{"id":100006487,"date":"2022-02-07T16:49:06","date_gmt":"2022-02-07T09:49:06","guid":{"rendered":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/?p=100006487"},"modified":"2022-02-07T16:49:06","modified_gmt":"2022-02-07T09:49:06","slug":"mengubah-nama-jembatan-bogeg-menjadi-munajab-bridge","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/mengubah-nama-jembatan-bogeg-menjadi-munajab-bridge\/","title":{"rendered":"Mengubah Nama Jembatan BOGEG Menjadi MUNAJAB Bridge"},"content":{"rendered":"<p>&#8220;<strong><em>Jembatan lama akan dibongkar. Nama kalau perlu disayembarakan, jangan namanya Bogeg<\/em><\/strong>,&#8221; <strong>kata Wahidin<\/strong>.<\/p>\n<p>\u201c<strong>Sebut Saja \u2026. MUNAJAB <em>Bridge<\/em>, seperti nama Tol Layang Cikampek diganti menjadi Tol MBZ<\/strong>\u201d<\/p>\n<p><em>Sharing \u00a0Session<\/em> \u00a0dalam \u00a0BINWAS Perencanaan Bidang Infrastruktur<strong>\u201d<\/strong><\/p>\n<p>Jika pembangunan Jembatan Bogeg ini selesai diakhir Februari 2022, rencana akan diresmikan oleh Bapak Gubernur Banten sebagai buah tangan hasil kinerja selama 5 tahun menjadi Pemimpin Nomor 1 di Provinsi Banten. Potret keberhasilan pembangunan Jembatan Bogeg sebagai bentuk nyata pengabdian birokrat yang sangat berpengalaman dalam melakukan terobosan pembangunan di daerah. Penulis hanya ingin memberikan alternatif penamaan sebuah Jembatan Nomor satu yang terlebar di Indonesia ini dengan kearifan lokal dan inspirasi dari ulama besar Banten.<\/p>\n<table width=\"100%\">\n<tbody>\n<tr>\n<td><strong><em>Istilah <\/em><\/strong><strong><em>MUNAJAB <\/em><\/strong><strong><em>diambil dari nama <\/em><\/strong><strong><em>Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani <\/em><\/strong><strong><em>atau Syekh Nawawi al-Bantani (lahir di Tanara, Serang, 1230 H\/1813 M &#8211; meninggal di Mekkah, Hijaz 1314 H\/1897 M) adalah seorang ulama Indonesia bertaraf Internasional yang menjadi Imam Masjidil Haram. Ia bergelar al-Bantani karena berasal dari Banten, Indonesia. Ia adalah seorang ulama dan intelektual yang sangat produktif menulis kitab, jumlah karyanya tidak kurang dari 115 kitab yang meliputi bidang ilmu fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis. Karena kemasyhurannya, Syekh Nawawi al-Bantani kemudian dijuluki Sayyid Ulama al-Hijaz (Pemimpin Ulama Hijaz), al-Imam al-Muhaqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq (Imam yang Mumpuni ilmunya), A&#8217;yan Ulama al-Qarn al-Ram Asyar li al-Hijrah (Tokoh Ulama Abad 14 Hijriyah), hingga Imam Ulama al-Haramain, (Imam &#8216;Ulama Dua Kota Suci).<\/em><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Syekh Nawawi lahir di Kampung Tanara Desa Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa (dulu, sekarang Kecamatan Tanara), Kabupaten Serang, Banten pada tahun 1230 Hijriyah atau 1815 Masehi, dengan nama Muhammad Nawawi bin &#8216;Umar bin &#8216;Arabi al-Bantani. Dia adalah sulung dari tujuh bersaudara, yaitu Ahmad Syihabudin, Tamim, Said, Abdullah, Tsaqilah dan Sariyah. Ia merupakan generasi ke-12 dari Sultan Maulana Hasanuddin, raja pertama Banten Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon. Nasabnya melalui jalur Kesultanan Banten ini sampai kepada Nabi Muhammad.<\/em><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Ayah Syekh Nawawi merupakan seorang Ulama lokal di Banten, Syekh Umar bin Arabi al-Bantani, sedangkan ibunya bernama Zubaedah, seorang ibu rumah tangga biasa. Syaikh Nawawi menikah dengan Nyai Nasimah, gadis asal Tanara, Serang dan dikaruniai 3 orang anak: Nafisah, Maryam, Rubi&#8217;ah. Sang istri wafat mendahului Beliau.<\/em><\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<table width=\"100%\">\n<tbody>\n<tr>\n<td><strong>Oleh : Slamet Haryono<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>letak lokasi Jembatan Bogeg yang terletak di Jl. Syekh Moh. Nawawi Albantani No.Rt 01, RW.02, Banjaragung, Kec. Cipocok Jaya, Kota Serang, Banten 42121 yang kiranya sangat mendukung penamaan ini.