{"id":100004573,"date":"2021-12-05T20:46:32","date_gmt":"2021-12-05T13:46:32","guid":{"rendered":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/?p=100004573"},"modified":"2021-12-05T20:46:32","modified_gmt":"2021-12-05T13:46:32","slug":"pink-floyd-buruh-dan-tak-bangkitnya-pki","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/pink-floyd-buruh-dan-tak-bangkitnya-pki\/","title":{"rendered":"Pink Floyd, Buruh dan Tak Bangkitnya PKI"},"content":{"rendered":"<p>Setelah suntuk 8 jam di ruang kerja, memandang <em>laptop<\/em> dan kerjaan yang itu-itu saja, tumben sekali Budi(sahabat kecil) mengajak saya ikut dengannya. Ia adalah seorang mekanik alat berat di perusahaan konstruksi.<\/p>\n<p>Dengan Panther butut yang catnya sudah mengelupas sana-sini, kami menyapa jalan Puspitek yang gelap, melewati Taman Techno dan masuk tol Rawa Buntu. Saya memutar Another Brick In The Wall-Pink Floyd keras-keras dan menikmati embus angin malam yang membentur wajah\u2014sebab kaca mobil tak bisa ditutup\u2014sambil ikut menyanyi. \u201cLagu ini adalah bentuk protes Rogers terhadap dunia pendidikan&#8230;\u201d kata saya pada Budi. Ia tak menanggapi. \u201cDan Pink Floyd sepertinya berideologi komunis.\u201d Karena obrolan terputus, Budi sibuk menerima telepon sambil berkendara (bukan contoh yang baik), saya kecilkan volume sambil mengingat kembali perjalanan saya berkenalan dengan band rock beraliran psikedelik ini.<\/p>\n<p>Adalah Oppy dan Ode yang saban kali kami berkumpul selalu memutar lagu-lagunya, meskipun sesekali memang, Clapton dan Beatles menemani obrolan kami. Sayangnya mereka berdua luput menyadari elemen palu yang merupakan simbol perlawanan kaum buruh dalam video clip serangkaian lagu Pink Floyd, Run Like Hell, dan Waiting For The Worms.<\/p>\n<p>Mereka berdua, yang tidak menyukai apa pun yang berbau komunisme, tapi tak juga membencinya,tidak mengetahui bahwa orang tua Nick Mason dan Rogers Waters adalah anggota partai komunis. Padahal, album The Wall (1987) dengan tegas memperlihatkan latar belakang personil band itu. * \u201cKita ke pintu tol Pasar Rebo,\u201d kata Budi. Volume saya kencangkan ketika Mason memukul lonceng dengan palu pada pembuka lagu \u201cHigh Hopes\u201d. Ketika sampai di lokasi, Budi langsung bekerja. Ia memperbaiki alat penyapu aspal dan mobil-mobil tetap tak memelankan lajunya tak jauh dari tempat Budi bekerja. Terdengar, Ia bekerja dan bertaruh nyawa tanpa asuransi dan tunjangan apa pun. \u201cGajiku Cuma UMR pas. Tak lebih.\u201d Katanya. \u201cTanpa Jamsostek?\u201d \u201cTanpa Jamsostek!\u201d Saat kami minum es dekat pintu tol, alat berat dan pekerja kembali bekerja. Ia bilang \u201dKadang aku memperbaiki mesin yang masih menyala tanpa mematuhi prosedur keselamatan kerja sama sekali. Orang-orang atas gak mau rugi.\u201d Saya diam dan berpikir, tak perlu komunisme hidup lagi, asal perlawanan kaum buruh menjadi kesadaran setiap orang. Pasti orang-orang seperti Budi tak akan dibayang-bayangi kematian yang tak setimpal.<\/p>\n<p>November baru berakhir. Saya mengirim pesan whatsapp Ode dengan memakai kalimat Bhaga di akun youtube Paguyuban Pamitnya Meeting.<\/p>\n<p>Kenapa Komunis ga bangkit tahun ini?<\/p>\n<p>Ode membalas: Ngga tahu. Kenapa emang?<\/p>\n<p>Karena Kivlan Zen belum lama ini terbaring di IGD.<\/p>\n<p>Lalu saya <em>nonaktifkan HP<\/em>, berbaring dan <em>overthingking.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setelah suntuk 8 jam di ruang kerja, memandang laptop dan kerjaan yang itu-itu saja, tumben sekali Budi(sahabat kecil) mengajak saya ikut dengannya. Ia adalah seorang mekanik alat berat di perusahaan konstruksi. Dengan Panther butut yang catnya sudah mengelupas sana-sini, kami menyapa jalan Puspitek yang gelap, melewati Taman Techno dan masuk tol Rawa Buntu. Saya memutar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":612,"featured_media":100004574,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_bbp_topic_count":0,"_bbp_reply_count":0,"_bbp_total_topic_count":0,"_bbp_total_reply_count":0,"_bbp_voice_count":0,"_bbp_anonymous_reply_count":0,"_bbp_topic_count_hidden":0,"_bbp_reply_count_hidden":0,"_bbp_forum_subforum_count":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[21],"tags":[1139],"class_list":["post-100004573","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-opini","tag-pinkfloyd-buruh"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/PINK-FLOYD.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100004573","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/612"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100004573"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100004573\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":100004599,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100004573\/revisions\/100004599"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100004574"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100004573"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100004573"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100004573"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}