{"id":100004789,"date":"2021-12-10T22:22:05","date_gmt":"2021-12-10T15:22:05","guid":{"rendered":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/?p=100004789"},"modified":"2021-12-10T22:22:05","modified_gmt":"2021-12-10T15:22:05","slug":"isu-climate-changes-dalam-sektor-agriculture","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/isu-climate-changes-dalam-sektor-agriculture\/","title":{"rendered":"Isu Climate Changes dalam Sektor Agriculture"},"content":{"rendered":"<p style=\"margin: 0cm; text-align: center;\" align=\"center\"><strong><span style=\"color: black;\">Oleh : Kayla Miradiani<\/span><\/strong><\/p>\n<p style=\"margin: 0cm; text-align: center;\" align=\"center\"><strong><span style=\"color: black;\">Mahasiswi Pertanian Universitas Singaperbangsa Karawang\u00a0<\/span><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; line-height: 115%; margin: 12.0pt 0cm 12.0pt 0cm;\"><span style=\"color: black;\">Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti course kegiatan Kredensial Mikro Mahasiswa Indonesia. Course yang bertemakan <i>Building Sustainable Agriculture Ecosystem Through Technology and Innovation <\/i>merupakan kolaborasi antara IPB University x TaniHub Group.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; line-height: 115%; margin: 12.0pt 0cm 12.0pt 0cm;\"><span style=\"color: black;\">Dalam course tersebut ada hal yang menarik perhatian saya mengenai dunia pertanian, yaitu <i>climate changes issue. <\/i>Begitu saya mendengar isu tersebut, yang terlintas dalam pikiran saya adalah seberapa berpengaruh perubahan iklim terhadap kegiatan pertanian. Menurut saya, kegiatan pertanian akan tetap berjalan lancar walaupun iklim berubah, tetapi saya harus membuang jauh pikiran tersebut dan merubah mindset saya mengenai isu perubahan iklim.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; line-height: 115%; margin: 12.0pt 0cm 12.0pt 0cm;\"><span style=\"color: black;\">Perubahan iklim merupakan isu global yang menyita perhatian dunia. Perubahan iklim kini menjadi masalah terbesar dalam kebijakan publik (Boateng &amp; Boateng, 2015). Tidak hanya berpengaruh dalam <i>social-economic<\/i>, secara ilmiah perubahan iklim diartikan sebagai perubahan sifat statistik dari sistem iklim (Francis, 2014).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; line-height: 115%; margin: 12.0pt 0cm 12.0pt 0cm;\"><span style=\"color: black;\">Isu perubahan iklim cukup berdampak pada semua sektor kegiatan. Salah satunya berkaitan dengan ketersediaan pangan dalam negeri. Aktor penting dalam ketahanan pangan adalah petani. Apakah petani mampu beradaptasi dengan keadaan alam yang tidak dapat dikendalikan?, dibutuhkan suatu pemahaman khusus dan holistik untuk mengedukasi petani.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; line-height: 115%; margin: 12.0pt 0cm 12.0pt 0cm;\"><span style=\"color: black;\">Perubahan iklim ternyata berdampak besar pada kegiatan pertanian. \u201cBeberapa dampak dari perubahan iklim adalah penentuan komoditas tanam, waktu tanam berhubungan dengan kalender tanam, musim yang tidak teratur berkaitan dengan ketersediaan air, praktik pertanian konvensional yang masih dijalankan dan degradasi lahan berhubungan dengan kehilangan biodiversitas,\u201d ujar Andi Bachtiar selaku Tim TaniHub Group.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; line-height: 115%; margin: 12.0pt 0cm 12.0pt 0cm;\"><span style=\"color: black;\">Tanpa disadari, ternyata petani juga ikut berkontribusi dalam perubahan iklim.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; line-height: 115%; margin: 12.0pt 0cm 12.0pt 0cm;\"><span style=\"color: black;\">\u201cIsu global <i>climate changes<\/i>, dimana petani kita secara tidak langsung berkontribusi dalam perubahan lingkungan, cara budidaya, logistik, distribusi produk yang cukup jauh menimbulkan <i>carbon food print<\/i>,\u201d lanjut Andi Bachtiar.