
SERANG– Kepala Seksi Wilayah I Serang Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Mufti Ginanjar menduga banjir yang berulang terjadi di Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, berkaitan dengan menurunnya fungsi resapan kawasan Cagar Alam Rawadanau.
Kawasan yang berada di tengah Daerah Aliran Sungai (DAS) Cidanau itu mengalami tekanan akibat perubahan tutupan lahan. Temuan BBKSDA, menunjukan juga adanya keberadaan persawahan di dalam kawasan konservasi itu seluas kurang lebih 1.000 hektare.
“Penggarapan sawah di dalam kawasan (cagar alam) ya itu kan kegiatan yang ilegal, (ada) sekitar 1.000 hektare dan itu yang menyebabkan yang tadinya Rawadanau itu bisa menyerap air itu kan menjadi tidak bisa karena berupa sawah,” kata Mufti usai rapat penanganan banjir Kabupaten Serang di Pendopo Gubernur Banten, Selasa (23/12/2025).
Berdasarkan analisis citra satelit sejak 1995 hingga 2025, di dalam kawasan konservasi itu memang terjadi aktivitas pertanian yang terus bertambah. Selain itu di hulu DAS Cidanau juga ada beberapa lahan tanaman sayuran.
Mufti menegaskan kawasan hulu idealnya memiliki tutupan lahan berupa hutan atau setidaknya agroforestri. Area persawahan di cagar alam menurutnya secara signifikan menurunkan fungsi area yang salah satunya sebagai resapan air hujan.
“Supaya airnya itu tidak langsung menjadi aliran liimpasan tapi bisa terserap ke bawah tanah. Itu yang lebih penting sebetulnya untuk Rawadanau,” ujarnya.
Kondisi geografis Padarincang yang berada di pinggir Rawadanau memperbesar dampak ketika daya tampung dan resapan danau menurun. Idealnya, kawasan sekitar Rawadanau seharusnya memiliki sempadan yang bebas dari pembangunan.
Ke depan, BBKSDA mendorong upaya pemulihan fungsi hidrologis Rawadanau melalui langkah jangka panjang, salah satunya pembangunan sumur resapan di kawasan terbangun dengan total 300 hektare.
Selain itu, ada rencana melakukan rehabilitasi penanaman vegetasi untuk mencegah erosi dan mengurangi limpasan air permukaan.
“Artinya bagaimana memastikan bahwa air yang turun ke daerah tengah itu bisa terserap ke tanah,” ucapnya.
Penulis: Audindra Kusuma
Editor: Tb Ahmad Fauzi