{"id":100009479,"date":"2023-12-16T16:57:32","date_gmt":"2023-12-16T09:57:32","guid":{"rendered":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/?p=100009479"},"modified":"2023-12-16T16:57:32","modified_gmt":"2023-12-16T09:57:32","slug":"mengenal-sejarah-banten-di-museum-situs-kepurbakalaan-di-kawasan-kesultanan-banten","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/mengenal-sejarah-banten-di-museum-situs-kepurbakalaan-di-kawasan-kesultanan-banten\/","title":{"rendered":"Mengenal Sejarah Banten di Museum Situs Kepurbakalaan di Kawasan Kesultanan Banten"},"content":{"rendered":"<p>MUSEUM<\/p>\n<p>Bangunan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama berdiri di atas tanah seluas 778 m2 dari keseluruhan luas yang dimiliki museum yaitu 10.000 m2. Peresmian museum dilakukan pada tanggal 15 Juli 1985 oleh Direktur Jenderal Kebudayaan yang kala itu dijabat Prof.DR. Haryati Soepadio.<\/p>\n<p>SEJARAH DAN CIRI2 MERIAM KI AMUK<\/p>\n<p>Sultan Hasanuddin dari\u00a0Kesultanan Banten\u00a0oleh\u00a0Sultan Trenggono\u00a0yang pada awalnya bernama Ki Jimat.\u00a0Meriam Si Jagur\u00a0yang di halaman\u00a0Museum Fatahillah\u00a0Jakarta\u00a0adalah &#8220;kembaran&#8221; dari Meriam Ki Amuk. Meriam Ki Amuk konon dulu dipergunakan untuk menjaga Pelabuhan\u00a0Karanghantu\u00a0yang berada di\u00a0Teluk Banten.<\/p>\n<p>CIRI-CIRI MERIAM KI AMUK<\/p>\n<p>Meriam Ki Amuk terbuat dari\u00a0Perunggu\u00a0dengan berat 7 ton, panjang 3 meter diameter luar terbesar 0,70 m, diameter dalam mulut 0,34 m. Ia menembakkan peluru meriam seberat 180 pon (81,6 kg).[2]<br \/>\nLambang\u00a0Surya Majapahit\u00a0dapat dilihat di mulutnya. Ada dua\u00a0prasasti\u00a0berhuruf Arab\u00a0di meriam ini. Yang pertama berbunyi &#8220;Aqibah al-Khairi Salamah al-Imani&#8221; yang berarti &#8220;Buah dari segala kebaikan adalah kesempurnaan iman&#8221;. Prasasti kedua berbunyi &#8220;La fata illa Ali la saifa illa Zu al-faqar, isbir ala ahwaliha la mauta&#8221; yang berarti &#8220;Tiada pemuda kecuali\u00a0Ali, tiada pedang selain\u00a0Zulfiqar, hendaklah engkau bertakwa sepanjang masa kecuali mati&#8221;<\/p>\n<p>NISAN CINA DARI PAMARICAN<\/p>\n<p>Nisan ini ditemukan di daerah Pamarican. Daerah tersebut banyak pedagang Tingkok yang sedang berdagang atau melakukan kegiatan ekspor sumber daya alam seperti gula dan lada. Dalam kegiatan tersebut pasti banyak orang Tiongkok yang meninggal, maka dari itu ada batu nisan cina.<\/p>\n<p>ALAT PEMERAS TEBU<\/p>\n<blockquote><p>Gula merupakan salah satu hasil produksi dari tanaman tebu di masa Kesultanan Banten pada abad ke-17 sampai abad ke-18. Produksi gula masa itu dikelola oleh orang-orang Cina di daerah Pecinan, Kelapadua, hasilnya dijual ke Batavia untuk selanjutnya diekspor ke Cina dan Jepang. Alat produksi gula pada masa itu menggunakan batu penggilingan. Masyarakat Banten tempo dulu menyebutnya\u00a0kilang\u00a0yang digerakkan oleh hewan sapi.<br \/>\nPada tahun 1635 terjadi perdagangan antara Inggris dan orang Tionghoa di Kelapadua. Pada tahun itu juga Sultan Abulmafakir tinggal disekitar Kelapadua untuk beberapa waktu. Tercatat juga bahwa para pedagang dari loji Inggris di Banten pergi ke Kelapadua untuk membeli sebanyak mungkin gula yang dapat dimuat di kapal mereka.<\/p><\/blockquote>\n<p>Semenjak itu, gula menjadi komoditas perdagangan penting selain lada di Banten, tertera dalam sketsa pasar Banten sekitar abad ke-17 yang memperlihatkan ragam penjual, diantaranya berjualan hasil pembudidayaan pertanian gula. Sebagaimana disebutkan\u00a0 oleh Untoro, bahwa saat harga lada menurun dan sewaktu kesultanan diblokade Belanda maka Sultan memerintahkan para petani untuk menanam tebu. Tebu yang selanjutnya diolah menjadi gula banyak dibutuhkan oleh orang-orang Inggris yang tinggal di Banten.