{"id":100010369,"date":"2025-05-05T11:13:34","date_gmt":"2025-05-05T04:13:34","guid":{"rendered":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/?p=100010369"},"modified":"2025-05-05T17:16:55","modified_gmt":"2025-05-05T10:16:55","slug":"opini-publik-sosial-media-perangkai-budaya-atau-perusak-tradisi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/opini-publik-sosial-media-perangkai-budaya-atau-perusak-tradisi\/","title":{"rendered":"OPINI PUBLIK &#8220;Sosial Media: Perangkai Budaya, atau Perusak Tradisi&#8221;"},"content":{"rendered":"<p>Sosial media telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern.\u00a0 Jangkauannya yang luas dan kemampuannya menghubungkan orang-orang di seluruh dunia telah memicu transformasi budaya yang signifikan. Namun, di balik kemudahan akses informasi dan konektivitas yang ditawarkan,\u00a0 timbul pertanyaan krusial: <em>apakah sosial media menjadi perangkai budaya yang memperkaya khazanah peradaban, atau justru menjadi perusak tradisi yang mengikis nilai-nilai luhur<\/em>?<\/p>\n<p>Di satu sisi, sosial media berperan sebagai wadah penyebaran budaya yang efektif.\u00a0 Seni, musik, tari, dan berbagai bentuk ekspresi budaya dapat diakses dan dinikmati oleh khalayak global dengan mudah.\u00a0 Platform ini memungkinkan pertukaran budaya antar komunitas, memperkaya pemahaman dan apresiasi terhadap keragaman budaya dunia.\u00a0 Gerakan-gerakan pelestarian budaya tradisional pun dapat memanfaatkan sosial media untuk menjangkau audiens yang lebih luas,\u00a0 menghidupkan kembali tradisi yang hampir punah.\u00a0 Contohnya,\u00a0 video-video tutorial pembuatan batik atau tari tradisional yang viral di berbagai platform telah memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia.<\/p>\n<p>Namun, di sisi lain, pengaruh sosial media terhadap budaya juga menimbulkan kekhawatiran.\u00a0 Standarisasi kecantikan, gaya hidup, dan nilai-nilai yang dipromosikan secara masif melalui platform ini dapat mengancam keunikan dan keberagaman budaya lokal.\u00a0 Tren-tren yang bersifat sementara dan seringkali dangkal dapat menggeser perhatian dari nilai-nilai budaya yang lebih substansial dan berakar kuat dalam masyarakat.\u00a0 Fenomena &#8220;<em>culture appropriation&#8221;<\/em> atau pembajakan budaya juga menjadi masalah serius, di mana elemen-elemen budaya tertentu diadopsi dan dieksploitasi tanpa pemahaman dan penghargaan yang memadai.<\/p>\n<p>Lebih jauh lagi,\u00a0 sosial media juga dapat menjadi lahan subur bagi penyebaran informasi yang salah atau hoaks, yang dapat merusak citra dan pemahaman tentang budaya tertentu.\u00a0 Polarisasi dan perpecahan sosial juga dapat diperparah oleh penyebaran informasi yang tidak terverifikasi dan bersifat provokatif.\u00a0 Hal ini dapat mengancam kerukunan dan persatuan dalam masyarakat yang majemuk.<\/p>\n<p>Kesimpulannya,\u00a0 pengaruh sosial media terhadap budaya bersifat ganda:\u00a0 di satu sisi, ia dapat menjadi alat yang ampuh untuk mempromosikan dan melestarikan budaya; di sisi lain, ia juga berpotensi merusak dan mengikis nilai-nilai budaya yang berharga.\u00a0 Oleh karena itu,\u00a0 penting bagi kita untuk bijak dalam menggunakan sosial media,\u00a0 memilih informasi yang kredibel, dan\u00a0 menjaga keaslian dan keunikan budaya kita sendiri.\u00a0 Edukasi dan literasi digital menjadi kunci untuk memanfaatkan potensi positif sosial media sekaligus meminimalisir dampak negatifnya terhadap budaya.\u00a0 Kita perlu membangun kesadaran kolektif untuk menggunakan platform ini sebagai alat untuk memperkaya, bukan menghancurkan, warisan budaya kita.<\/p>\n<p>Penulis : Mimah Rohimah<\/p>\n<p>Dosen Pengampu : Angga Rosidin, S. I.P , M. A.P<\/p>\n<p>KAPRODI : Zakaria Habib Al-ra&#8217;zie, S. I.P , M. Sos<\/p>\n<p>(Program Studi Administrasi Negara, Universitas Pamulang Kampus Serang).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sosial media telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern.\u00a0 Jangkauannya yang luas dan kemampuannya menghubungkan orang-orang di seluruh dunia telah memicu transformasi budaya yang signifikan. Namun, di balik kemudahan akses informasi dan konektivitas yang ditawarkan,\u00a0 timbul pertanyaan krusial: apakah sosial media menjadi perangkai budaya yang memperkaya khazanah peradaban, atau justru menjadi perusak tradisi yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1673,"featured_media":100010370,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_bbp_topic_count":0,"_bbp_reply_count":0,"_bbp_total_topic_count":0,"_bbp_total_reply_count":0,"_bbp_voice_count":0,"_bbp_anonymous_reply_count":0,"_bbp_topic_count_hidden":0,"_bbp_reply_count_hidden":0,"_bbp_forum_subforum_count":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[21],"tags":[279],"class_list":{"0":"post-100010369","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-opini","8":"tag-politik"},"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/1746416814189.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100010369","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1673"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100010369"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100010369\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":100010394,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100010369\/revisions\/100010394"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100010370"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100010369"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100010369"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100010369"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}