Beranda Komunitas Bantenstreetart, Menengok Aksi Pelukis Grafitti di Banten

Bantenstreetart, Menengok Aksi Pelukis Grafitti di Banten

124
0
Grafitti writers tengah melukis sebuah tembok pagar di Kota Cilegon. (Foto : Gilang)

CILEGON – Lima orang remaja pria tengah berdiri di atas trotoar dan menghadap tembok yang memagari sebuah lahan kosong di pertigaan PCI, Kota Cilegon, Selasa (28/5/2019) malam. Beberapa di antaranya sibuk membersihkan rumput liar yang mulai menutupi dinding tembok panel beton setinggi dua meter tersebut.

Berbekal cahaya blitz dari smartphone dan sorot lampu kendaraan yang melintas, mereka melanjutkan aksinya dengan memilih warna dari barisan tiga lusin kaleng cat semprot, bekal yang dibawa untuk menjadi lukisan grafitti pada dinding sepanjang 10 meter tersebut.

Comay (23), salah seorang grafitti writers (sebutan untuk pelukis grafitti) mengungkapkan alasan mengapa aksinya itu kerap dilakukan pada malam hari. Salah satunya yakni karena masih adanya masyarakat yang menilai bahwa grafitti merupakan salah satu produk vandalisme sehingga memaksa pihaknya tak pernah meminta izin dari pemilik median yang akan dilukis.

“Tapi kan vandalisme itu juga pro kontra. Karena ada pula yang menilainya sebagai sebuah karya seni, malah sampai membelikan catnya. Kita lakukan pada malam hari, karena masih ada pemilik tembok yang marah dan tidak terima bila kita lukis, apalagi kita juga ngga pernah minta izin ke pemilik selama ini,” ucap Comay yang mengaku tergabung dalam Bantenstreetart ini, sebuah wadah komunitas grafitti writers di Banten.

Masih adanya pro kontra itu pulalah menurutnya juga menjadi alasan kenapa grafitti writers tidak berharap banyak pada kepedulian pemerintah daerah untuk menyediakan ruang khusus bagi mereka berkreasi.

Pria bernama asli Akmal ini menuturkan, untuk menuangkan sebuah sketsa menjadi lukisan grafitti dalam kurun waktu kurang lebih tiga jam itu, ia pun bahkan harus rela merogoh kocek pribadi sekira Rp1 juta.

“Grafitti itu bukan lukisan mural, maka tidak ada pesan yang disampaikan di dalamnya. Saya menyukai lukisan grafitti ini sejak masih duduk di bangku SMP. Dulu sempat diprotes oleh orang tua, karena dianggap menghambur-hamburkan uang, tapi saya merasa hobi ini lebih baik daripada digunakan untuk narkoba dan mabuk-mabukan. Makanya saya mengajak remaja Banten untuk senang melukis,” kilahnya.

Di tempat yang sama, Nizar (21), grafitti writers asal Kota Serang lainnya menambahkan, dari hobi yang sudah ditekuni sejak lama itu, dirinya dapat mengenal dan menjalin persahabatan dengan ‘pelukis jalanan’ dari banyak daerah.

“Seperti sekarang ini, kita sedang menemani Kamil dan Eps, dua teman grafitti writers dari Jogja. Mereka sengaja datang kesini dan kita siapin semuanya, termasuk tempat dia menginap. Karena memang serunya jadi grafitti writers itu setiap main ke kota manapun pasti dijamu. Di Banten selama kebanyakan tamu dari Jakarta dan Tangerang,” timpal remaja dengan grafitti writers nickname Ranger ini.

Dari hobi itu, lanjut Comay, tak jarang ia pun sering diminta untuk melukis di sejumlah cafe dan restoran. “Tapi yang disayangkan adalah grafitti writers kita selama ini tak pernah menggunakan masker. Nah perilaku inilah yang disesalkan juga oleh tamu grafitti writers dari luar negeri. Seperti tamu dari Jerman yang pernah bilang, lukisan grafitti orang Indonesia itu bagus-bagus, writersnya juga banyak, cuma yang mereka sayangkan itu orang kita yang ngga suka pakai masker,” imbuhnya. (dev/red)