Beranda Kesehatan Begini Cerita Orang Dekat Pasien Positif Corona dari Unyur

Begini Cerita Orang Dekat Pasien Positif Corona dari Unyur

1621
0

SERANG – Pemilik toko bangunan Harapan Bersama, di kawasan Pasar Induk Rau, Kota Serang Yohanes angkat bicara soal kasus positif Covid-19 yang menimpa karyawan berinisial D yang bertugas sebagai sopir antar bahan bangunan.

Ada hal yang ia ingin luruskan yang selama ini berkembang di tengah masyarakat menyangkut dirinya dan karyawan berinisial D yang kini divonis positif Covid-19 dan tengah menjalani perawatan di RSUD Banten.

“D itu benar karyawan saya. Dia itu terakhir masuk Sabtu 15 Maret 2020 lalu. Tanggal 17 Maret 2020 istrinya kirim kabar melalui WhatsApp bahwa nggak masuk karena sakit panas,” kata Yohanes, Jumat (10/4/2020).





Yohanes menegaskan bahwa D merupakan sopir yang bertugas mengantar bahan bangunan bersama seorang karyawan lain (kenek). “Dia bukan pelayan tapi sopir. Dia jarang masuk dalam toko, paling keneknya kalau ada kiriman apa, keneknya dia ambil surat pengambilan,” ujar Yohanes.

Menurut kabar dari pihak keluarga pasien D, Yohanes menambahkan bahwa pihak keluarga pada tanggal 27 Maret 2020 membawa D ke RS Budi Asih.

“Sebelumnya disarankan ke Biomed. Namun karena ada BPJS supaya ada keringanan biaya dibawa ke Budi Asih. Jadi bukan dibawa ke Budi Asih dalam kondisi lemas dan dalam posisi perawatan,” kata dia.

Tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Budi Asih, Serang pasien langsung mendapat penanganan. Namun sayangnya, keluarga pasien tidak mendapat penjelasan memadai mengenai kondisi pasien.

“Tanggal 28 Maret 2020 saya memberi sesuatu (biaya) ke istrinya, datang ke toko saya. Kata istrinya bilang kalau suaminya tipes, itu penjelasan dari pihak rumah sakit,” kata Yohanes.

Pada malam harinya, pasien dipindahkan ke kamar perawatan ditemani sang istri. Masih di malam yang sama, pada tengah malam, pihak rumah sakit meminta pasien dirujuk ke RSUD Banten malam itu juga. Sang istri diminta menandatangani berkas persetujuan dan diminta segera menyelesaikan biaya pengobatan.

“Karena istrinya tidak bawa uang akhirnya menelpon sang kakak (R) untuk menyelesaikan biaya pengobatan,” kata Yohanes.

Yohanes menyatakan sangat keberatan bahwa D terkena virus Covid-19 dari toko bangunan miliknya. “Saya pemilik toko keberatan bahwa karyawan saya kena sakit dari toko saya. Dia terinfeksi di luar toko. Karena istri dan anaknya sampai hari ini sehat-sehat saja. Bahkan kenek yang biasa dengan D juga sehat. Karyawan lain sehat juga.”

Mematuhi saran dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Serang, Yohanes bersama keluarga mengaku telah menjalani Swab. “Rapid test sudah. Swab juga daru Puskesmas datang ke tempat saya.”

Cerita lain dari R kakak pasien D juga menyatakan betapa pihak keluarga kebingungan dengan pola penanganan pihak rumah sakit. Informasi yang sejatinya menjadi hak keluarga pasien tidak begitu berjalan lancar.

Pada malam tanggal 29 Maret 2020 dini hari R, sebagai kakak pasien D mengaku belum mendapatkan kabar bahwa adiknya suspect Covid-19. Hingga saat pasien dirujuk ke RSUD Banten, pihak keluarga tidak mendapatkan penjelasan memadai mengenai penyakit yang diderita pasien.

“Saya datang ke rumah sakit, adik saya sudah di dalam ambulans. Saya tidak bisa berbuat banyak selain membantu pemindahan barang-barang yang ada di kamar isolasi Budi Asih. Dokter hanya bilang kalau paru-paru adik saya kotor. Suhu tubuhnya 38 (derajat Celcius). Adik saya dalam 3 bulan terakhir tidak bepergian ke manapun,” kata R.

Pada 29 Maret 2029 dini hari itu D resmi menjadi pasien RSUD Banten. Bingung dengan penyakit yang diderita sang adik, R kemudian meminta penjelasan (konsultasi) dengan pihak rumah sakit namun dengan alasan bukan waktu konsultasi ia tidak mendapat jawaban pasti.

Pada tanggal 31 Maret 2020 pasien menjalani rapid test dan hasilnya negatif. Kendati demikian pihak rumah sakit belum memperolehkan sang adik untuk pulang. “Adik saya dinyatakan negatif (Covid-19). Pihak rumah sakit tidak memberi tahu bahwa ada tes lagi (Swab),” katanya.

Hari terus berlalu hingga pada Rabu 8 April 2020 dari pihak Puskesmas mendata keluarga pasien D dan baru belakangan keluarga diberitahu bahwa sang adik positif Covid-19. “Setelah di media tersebar ke mana-mana. Padahal nomor keluarga sudah ada di rumah sakit, ini sudah zaman teknologi yang memudahkan komunikasi, tapi sangat disayangkan pihak rumah sakit tidak memberikan informasi yang dibutuhkan keluarga pasien,” kata dia.

Hingga saat ini R bersama keluarga masih menjalani isolasi mandiri. Kondisi saat ini masih merasa dalam keadaan sehat.
(You/Red)