Beranda Pemerintahan Bantuan untuk PKH di Kecamatan Kresek Diduga Dipotong

Bantuan untuk PKH di Kecamatan Kresek Diduga Dipotong

Ilustrasi - foto istimewa arah.com

TANGERANG – Bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dan penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BNPT) di Kecamatan Kresek dinilai janggal. Masyarakat penerima mengeluhkan adanya pemotongan bantuan oleh oknum yang tak bertanggung jawab. Besaran pemotongan tersebut variatif.

Untuk penerima PKH pemotongan bantuan di kisaran Rp25 ribu hingga Rp50 ribu. Sementara untuk penerima BNPT, oknum meminta bayaran di kisaran Rp5 ribu hingga Rp10 ribu per orang. Selain itu, ada indikasi intimidasi kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) jika tidak mengikuti arahan pendamping. Selain itu, ada pula dugaan keterlibatan oknum pegawai kecamatan dalam melakukan praktik pungutan tersebut.

Salah satu penerima PKH, mengaku tidak memegang kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Bank Rakyat Indonesia (BRI). Kartu tersebut diminta oleh oknum koordinator bersama oknum di Kecamatan Kresek. “Kartunya ditahan. Pencairan per tiga bulan. Kalau belum lama ini dapat Rp225 ribu. Dipotong Rp25 ribu. Katanya buat uang jalan. Sebelumnya Rp500 ribu,” kata sumber  BantenNews.co.id, Rabu (14/11/2018).





Ia mengaku dalam satu grup PKH di lingkungannya terdapat 23 orang. Semua kartu ATM tidak dipegang oleh penerima PKH. “Kalau yang koordinir ada dari kelompok, tapi ada dari pegawai (Kecamatan Kresek) Bu Rita,” kata sumber.

Selain kerap menerima bantuan yang kurang dari jumlah yang sudah ditentukan, sumber yang juga mengaku sebagai penerima BNPT, mengaku harus membayar untuk mendapatkan bantuan dengan kualitas beras yang buruk. “Berasnya jelek, telornya kurang, pakai ongkos juga Rp5 ribu. Harus ngambilnya di balai desa,” kata dia.

Hal senada juga disampaikan oleh penerima lain. Ia mengaku tidak memegang kartu ATM yang seharusnya dimiliki oleh penerima PKH. “Kartunya nggak dipegang. Ada yang pegang (oknum kelurahan). Paling kalau ada pencairan kita ngasih ‘uang bensin’ setelah uang dicairkan,” kata sumber lain.

Sumber mengatakan bahwa hanya memegang buku tabungan dan ATM ketika pertama kali dibagikan. Setelah itu, kartu ATM dipegang oleh oknum kelurahan. “Emang ada juga yang nggak bisa ambil uang pakai ATM, makanya minta tolong, nanti kasih uang bensin,” jelasnya.

Dikonfirmasi akan hal ini, Rita, tenaga honorer di Bidang Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Kresek membantah hal tersebut. Ia mengaku tidak pernah memerintahkan ketua kelompok maupun pendamping untuk mengumpulkan kartu ATM pekerima PKH. “Tidak,” kata Rita melalui pesan singkat kepada BantenNews.co.id.

Menurut Rita, sebagai tenaga magang di Kecamatan Kresek, ada 2.532 lebih penerima PKH yang didampingi oleh tujuh orang pendamping. “Saya koordinator kecamatannya,” ujar dia.

Akan hal ini, Camat Kresek Cikwi R Inton, mengaku tidak menerima informasi adanya pemotongan tersebut.

Inton mengatakan bahwa di Kecamatan Kresek sudah menugasi Rita untuk menjadi koordinator penyaluran bantuan PKH. “Jadi bukan oknum di kecamatan, Rita itu hanya PKH. Itu pun tidak ada kaitannya dengan Kesos (Kesejahteraan Sosial) di Kecamatan. Bantuan itu hubungannya dengan Departemen Sosial (di bawah Kementerian Sosial),” ujarnya. (you/red)