{"id":100006013,"date":"2022-01-10T20:54:46","date_gmt":"2022-01-10T13:54:46","guid":{"rendered":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/?p=100006013"},"modified":"2022-01-10T20:54:46","modified_gmt":"2022-01-10T13:54:46","slug":"pudarnya-bahasa-indonesia-di-kalangan-generasi-milenial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/pudarnya-bahasa-indonesia-di-kalangan-generasi-milenial\/","title":{"rendered":"Pudarnya Bahasa Indonesia di Kalangan Generasi Milenial"},"content":{"rendered":"<p>Bahasa mempunyai peran penting dalam perkembangan intelektual, sosial dan emosional bagi kalangan pelajar ataupun mahasiswa di era milenial. Penggunaan bahasa gaul dikalangan remaja di era milenial merupakan salah satu tantangan eksistesi bahasa indonesia sebagai bahasa pemersatuan dan bahasa negara. Bahkan tanpa kita sadari bahasa indonesia semakin lama semakin pudar karna seringnya menggunkan bahsa GAUL.<\/p>\n<p>Berbahasa Indonesia yang baik dan benar\u00a0adalah menggunaan\u00a0bahasa Indonesia\u00a0yang sesuai dengan situasi pembicaraan dan sesuai dengan kaidah tata\u00a0bahasa\u00a0dalam PUEBI. Namun pada kenyataannya, fungsi bahasa Indonesia mulai tergeser oleh bahasa asing ataupun bahasa gaul yang sering digunakan para remaja di era milenial. Hal inilah yang menjadi salah satu penghambat perkembangan bahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan masyarakat saat ini<\/p>\n<p>Di era milenial mungkin saja beranggapan bahwa penggunaan bahasa asing dan bahasa gaul membuat mereka akan terlihat lebih keren dengan alasan mempermudah komunikasi di era globalisi saat ini. Sebagai generasi milenial yang kehidupannya tak bisa jauh dari smartphone untuk mengakses media sosial , harusnya bisa berperan aktif dalam mempertahankan bahasa indonesia.<\/p>\n<p>Berikut adalah contoh penggunaan bahasa gaul dikalangan generasi milenial:<\/p>\n<p><strong><em>Fundul<\/em><\/strong> artinya hampir sama seperti kepo, pengen tau baget<\/p>\n<p><strong><em>Galau<\/em><\/strong> artinya suatu bentuk perasaan yang kurang nyaman, gelisah, bingung,\u00a0<strong>sedih<\/strong>, menyesal, dan sebagainya<\/p>\n<p><strong><em>Mager <\/em><\/strong>singkatan dari\u00a0 Males gerak. Mager bahkan sudah masuk dalam KBBI. Menurut KBBI mager berarti malas (ber)gerak; enggan atau sedang tidak bersemangat untuk melakukan aktivitas.<\/p>\n<p><strong><em>GWS <\/em><\/strong>singkatan dari\u00a0 Get Well Soon. Yang memiliki arti semoga cepet sembuh. Kalimat ini biasa digunakan ketika ada teman atau kerabat yang sedang sakit atau tidak enak badan.<\/p>\n<p><strong><em>LOL <\/em><\/strong>singkatan dari\u00a0 loud of laugh\u201d yang berarti tertawa keras (ngakak), kata ini digunakan sebagai pesan teks ketikan percakapan ada yang lucu.<\/p>\n<p><strong>Narsis <\/strong>\u00a0adalah istilah populer di kalangan anak muda Indonesia yang biasanya digunakan untuk mendeskripsikan orang-orang yang terlalu percaya diri dan hobi pamer selfie.<\/p>\n<p><strong><em>Unyu<\/em><\/strong> artinya lucu atau imut. Istilah untuk menggambarkan kelucuan sesuatu.<\/p>\n<p><strong><em>Mainstream <\/em><\/strong>artinya arus utama.\u00a0Kata\u00a0tersebut dapat diartikan sebagai suatu hal yang sudah lumrah, sudah umum, dan wajar dilakukan oleh banyak orang.<\/p>\n<p><strong><em>Kieep<\/em><\/strong> artinya kondisi dimana seseorang tidak bisa membalas perkataan lawannya. Di KBBI, kicep diartikan sebagai &#8220;diam karena takut atau gelisah<\/p>\n<p><strong>Alay <\/strong>singkatan dari\u00a0 anak layangan; gaya hidup yang berlebihan untuk menarik perhatian.<\/p>\n<p><strong><em>Gengges<\/em><\/strong> berasal dari\u00a0kata\u00a0dasar ganggu, namun diubah huruf terakhirnya dengan &#8216;es&#8217;.<\/p>\n<p><strong><em>Hoax <\/em><\/strong>artinya Berita bohong (bahasa\u00a0Inggris:\u00a0hoax) adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya.<\/p>\n<p><strong><em>Baper <\/em><\/strong>singkatan dari\u00a0 Bawa Perasaan. Istilah gaul ini merujuk pada seseorang yang memasukkan ke hati segala ucapan dan tindakan orang lain.<\/p>\n<p>Dengan itu kita sebagai warga negara yang baik harus terus menjujung tinggi bahasa persatuan. Beberapa upaya yang harus dilakukan guna melestarikan bahasa indonesia adalah sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li>Mempelajari sejarah bahasa dan perkembanganya.<\/li>\n<li>Membiasakan diri berbiacara menggunakan bahasa indonesia.<\/li>\n<li>Tidak menggunakan bahasa asing dan bahasa gaul secara berlebihan<\/li>\n<li>Meningkatkan rasa kebanggaan dengan menggunakan bahasa indonesia<\/li>\n<li>Menjadikan lembaga pendidikan sebagai basis pembinaan bahasa<\/li>\n<li>Perlu adanya pemahaan terhadap bahasa yang baik dan benar<\/li>\n<\/ol>\n<p>Disusun Oleh:<\/p>\n<p>SRI ANTINI (201011250363)<\/p>\n<p>02SAKE003 UNIVERSITAS PAMULANG<\/p>\n<p>Dosen :<\/p>\n<p>DEWI RINI GUSTIASARI<\/p>\n<p>TUGAS BAHASA INDONESIA<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bahasa mempunyai peran penting dalam perkembangan intelektual, sosial dan emosional bagi kalangan pelajar ataupun mahasiswa di era milenial. Penggunaan bahasa gaul dikalangan remaja di era milenial merupakan salah satu tantangan eksistesi bahasa indonesia sebagai bahasa pemersatuan dan bahasa negara. Bahkan tanpa kita sadari bahasa indonesia semakin lama semakin pudar karna seringnya menggunkan bahsa GAUL. Berbahasa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":809,"featured_media":100006014,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_bbp_topic_count":0,"_bbp_reply_count":0,"_bbp_total_topic_count":0,"_bbp_total_reply_count":0,"_bbp_voice_count":0,"_bbp_anonymous_reply_count":0,"_bbp_topic_count_hidden":0,"_bbp_reply_count_hidden":0,"_bbp_forum_subforum_count":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[45],"tags":[1464],"class_list":{"0":"post-100006013","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-sosial","8":"tag-bahasaindonesia"},"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/download-2.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100006013","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/809"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100006013"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100006013\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":100006058,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100006013\/revisions\/100006058"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100006014"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100006013"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100006013"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100006013"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}