{"id":100012408,"date":"2026-06-29T10:33:24","date_gmt":"2026-06-29T03:33:24","guid":{"rendered":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/?p=100012408"},"modified":"2026-06-29T10:33:24","modified_gmt":"2026-06-29T03:33:24","slug":"perubahan-bahasa-dalam-tuturan-sehari-hari-antara-kebiasaan-dan-identitas-penutur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/perubahan-bahasa-dalam-tuturan-sehari-hari-antara-kebiasaan-dan-identitas-penutur\/","title":{"rendered":"Perubahan Bahasa dalam Tuturan Sehari-hari: Antara Kebiasaan dan Identitas Penutur"},"content":{"rendered":"<p>Bahasa tidak pernah benar-benar diam. Seiring dengan perkembangan masyarakat, bahasa terus mengalami perubahan, baik pada tingkat kosakata, makna, maupun bunyi. Salah satu bentuk perubahan yang paling mudah dijumpai ialah perubahan bunyi atau fonologis, yakni ketika suatu kata diucapkan berbeda dari bentuk bakunya. Fenomena ini sering kali muncul bukan karena ketidaktahuan penutur, melainkan karena pengaruh bahasa ibu, dialek daerah, serta kebiasaan yang telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p>Salah satu contoh yang cukup umum adalah pelafalan kata <strong>gizi<\/strong> menjadi <strong>gisi<\/strong>. Pada contoh tersebut terjadi perubahan fonem <strong>\/z\/<\/strong> menjadi <strong>\/s\/<\/strong>. Perubahan serupa juga tampak pada kata <strong>ijazah<\/strong> yang sering diucapkan <strong>ijasah<\/strong>, <strong>izin<\/strong> menjadi <strong>isin<\/strong>, <strong>rezeki<\/strong> menjadi <strong>reseki<\/strong>, <strong>ziarah<\/strong> menjadi <strong>siarah<\/strong>, <strong>zaman<\/strong> menjadi <strong>saman<\/strong>, <strong>azan<\/strong> menjadi <strong>asan<\/strong>, <strong>lazim<\/strong> menjadi <strong>lasim<\/strong>, dan <strong>zikir<\/strong> menjadi <strong>sikir<\/strong>. Keseluruhan contoh tersebut menunjukkan kecenderungan yang sama, yaitu penggantian bunyi <strong>\/z\/<\/strong> dengan <strong>\/s\/<\/strong> karena bunyi \/s\/ lebih akrab dan lebih mudah diartikulasikan oleh sebagian penutur bahasa Indonesia, terutama yang berasal dari daerah dengan sistem fonologi yang tidak mengenal bunyi \/z\/ secara dominan.<\/p>\n<p>Perubahan bunyi juga tidak hanya terjadi pada fonem \/z\/. Dalam praktik berbahasa sehari-hari, kata <strong>Februari<\/strong> sering diucapkan <strong>Pebruari<\/strong>, sehingga fonem <strong>\/f\/<\/strong> berubah menjadi <strong>\/p\/<\/strong>. Kata <strong>video<\/strong> tidak jarang dilafalkan <strong>pidio<\/strong>, sedangkan <strong>favorit<\/strong> berubah menjadi <strong>paporit<\/strong>. Bahkan kata <strong>aktivitas<\/strong> sering ditulis atau diucapkan menjadi <strong>aktifitas<\/strong>, yang menunjukkan adanya penyesuaian terhadap bentuk yang dianggap lebih familier oleh masyarakat. Fenomena-fenomena tersebut memperlihatkan bahwa bunyi-bunyi hasil serapan dari bahasa asing cenderung mengalami penyesuaian agar sesuai dengan kebiasaan fonologis penuturnya.<\/p>\n<p>Di sisi lain, terdapat pula bentuk penyederhanaan pelafalan. Kata <strong>praktik<\/strong> misalnya, masih sering diucapkan <strong>praktek<\/strong>, sementara kata <strong>subjek<\/strong> kerap dilafalkan <strong>subek<\/strong> dengan menghilangkan salah satu bunyi konsonannya. Penyederhanaan seperti ini muncul karena penutur berusaha menghasilkan tuturan yang lebih cepat dan lebih mudah tanpa mengurangi makna yang ingin disampaikan.<\/p>\n<p>Fenomena-fenomena tersebut memperlihatkan bahwa perubahan bahasa merupakan bagian dari dinamika sosial. Bahasa berkembang mengikuti penuturnya, bukan sebaliknya. Apa yang dianggap tidak baku dalam konteks formal sering kali justru menjadi bentuk yang lazim dalam komunikasi sehari-hari. Oleh karena itu, perubahan seperti <strong>gizi<\/strong> menjadi <strong>gisi<\/strong> atau <strong>ijazah<\/strong> menjadi <strong>ijasah<\/strong> tidak hanya dapat dipandang sebagai kesalahan pengucapan, tetapi juga sebagai bukti adanya interaksi antara bahasa Indonesia dengan bahasa daerah, dialek lokal, dan kebiasaan masyarakat.<\/p>\n<p>Meski demikian, penting untuk membedakan penggunaan bahasa dalam ranah informal dan formal. Variasi pelafalan merupakan kekayaan linguistik yang mencerminkan identitas penutur, tetapi dalam dunia pendidikan, administrasi, dan media resmi, bentuk baku tetap perlu dipertahankan agar komunikasi berlangsung seragam dan tidak menimbulkan ambiguitas. Dengan demikian, memahami perubahan bahasa bukan sekadar mengenali bentuk yang berbeda, melainkan juga memahami bagaimana masyarakat membentuk, mempertahankan, dan mengembangkan bahasanya dari waktu ke waktu.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bahasa tidak pernah benar-benar diam. Seiring dengan perkembangan masyarakat, bahasa terus mengalami perubahan, baik pada tingkat kosakata, makna, maupun bunyi. Salah satu bentuk perubahan yang paling mudah dijumpai ialah perubahan bunyi atau fonologis, yakni ketika suatu kata diucapkan berbeda dari bentuk bakunya. Fenomena ini sering kali muncul bukan karena ketidaktahuan penutur, melainkan karena pengaruh bahasa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2350,"featured_media":100012409,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_bbp_topic_count":0,"_bbp_reply_count":0,"_bbp_total_topic_count":0,"_bbp_total_reply_count":0,"_bbp_voice_count":0,"_bbp_anonymous_reply_count":0,"_bbp_topic_count_hidden":0,"_bbp_reply_count_hidden":0,"_bbp_forum_subforum_count":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[21],"tags":[3923,3921,3922,1518],"class_list":["post-100012408","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-opini","tag-pelafalan","tag-perubahan-bahasa","tag-perubahan-bunyi","tag-variasi-bahasa"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/ChatGPT-Image-Jun-28-2026-11_40_22-PM.png","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100012408","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2350"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100012408"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100012408\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":100012413,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100012408\/revisions\/100012413"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100012409"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100012408"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100012408"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100012408"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}