{"id":100004904,"date":"2021-12-13T23:38:32","date_gmt":"2021-12-13T16:38:32","guid":{"rendered":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/?p=100004904"},"modified":"2021-12-13T23:38:32","modified_gmt":"2021-12-13T16:38:32","slug":"wayang-golek-kesenian-khas-sunda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wayang-golek-kesenian-khas-sunda\/","title":{"rendered":"Wayang Golek Kesenian Khas Sunda"},"content":{"rendered":"<p>Wayang golek merupakan salah satu merupakann warisan budaya Indonesia yang terdapat didaerah sunda jawa barat. Wayang golek merupakan sebuah pertunjukan wayang dari boneka kayu. Seperti wayang pada umumnya wayang golek diiringi oleh musik ketika ditampilkan. Biasanya dari alat music gamelan yang sering disebut slendro. Dalam gamelan sunda, alat-alat diantaranya adalah saron, peking, selentem, kenong, gong, kempul, kendang indung, kendang kulanter, gambang dan rebab. Juga akan ada sinden yang akan mengiringi pertunjukan wayang golek dengan nyanyian yang merdu.<\/p>\n<p>Asal mula wayang golek tidak diketahui secara jelas karena tidak ada keterangan lengkap, baik tertulis maupun lisan. Kehadiran wayang golek tidak dapat dipisahkan dari wayang kulit karena wayang golek merupakan perkembangan dari wayang kulit.<\/p>\n<p>Pertunjukan seni wayang golek merupakan seni pertunjukan teater rakyat yang banyak dipagelarkan. Selain berfungsi sebagai pelengkap upacara selamatan atau ruwatan, pertunjukan seni wayang golek juga menjadi tontonan dan hiburan dalam perhelatan tertentu. Sejak 1920-an, selama pertunjukan wayang golek diiringi oleh sinden. Popularitas sinden pada masa-masa itu sangat tinggi sehingga mengalahkan popularitas dalang wayang golek itu sendiri, terutama ketika zamannya Upit Sarimanah dan Titim Patimah sekitar tahun 1960-an.<\/p>\n<p>Wayang golek saat ini lebih dominan sebagai seni pertunjukan rakyat, yang memiliki fungsi yang relevan dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat lingkungannya, baik kebutuhan spiritual maupun material. Hal demikian dapat kita lihat dari beberapa kegiatan di masyarakat misalnya ketika ada perayaan, baik hajatan (pesta kenduri) dalam rangka khitanan, pernikahan dan lain-lain adakalanya diriingi dengan pertunjukan wayang golek.<\/p>\n<p>Sekitar tahun 1583,\u00a0Sunan Kudus\u00a0yang merupakan salah satu penyebar agama\u00a0Islam\u00a0di\u00a0pulau Jawa\u00a0pernah membuat kurang lebih 70 buah wayang dari kayu. Wayang tersebut dipertontonkan di siang dan malam hari dengan sumber cerita lokal atau imajinasi sendiri yang tentunya sarat dengan pesan agama Islam.\u00a0Sunan Kudus\u00a0menggunakan bentuk wayang golek awal ini untuk menyebarkan Islam di masyarakat.<\/p>\n<p>Munculnya kesenian wayang kayu lahir dan berkembang di wilayah pesisir utara\u00a0pulau Jawa\u00a0pada awal abad ke-17. Dikarenakan masyarakat\u00a0Jawa Tengah\u00a0dan\u00a0Jawa Timur\u00a0telah terlebih dahulu mengenal\u00a0wayang kulit, kehadiran wayang golek kurang begitu berkembang, karena masyarakat disana terlanjur menggemari\u00a0wayang kulit. Namun wayang golek\u00a0Sunan Kudus\u00a0itu menarik hati dari ulama atau sekurang-kurangnya santri\u00a0Cirebon\u00a0yang sedang berkunjung (atau berguru) ke wilayah Sunan Kudus. Akhirnya ide wayang golek itu dibawa ke\u00a0Cirebon.<\/p>\n<p>Pementasan wayang golek di tanah\u00a0Parahyangan\u00a0dimulai sejak\u00a0Kesultanan Cirebon\u00a0berada di tangan\u00a0Panembahan Ratu\u00a0(1540-1650) cicit dari\u00a0Sunan Kudus. Yang dipertunjukan saat itu adalah\u00a0wayang cepak\u00a0(atau wayang golek papak), disebut demikian karena memiliki bentuk kepala yang datar.<\/p>\n<p>Sekitar tahun 1583,\u00a0Sunan Kudus\u00a0yang merupakan salah satu penyebar agama\u00a0Islam\u00a0di\u00a0pulau Jawa\u00a0pernah membuat kurang lebih 70 buah wayang dari kayu. Wayang tersebut dipertontonkan di siang dan malam hari dengan sumber cerita lokal atau imajinasi sendiri yang tentunya sarat dengan pesan agama Islam.\u00a0Sunan Kudus\u00a0menggunakan bentuk wayang golek awal ini untuk menyebarkan Islam di masyarakat.