
KAB. SERANG – Teriakan warga pecah di Bendung Pamarayan, Kampung Pamarayan, Desa Panyabrangan, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang, Sabtu (17/10/2026). Ribuan orang memadati aliran bendungan untuk mengikuti tradisi Bedolan Pamarayan, berburu ikan setelah petugas melepas ikan ke aliran air.
Tradisi yang berlangsung turun-temurun sejak zaman kolonial Belanda ini kembali menyedot perhatian warga dari berbagai kecamatan.
Setelah terakhir berlangsung pada 2019, Bedolan Pamarayan kembali menghadirkan keramaian sekaligus peluang ekonomi bagi pedagang dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Bagi warga, Bedolan bukan sekadar kesempatan membawa pulang ikan. Tradisi ini juga menjadi ruang berkumpul, menjaga kebiasaan leluhur, dan merasakan kembali suasana yang lama mereka nantikan.
Andi, warga setempat mengaku, dirinya antusias mengikuti kegiatan Bedolan Pamarayan.
“Saya ke sini bareng sama teman-teman untuk ikut bedolan,” katanya.
Bagi Andi, kegiatan ini bukan sekedar unyik mencari dan menangkap ikan, tetapi juga sebagai bagian dari silaturahmi.
“Banyak juga yang datang dari kampung sebelah, ada dari kecamatan lain, yah jadi dapat kenalan baru,” ucapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Serang, Ratu Zakiyah turut hadir dan melepas ikan untuk warga. Namun, di tengah antusiasme ribuan pengunjung, ia mengingatkan satu hal yang jauh lebih penting daripada hasil tangkapan: keselamatan.
“Yang lebih penting adalah menjaga keselamatan jiwa, menjaga keselamatan diri. Saya lihat dari ujung bendungan sampai sini sudah sangat padat sekali. Kalau bawa anak-anak, tolong dijaga keluarganya masing-masing,” kata Zakiyah.
Kepadatan pengunjung membuat warga harus ekstra hati-hati saat bergerak di sekitar bendungan. Zakiyah meminta orang tua mengawasi anak-anak dan tidak membiarkan euforia berburu ikan mengalahkan kewaspadaan.
Pesannya sederhana, tetapi penting jangan sampai tradisi yang seharusnya membawa kegembiraan justru berujung petaka.
“Di ujung ngabur ikan, tidak ada ikan yang berharga, yang berharga adalah keselamatan diri,” tegasnya.
Selain keselamatan, Zakiyah mengingatkan pengunjung agar tidak meninggalkan sampah di kawasan bendungan. Ia meminta warga membawa kembali sampah masing-masing dan menjaga kebersihan lokasi setelah festival berakhir.
“Kalau di awal kita masuk lingkungan Bendungan Pamarayan dengan bersih, maka setelah kegiatan ini juga kondisinya harus bersih. Kalau bawa sampah, sampahnya di-keep lagi, jangan dibuang di sekitar bendungan,” katanya.
Zakiyah juga mengapresiasi Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWS C3) yang merespons aspirasi warga dan panitia sehingga tradisi Bedolan kembali berlangsung.
Menurutnya, festival ini tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga membuka peluang bagi warga untuk meraup penghasilan. Kehadiran ribuan pengunjung memberi kesempatan kepada pedagang dan pelaku UMKM setempat untuk menawarkan dagangan mereka.
“Alhamdulillah banyak pelaku UMKM di sini. Semoga ini dapat menggerakkan perekonomian, khususnya di wilayah desa,” ujarnya.
Bedolan Pamarayan pun menghadirkan dua hal sekaligus, tradisi yang kembali hidup setelah tujuh tahun absen dan peluang ekonomi bagi masyarakat. Namun, kemeriahan itu baru bermakna jika warga bisa menikmati festival tanpa mengabaikan keselamatan dan kebersihan lingkungan.
Sebab, ikan yang dibawa pulang mungkin habis dalam sehari. Keselamatan jiwa dan kelestarian bendungan jauh lebih berharga untuk dijaga.
Penulis : Tb Moch. Ibnu Rushd
Editor : Gilang Fattah