<\/p>\n<p>Penulis mencoba mencari arti dari nama MUNAJAB yang arti sebenarnya dari beberapa referensi baik media online maupun cetak, ditemukan istilah MUNAJAB dengan arti sebagai berikut :<\/p>\n<p>\u201cOrang yang namanya Munajab adalah <strong>orang yang berani<\/strong>, <strong>cerdas<\/strong>, dan <strong>pekerja keras<\/strong>. Orang ini juga seorang <strong>teman yang setia.<\/strong> Ia memberikan <strong>banyak nasehat yang baik<\/strong> dan menjadi pasangan yang <strong>sangat dapat diandalkan<\/strong>.\u201d<\/p>\n<p>Berdasarkan arti kata MUNAJAB tersebut disimpulkan sebuah nama yang memberikan pengertian dan pemahaman yang sangat baik dan jauh dari suatu keburukan (tidak baik). Kenapa penulis harus mencari arti kata MUNAJAB ini? Penulis ingin meyakinkan diri bahwa \u201cMUNAJAB\u201d memiliki arti yang sesungguhnya adalah <strong>baik,<\/strong> bukan sesuatu yang buruk. Sehingga penamaan dengan kata \u201cMUNAJAB\u201d yang mengandung singkatan dari nama seorang ulama Indonesia bertaraf Internasional yang menjadi Imam Masjidil Haram yang bergelar An Bantani dan masih ada silsilah keturunan Nabi Muhammad SAW yaitu Ulama Banten \u201c<strong>Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani<\/strong>\u201d menjadi suatu yang baik. MUNAJAB sebagai bentuk penghormatan pula pada masyarakat Banten yang berani, cerdas, pekerja keras, setia, dan sangat dapat diandalkan, hal ini juga diharapkan selalu dapat melekat pada seluruh ASN Pemerintah Provinsi Banten.<\/p>\n<p>Penulis mencoba mencari referensi terkait Ulama besar ini, ditemukan data sebagai berikut :<\/p>\n<table width=\"100%\">\n<tbody>\n<tr>\n<td>Berikut adalah silsilah Syekh Nawawi al-Bantani sampai kepada Rasulullah \ufdfa:<\/p>\n<p>Syekh Nawawi al-Bantani bin<\/p>\n<p>Syekh Umar al-Bantani bin<\/p>\n<p>Syekh Arabi al-Bantani bin<\/p>\n<p>Syekh Ali al-Bantani bin<\/p>\n<p>Syekh Jamad al-Bantani bin<\/p>\n<p>Syekh Janta al-Bantani bin<\/p>\n<p>Syekh Masbuqil al-Bantani bin<\/p>\n<p>Syekh Maskun al-Bantani bin<\/p>\n<p>Syekh Masnun al-Bantani bin<\/p>\n<p>Syekh Maswi al-Bantani bin<\/p>\n<p>Syekh Tajul Arsy al-Bantani (Pangeran Sunyararas) bin<\/p>\n<p>Sultan Maulana Hasanuddin bin<\/p>\n<p>Sultan Syarif Hidayatullah bin<\/p>\n<p>Syarif Abdullah Umdatuddin Azmatkhan bin<\/p>\n<p>Sayyid Ali Nurul Alam Azmatkhan bin<\/p>\n<p>Sayyid Jamaluddin Akbar Azmatkhan al-Husaini (Syekh Jumadil Kubro) bin<\/p>\n<p>Sayyid Ahmad Jalal Syah Azmatkhan bin<\/p>\n<p>Sayyid Abdullah Azmatkhan bin<\/p>\n<p>Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin<\/p>\n<p>Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadramaut) bin<\/p>\n<p>Sayyid Muhammad Shahib Mirbath (Hadramaut) bin<\/p>\n<p>Sayyid Ali Khali&#8217; Qasam bin<\/p>\n<p>Sayyid Alawi ats-Tsani bin<\/p>\n<p>Sayyid Muhammad Sohibus Saumi&#8217;ah bin<\/p>\n<p>Sayyid Alawi Awwal bin<\/p>\n<p>Sayyid al-Imam &#8216;Ubaidillah bin<\/p>\n<p>Sayyid Ahmad al-Muhajir bin<\/p>\n<p>Sayyid &#8216;Isa Naqib ar-Rumi bin<\/p>\n<p>Sayyid Muhammad an-Naqib bin<\/p>\n<p>Sayyid al-Imam Ali Uradhi bin<\/p>\n<p>Sayyidina Ja&#8217;far ash-Shadiq bin<\/p>\n<p>Sayyidina Muhammad al-Baqir bin<\/p>\n<p>Sayyidina Ali Zainal Abidin bin<\/p>\n<p>Sayyidina Husain bin<\/p>\n<p>Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah az-Zahra binti<\/p>\n<p><strong>Sayyidina Muhammad <\/strong><strong>\ufdfa<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<table width=\"100%\">\n<tbody>\n<tr>\n<td><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Terlepas dari penamaan tersebut, Penulis menyampaikan beberapa fungsi dari pembangunan jembatan yaitu :<\/p>\n<ol>\n<li>Sebagai alat penyeberangan (menghubungkan dan akses)<\/li>\n<li>Sebagai sarana infrasutruktur.<\/li>\n<li>Sebagai penghubung dua ruas jalan yang dilalui rintangan (dalam hal ini jalan Tol).<\/li>\n<li>Meningkatkan perekonomian Daerah dan Negara karena akses untuk mengangkut barang dan permintaan jasa menjadi lebih mudah.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Pertimbangan penamaan \u201c<strong>MUNAJAB <em>Bridge<\/em><\/strong>\u201d untuk Jembatan Bogeg yang baru, sudah berdasarkan pada Kearifan Budaya Lokal, penghormatan pada Ulama Besar yang produktif menulis (kitab) dan yang menginspirasi tidak hanya masyarakat Banten tapi masyarakat Indonesia pada umumnya, simbol masyarakat yang berani (positif), cerdas, pekerja keras, setia dan bisa diandalkan untuk kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat, serta sebagai pengingat agar kita selalu berperilaku dan berakhlakul karimah sesuai misi dan tujuan dibentuknya Provinsi Banten.