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; line-height: 115%; margin: 12.0pt 0cm 12.0pt 0cm;\"><span style=\"color: black;\">Fakta lapangan yang ada memberikan jawaban yang jelas, aktor utama dalam stabilitas pangan masih bersifat konvensional. Input pertanian kurang diperhatikan akan berdampak pada perubahan iklim secara cepat maupun lambat. Untuk meningkatkan produktivitas hasil, penggunaan input pertanian berbeda jauh dengan kesesuaian takaran. Tanpa disadari input yang demikian akan menyumbangan gas emisi yang memicu perubahan iklim secara berkelanjutan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; line-height: 115%; margin: 12.0pt 0cm 12.0pt 0cm;\"><span style=\"color: black;\">Padi sebagai bahan pangan pokok dalam produksinya harus mulai diusahakan secara ramah lingkungan. Lebih dari 90% padi tumbuh di lahan basah, membutuhkan banyak air, yang ternyata lingkungan tumbuh tersebut berkontribusi 11% dari emisi metana annual setara dengan 1-2 % emisi gas rumah kaca annual dunia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; line-height: 115%; margin: 12.0pt 0cm 12.0pt 0cm;\"><span style=\"color: black;\">Lalu, pendekatan apa yang dapat dilakukan untuk menghadapi perubahan iklim?<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; line-height: 115%; margin: 12.0pt 0cm 12.0pt 0cm;\"><span style=\"color: black;\">\u201c<i>Smart climate agriculture&#8221; <\/i>dapat dilakukan dengan usaha konservasi tanah, efisiensi penggunaan air, penentuan kalender tanam kaitannya dengan produktivitas hasil, dan <i>improve knowledge<\/i> petani. Pendekatan yang demikian dapat dilakukan secara konvensional, tepat guna, mudah, murah baik secara individu atau kelompok\u201d, ungkap Andi Bachtiar.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; line-height: 115%; margin: 12.0pt 0cm 12.0pt 0cm;\"><span style=\"color: black;\">Sejalan dengan pendapat tersebut, saya selaku mahasiswa yang <i>concern<\/i> di bidang pertanian, mengungkapkan hal yang sama bahwa untuk menghadapi isu perubahan iklim dapat dimulai dengan merubah kebiasaan kecil yang masih bersifat konvensional, yang nantinya diharapkan petani akan lebih mudah dalam menerapkan usaha yang ada. Jika petani dituntut untuk menghadapi suatu masalah dengan inovasi dan teknologi yang kekinian, saya rasa petani akan merasa kesulitan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; line-height: 115%; margin: 12.0pt 0cm 12.0pt 0cm;\"><span style=\"color: black;\">Dari praktik-praktik pertanian yang sudah diterapkan, kita sebagai mahasiswa pertanian bisa memberikan ide untuk memodifikasi dari praktik konvensional yang tidak ramah lingkungan menjadi praktik konvensional yang lebih ramah lingkungan, sehingga dalam rangka menghadapi perubahan iklim, petani bisa bertahan dengan konsep-konsep yang ada tanpa harus berpindah haluan untuk mempelajari teknologi baru yang mungkin saja sulit untuk diterapkan.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Kayla Miradiani Mahasiswi Pertanian Universitas Singaperbangsa Karawang\u00a0 Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti course kegiatan Kredensial Mikro Mahasiswa Indonesia. Course yang bertemakan Building Sustainable Agriculture Ecosystem Through Technology and Innovation merupakan kolaborasi antara IPB University x TaniHub Group. Dalam course tersebut ada hal yang menarik perhatian saya mengenai dunia pertanian, yaitu climate changes [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":651,"featured_media":100004792,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_bbp_topic_count":0,"_bbp_reply_count":0,"_bbp_total_topic_count":0,"_bbp_total_reply_count":0,"_bbp_voice_count":0,"_bbp_anonymous_reply_count":0,"_bbp_topic_count_hidden":0,"_bbp_reply_count_hidden":0,"_bbp_forum_subforum_count":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[21],"tags":[1203],"class_list":{"0":"post-100004789","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-opini","8":"tag-pertanian-kontribusimilenial-genz-petanimuda-agriculture-tanihub-kmmi-kampusmerdeka"},"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/2foto.png","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100004789","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/651"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100004789"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100004789\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":100004817,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100004789\/revisions\/100004817"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100004792"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100004789"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100004789"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100004789"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}