Beranda Bisnis Begini Perjuangan Pelaku UMKM di Cilegon Selama Pandemi Covid-19

Begini Perjuangan Pelaku UMKM di Cilegon Selama Pandemi Covid-19

624
0
Pengrajin penganan Jejalon yang diproduksi di wilayah Linkungan Cibeber, Kota Cilegon.

CILEGON – Dampak pandemi Covid-19 rupanya bukan hanya dirasakan pada sektor tertentu saja. Hampir semua sektor merasakan dampak negatifnya. Salah satunya adalah sektor kuliner. Banyak yang pada akhirnya toko yang terpaksa tutup bahkan merumahkan pegawainya.

Namun meski begitu, rupanya disisi lain dampak pandemi ini berefek positif bagi salah satu pengusaha UMKM di Kota Cilegon. Akibat ruang gerak masyarakat dibatasi, akhirnya pesan makanan via online membludak, salah satunya penganan Jejalon yang diproduksi di wilayah Linkungan Cibeber, Kota Cilegon.

Penganan yang terbuat dari singkong ini mirip keripik singkong pada umumnya tapi bedanya ini dipotong memanjang seukuran ruas jari orang dewasa dan dikukus lebih dahulu sebelum disisiri untuk kemudian digoreng.



Maryanah, seorang ibu paruh baya asal Pandeglang yang tinggal di Cilegon adalah salah satu pengolah jajanan Jejalon ini. Ia membuat produknya di rumah bersama anak-anaknya.

“Asalnya sih cuma buat di rumah aja, tapi nggak taunya pas ada tamu banyak yang suka dan pesan minta dibuatin,” aku Emak Anah, sapaannya, saat ditemui di kediamannya di Link. Cibeber, Kota Cilegon, Jumat, (16/10/20).

Ia menceritakan kalau ini makanan turun-temurun. Sejak kecil, ibunya sudah sering membuatkan jejalon. Karena permintaan yang tinggi itulah akhirnya dia memproduksi cukup banyak untuk dijual ke warung-warung.

“Nama produknya Jejalon Emak, nggak paham tuh anak-anak yang bikin dan ngurusin sampe dikirim ke luar kota,” terang ibu berusia 62 tahun itu.

Sementara itu, Titin Awaliyah anak sulungnya, ikut membantu membungkusi dan mempromosikannya di media sosial.

“Alhamdulillah sejak ada WFH dan PSBB kemaren, pesanan cukup banyak. Mulai dari Tangerang, Palembang sampai ke Jogjakarta,” ucap Titin sambil membungkusi jejalon ke wadah plastik kecil. Satu kilonya dijual 50 ribu rupiah, sementara untuk ukuran kecil dibanderol seharga 1000-2000 rupiah.

Selama pandemi ini, memang banyak orang yang terpaksa harus di rumah saja sesuai anjuran pemerintah. Tak heran bila kita tergoda untuk memesan makanan dan dikirim lewat jasa ekspedisi sekalipun ongkos kirimnya mahal.

Saat disinggung soal penerapan 3M, Anah mengaku kalau ia dan keluarga cukup serius melakukannya. “Siapa sih yang pengen sakit? Jadi kami ikuti aja anjuran pemerintah. Sebisa mungkin kami steril saat proses produksi,” jelasnya.

Ia berharap pandemi ini segera berlalu, karena berpengaruh juga saat mencari bahan baku. Bahkan pedagang singkong banyak yang gulung tikar.

“Saya biasa beli singkong di Pasar Kranggot Cilegon. Tapi akhir-akhir ini pada tutup,” keluhnya. Padahal ia ingin memproduksi lebih banyak lagi dan harapannya Jejalon Emak bisa dikenal lebih luas hingga luar kota.

(AU/Red/SG)