{"id":100004367,"date":"2021-11-30T09:37:51","date_gmt":"2021-11-30T02:37:51","guid":{"rendered":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/?p=100004367"},"modified":"2021-11-30T09:37:51","modified_gmt":"2021-11-30T02:37:51","slug":"fenomena-unik-campur-bahasa-anak-gaul-masa-kini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/fenomena-unik-campur-bahasa-anak-gaul-masa-kini\/","title":{"rendered":"Fenomena Unik Campur Bahasa Anak Gaul Masa Kini"},"content":{"rendered":"<p>Perkembangan bahasa di kalangan remaja saat ini kerap menggabungkan kosa kata bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia. Entah untuk terlihat gaul atau memang mereka terbiasa saja pakai bahasa Inggris. Tidak hanya di Jak-sel namun hampir di seluruh wilayah Jabodetabek. Walaupun pada akhirnya fenomena ini disebut dengan bahasa anak Jak-sel.<\/p>\n<p>Loh heh kenapa Jak-sel? Hehe sebenarnya ga ada bukti signifikan juga si bahwa Fenomena bahasa ini berawal dari jakarta selatan hanya saja kawasan Jakarta selatan identik dengan kaum borjunya. Nah hal tersebut mengundang masyarakat beranggapan anak jaksel kebanyakan anak gaul masa kini doyan ngobrol pakai bahasa Inggris campur bahasa Indonesia.<\/p>\n<p>Jika ditelisik, fenomena ini mirip dengan singlish atau Singapore-English, atau di Malaysia ada maylish atau Malaysia-English bukan hanya bahasa tongkrongan di kedua negara tersebut hampir disetiap kosa katanya ada campuran bahasa Melayu dan English.<br \/>\nBeberapa contoh campur bahasa ala anak Jak-sel gaes\u00a0:<\/p>\n<p>Literally = paling mendasar<br \/>\nWich is =yang mana<br \/>\nActually = sebenarnya<br \/>\nBasically = Pada dasarnya<br \/>\nPrefer = Lebih suka, lebih demen<br \/>\nPerhaps later = Mungkin nanti<br \/>\nNormally = Normalnya, secara normal<br \/>\nSeldom = Jarang<br \/>\nBecause why = Karena kenapa<br \/>\nWhatever = Terserah<\/p>\n<p>Berkaitan dengan campur bahasa diatas sosiolingustik hadir untuk menelisik fenomena tersebut sosiolingustik sendiri adalah ilmu mempelajri bahasa dan kaitan bahasa tersebut didalam masyarakat.<br \/>\nberikut ini beberapa faktor yang mempengaruhi pemakaian bahasa.<\/p>\n<p>&#8211; Status Sosial<br \/>\n&#8211; Tingkat Pendidikan<br \/>\n&#8211; Umur<br \/>\n&#8211; Tingkat Ekonomi<br \/>\n&#8211; Agama<br \/>\n&#8211; Jenis Kelamin<\/p>\n<p>Menurut pakar linguistik Universitas Indonesia, Bernadette Kushartanti, ini adalah risiko kontak bahasa.<br \/>\n&#8220;Hal ini tidak bisa dihindari karena memang ada interaksi setiap bahasa. Ada bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Korea, bahasa gaul, bahasa macam-macam yang membuat perkembangan bahasa seperti ini tidak bisa dihindari,&#8221; kata Bernadette saat dihubungi BBC News Indonesia. &#8220;Saya tidak mengatakan bahwa ini tidak mengkhawatirkan, tapi kita harus melihatnya dari dua sisi,&#8221; kata Bernadette.<\/p>\n<p>&#8220;Di satu sisi kita membutuhkan cara untuk tetap mengungkapkan bahasa dengan benar, tapi di sisi lain, bahasa juga punya fungsi. Kalau terlalu formal maka pada situasi tertentu kita akan menjadi terasing,&#8221; kata perempuan bergelar doktor itu.<\/p>\n<p>Gimana gaes sebenarnya ga ada masalah si dalam penggunaan bahasa tersebut hanya saja lebih mempertimbangka waktu penggunaan saja.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perkembangan bahasa di kalangan remaja saat ini kerap menggabungkan kosa kata bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia. Entah untuk terlihat gaul atau memang mereka terbiasa saja pakai bahasa Inggris. Tidak hanya di Jak-sel namun hampir di seluruh wilayah Jabodetabek. Walaupun pada akhirnya fenomena ini disebut dengan bahasa anak Jak-sel. Loh heh kenapa Jak-sel? Hehe sebenarnya ga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":565,"featured_media":100004270,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_bbp_topic_count":0,"_bbp_reply_count":0,"_bbp_total_topic_count":0,"_bbp_total_reply_count":0,"_bbp_voice_count":0,"_bbp_anonymous_reply_count":0,"_bbp_topic_count_hidden":0,"_bbp_reply_count_hidden":0,"_bbp_forum_subforum_count":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[21],"tags":[1074,372],"class_list":{"0":"post-100004367","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-opini","8":"tag-humaniora","9":"tag-sosial"},"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/IMG_20211127_174443.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100004367","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/565"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100004367"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100004367\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":100004378,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100004367\/revisions\/100004378"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100004270"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100004367"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100004367"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100004367"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}