaikan kritik terhadap kondisi sosial di masyarakat.
Ketua Tim Peneliti Photovoice Unis Tangerang, Ade Irfan Abdurahman, menjelaskan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah membangun kesadaran para peserta mengenai realitas di sekitar mereka. Melalui pendekatan photovoice, komunitas ini diharapkan mampu menyuarakan isu-isu yang selama ini kerap diabaikan oleh berbagai pihak.
“Dalam photovoice, kami mengajak partisipan untuk membuat foto dan menyuarakan keresahan. Hasil akhirnya adalah perubahan individu dan perubahan sosial yang didorong melalui dialog serta advokasi sosial,” ungkap Ade.

Hal senada disampaikan oleh Thoudy Badai, pembicara dari PFI sekaligus fotografer Republika. Thoudy menekankan bahwa setiap orang memiliki potensi untuk menyampaikan berita melalui foto dan menjadikannya alat untuk membentuk citra sekaligus menyampaikan kritik. Para peserta juga dibekali pengetahuan dasar mengenai elemen teknis fotografi agar gambar yang dihasilkan memiliki makna yang jelas dan mudah dipahami publik.
“Setiap orang memiliki imajinasi visual yang dapat digunakan untuk menyampaikan keresahan dengan baik, asalkan karya foto tersebut menggunakan elemen visual yang kuat dan lengkap,” jelas Thoudy. Ia juga menambahkan, “Sebuah foto dapat memberikan bukti peristiwa dan mengubah kebijakan. Semoga setelah ini mereka dapat berpartisipasi dalam melakukan kontrol sosial juga”.
Selain sesi materi, para peserta juga diajak untuk mempraktikkan ilmu mereka melalui hunting foto bersama mahasiswa dari KMF Kalacitra UIN Jakarta dan Unis Tangerang. Objek bidikan mereka berfokus pada kehidupan sehari-hari yang dekat dengan realitas komunitas punk dan anak jalanan. Karya-karya foto ini nantinya akan dikurasi, diunggah ke media sosial, serta dipamerkan dalam waktu dekat.
Kegiatan ini mendapatkan apresiasi tinggi dari Pengasuh Pondok Tasawuf Underground, Halim Ambiya. Ia berharap keterampilan baru ini mampu meningkatkan kemandirian dan membuat para peserta semakin berdaya.
“Biasanya kami yang menjadi objek penelitian. Kali ini kami menjadi partisipan dan terlibat dalam pembuatan foto. Jadi ini terobosan yang sangat bagus dan memang kami butuhkan,” pungkas Halim.
Tim Redaksi
