Beranda Kesehatan Bayi Meninggal, DPRD Soroti Minimnya Alat Medis di RSUD Adjidarmo

Bayi Meninggal, DPRD Soroti Minimnya Alat Medis di RSUD Adjidarmo

Regen Abdul Haris. (IST)

LEBAK — Sorotan tajam datang dari Anggota DPRD Lebak Komisi III Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Regen Abdul Aris, terkait penanganan pasien darurat di RSUD Adjidarmo Rangkasbitung yang dinilai masih terkendala ketersediaan alat medis.

Regen mengungkapkan, dirinya menerima laporan mengenai seorang bayi yang meninggal dunia di dalam kandungan setelah sang ibu terlambat mendapatkan penanganan medis.

“Seharusnya rumah sakit memberikan pelayanan maksimal kepada semua pasien. Karena setiap pasien yang datang sangat membutuhkan pertolongan, ini urusannya nyawa,” kata Regen usai menghadiri rapat paripurna di Gedung DPRD Lebak, Rabu (22/4/2026).

Menurutnya, peristiwa tersebut bermula ketika seorang ibu haml dibawa ke RSUD Adjidarmo untuk menjalani persalinan sesar. Namun, pihak rumah sakit tidak dapat menangani pasien dengan alasan stok benang jahit tidak tersedia. Manajemen kemudian merujuk pasien ke RSUD Banten.

“Dalam perjalanan menuju RSUD Banten, bayi yang dikandung meninggal dunia,” ujarnya.

Regen menegaskan, kejadian seperti ini seharusnya tidak lagi terjadi. Ia menyayangkan keputusan rumah sakit yang tidak langsung memberikan penanganan.

“Kita ingin RSUD Adjidarmo bisa lebih baik. Apalagi masih ada kasus kekurangan obat dan pasien yang harus tidur di lantai,” ungkapnya.

Ia menilai peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi serius, terutama karena menyangkut keselamatan ibu dan bayi dalam proses persalinan.

“Ini harus menjadi evaluasi. Pasien harus diutamakan. Jangan sampai ada lagi bayi yang meninggal hanya karena tidak adanya benang,” tegasnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Adjidarmo, Eka Darmana Putra, membenarkan adanya kendala tersebut. Ia menjelaskan bahwa pasien membutuhkan tindakan operasi sesar, namun rumah sakit kehabisan benang jahit karena keterlambatan pengiriman dari vendor.

“Ada keterlambatan satu malam dari pihak vendor dalam pengiriman benang jahit,” kata Eka kepada awak media, Kamis (23/4/2026).

Baca Juga :  FKTS Tangerang Gelar Verifikasi Kota Sehat

Ia menambahkan, keterlambatan itu dipengaruhi oleh kondisi keuangan rumah sakit yang masih memiliki tunggakan kepada vendor, sehingga pengiriman sempat tertahan.

“Keterlambatan terjadi salah satunya karena RSUD masih memiliki utang, sehingga pengiriman benang jahit ditahan oleh pihak vendor,” imbuhnya.

Eka mengaku prihatin atas insiden tersebut dan menyatakan bahwa pihaknya akan terus melakukan pembenahan.

“Secara umum kami masih memiliki banyak kekurangan, mulai dari ketersediaan obat, tenaga kerja, hingga penanganan kepadatan pasien di IGD. Namun, prinsipnya kami akan terus berupaya memperbaiki kekurangan tersebut,” pungkasnya.

Penulis: Sandi Sudrajat

Editor : TB Ahmad Fauzi