<\/p>\n<p>Munculnya kesenian wayang kayu lahir dan berkembang di wilayah pesisir utara\u00a0pulau Jawa\u00a0pada awal abad ke-17. Dikarenakan masyarakat\u00a0Jawa Tengah\u00a0dan\u00a0Jawa Timur\u00a0telah terlebih dahulu mengenal\u00a0wayang kulit, kehadiran wayang golek kurang begitu berkembang, karena masyarakat disana terlanjur menggemari\u00a0wayang kulit. Namun wayang golek\u00a0Sunan Kudus\u00a0itu menarik hati dari ulama atau sekurang-kurangnya santri\u00a0Cirebon\u00a0yang sedang berkunjung (atau berguru) ke wilayah Sunan Kudus. Akhirnya ide wayang golek itu dibawa ke\u00a0Cirebon.<\/p>\n<p>Pementasan wayang golek di tanah\u00a0Parahyangan\u00a0dimulai sejak\u00a0Kesultanan Cirebon\u00a0berada di tangan\u00a0Panembahan Ratu\u00a0(1540-1650) cicit dari\u00a0Sunan Kudus. Yang dipertunjukan saat itu adalah\u00a0wayang cepak\u00a0(atau wayang golek papak), disebut demikian karena memiliki bentuk kepala yang datar.<\/p>\n<p>Sebagaimana alur cerita pewayangan umumnya, dalam pertunjukan wayang golek juga biasanya memiliki lakon-lakon baik galur maupun carangan. Alur cerita dapat diambil dari cerita rakyat seperti penyebaran agama Islam oleh Walangsungsang dan Rara Santang maupun dari epik yang bersumber dari cerita\u00a0Ramayana\u00a0dan\u00a0Mahabarata\u00a0dengan menggunakan\u00a0bahasa Sunda<\/p>\n<p>Perkembangan wayang golek pada dari abad 19 hingga abad ke 20 tidak lepas dari para\u00a0Dalang\u00a0yang terus mengembangkan seni tradisional ini, salah satunya Ki H.\u00a0Asep Sunandar Sunarya\u00a0yang telah memberikan inovasi terhadap wayang golek agar bisa mengikuti perkembangan zaman, salah satu kreativitasnya yaitu si\u00a0Cepot\u00a0di mana di tangan dia kini wayang golek tidak hanya seni yang dikatakan kuno, tetapi seni tradisional yang harus dikembangkan pada era modern sekarang ini.<\/p>\n<p>Namun diera modern ini seni pertunjukan wayang golek sudah mulai terlupakan kalah dengan pertunjukan pertunjukan modern. Agar wayang golek tetap lestari maka kita sebagai anak muda patut melestarikan kebudayaan dari nenek moyang agar tidak tertelan dengan era globalisasi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wayang golek merupakan salah satu merupakann warisan budaya Indonesia yang terdapat didaerah sunda jawa barat. Wayang golek merupakan sebuah pertunjukan wayang dari boneka kayu. Seperti wayang pada umumnya wayang golek diiringi oleh musik ketika ditampilkan. Biasanya dari alat music gamelan yang sering disebut slendro. Dalam gamelan sunda, alat-alat diantaranya adalah saron, peking, selentem, kenong, gong, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":374,"featured_media":100004905,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_bbp_topic_count":0,"_bbp_reply_count":0,"_bbp_total_topic_count":0,"_bbp_total_reply_count":0,"_bbp_voice_count":0,"_bbp_anonymous_reply_count":0,"_bbp_topic_count_hidden":0,"_bbp_reply_count_hidden":0,"_bbp_forum_subforum_count":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[42],"tags":[1227,278,1225,400,133,1224,1226],"class_list":["post-100004904","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-sastra","tag-golek","tag-indonesia","tag-kebudayaan","tag-sastra","tag-seni","tag-sunda","tag-wayang"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/wayang-golek-1.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100004904","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/374"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100004904"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100004904\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":100004929,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100004904\/revisions\/100004929"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100004905"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100004904"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100004904"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100004904"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}