<\/p>\n<p>Pengolahan tebu banyak diusahakan pula oleh orang Cina yang bertempat tinggal di Banten, bahkan ketika hasil lada berkurang, gula tebu ini dijual sebagai barang ekspor ke Cina. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Aliuddin, VOC pun mengembangkan pembudidayaan tebu di Banten sebagai komoditas perdagangan baru yang dianggap memiliki prospek cerah bagi perekonomian Belanda. Dari pembudidayaan tebu ini, VOC mendapatkan gula yang sangat laku di pasar perdagangan Eropa.\u00a0Rata-rata pekerja wajib yang mengolah pembudidayaan tebu mencapai jumlah 70-80 orang yang diawasi oleh sekitar 5-6 orang Cina.<\/p>\n<p>WATU GILANG<\/p>\n<p>Watu Gilang\u00a0adalah sebuah batu andesit berbentuk segi empat berukuran panjang 190 cm, lebar 121 cm dan tebal 16,5 cm dengan permukaan datar. Batu tersebut berada di depan pintu gerbang utara Keraton Surosowan dekat alun-alun. Menurut\u00a0Babad Banten\u00a0batu ini disebut\u00a0watu gigilang\u00a0dipergunakan sebagai tempat pentahbisan atau penobatan raja-raja di Kesultanan Banten. Sebuah cerita menarik disampaikan dalam\u00a0Babad Banten\u00a0pupuh XVIII yang menyebutkan bahwa Maulana Hasanuddin, raja pertama di Kesultanan Banten mempunyai sebuah batu yang besar dan rata, yang diduduki Batara Guru Jampang ketika melakukan tapa, ia tidak bergerak dalam jangka waktu yang sangat lama, begitu lamanya tidak bergerak sampai ketunya, ikat kepalanya dijadikan sarang oleh burung-burung emprit (pipit)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MUSEUM Bangunan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama berdiri di atas tanah seluas 778 m2 dari keseluruhan luas yang dimiliki museum yaitu 10.000 m2. Peresmian museum dilakukan pada tanggal 15 Juli 1985 oleh Direktur Jenderal Kebudayaan yang kala itu dijabat Prof.DR. Haryati Soepadio. SEJARAH DAN CIRI2 MERIAM KI AMUK Sultan Hasanuddin dari\u00a0Kesultanan Banten\u00a0oleh\u00a0Sultan Trenggono\u00a0yang pada awalnya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1442,"featured_media":100009480,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_bbp_topic_count":0,"_bbp_reply_count":0,"_bbp_total_topic_count":0,"_bbp_total_reply_count":0,"_bbp_voice_count":0,"_bbp_anonymous_reply_count":0,"_bbp_topic_count_hidden":0,"_bbp_reply_count_hidden":0,"_bbp_forum_subforum_count":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[46],"tags":[2738],"class_list":{"0":"post-100009479","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-budaya","8":"tag-sejarah-banten-di-museum-situs-kepurbakalaan-di-kawasan-kesultanan-banten"},"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/IMG-20221203-WA0008.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100009479","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1442"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100009479"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100009479\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":100009570,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100009479\/revisions\/100009570"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100009480"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100009479"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100009479"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100009479"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}