<\/p>\n<p>Sebagai perbandingan penulis sampaikan Jembatan-Jembatan yang ada di provinsi lainnya (seperti Jembatan Sukarno di Manado-Sulsel, Jembatan Merah Putih di Ambon-Maluku, Jembatan Teluk Kendari-Sultra, Jembatan Suramadu-Jawa Timur, dll), sebagaimana gambaran,<\/p>\n<p>Sosok jembatan-jembatan di atas, saat ini sudah menjadi simbol \u201c<strong><em>icon<\/em><\/strong>\u201d di kota besar di provinsinya masing-masing. Demikian halnya dengan jembatan yang dimiliki Provinsi Banten dengan nama \u201c<strong>MUNAJAB <em>Bridge<\/em><\/strong>\u201d akan menjadi icon Banten dan bahkan icon di Indonesia, yang akan mampu menggambarkan wujud dan inspirasi kearifan lokal dan penghormatan kepada Ulama besar Banten, serta menggambarkan Masyarakat Banten yang berakhlakul karimah dan menjadi simbol masyarakat yang berani, cerdas, pekerja keras, setia, dan sangat dapat diandalkan, sebagaimana misi dan tujuan dari Pemerintah provinsi Banten.<\/p>\n<p>Penulis tidak berharap banyak dengan tulisan ini, tapi paling tidak penulis sudah bisa menyampaikan suatu jawaban dari pertanyaan Pemimpin Nomor 1 di Provinsi banten saat melakukan kunjungan ke Jembatan Bogeg bahwa \u201c<strong><em>Nama Jembatan Bogeg kelihatannya harus diganti dengan yang lebih pas (pantas)<\/em><\/strong>\u2026.\u201d. Terlepas dari pantas atau pas dengan penamaan jembatan yang baru terbangun dengan nama \u201c<strong>MUNAJAB <em>Bridge<\/em><\/strong>\u201d sebagai pengganti nama Jembatan Lama (BOGEG), Penulis sudah membahas dan menjelaskan secara singkat terkait latar belakang, alasan pertimbangan dan penjelasan untuk mengangkat nama Ulama besar Banten dan internasional dengan akronimisasi dari nama Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani (Syekh MUNAJAB) menjadi Jembatan MUNAJAB atau <strong>MUNAJAB <em>Bridge<\/em><\/strong>.<\/p>\n<p>Dengan nama ini semoga akan memberikan keberkahan bagi Pemerintah Banten dan Masyarakat Banten pada umumnya. <strong><em>Semoga manfaat<\/em><\/strong>\u2026.. <strong><em>Salam Sehat Selalu<\/em><\/strong> \u2026.(25122021)<\/p>\n<p><em>\u00a0<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Jembatan lama akan dibongkar. Nama kalau perlu disayembarakan, jangan namanya Bogeg,&#8221; kata Wahidin. \u201cSebut Saja \u2026. MUNAJAB Bridge, seperti nama Tol Layang Cikampek diganti menjadi Tol MBZ\u201d Sharing \u00a0Session \u00a0dalam \u00a0BINWAS Perencanaan Bidang Infrastruktur\u201d Jika pembangunan Jembatan Bogeg ini selesai diakhir Februari 2022, rencana akan diresmikan oleh Bapak Gubernur Banten sebagai buah tangan hasil kinerja [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":865,"featured_media":100006488,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_bbp_topic_count":0,"_bbp_reply_count":0,"_bbp_total_topic_count":0,"_bbp_total_reply_count":0,"_bbp_voice_count":0,"_bbp_anonymous_reply_count":0,"_bbp_topic_count_hidden":0,"_bbp_reply_count_hidden":0,"_bbp_forum_subforum_count":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1727],"class_list":{"0":"post-100006487","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-uncategorized","8":"tag-munajab-bridge"},"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Slide1.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100006487","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/865"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100006487"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100006487\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":100006491,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100006487\/revisions\/100006491"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100006488"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100006487"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100006487"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100006487"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}