{"id":100002898,"date":"2021-10-14T10:55:48","date_gmt":"2021-10-14T03:55:48","guid":{"rendered":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/?p=100002898"},"modified":"2021-10-14T10:55:48","modified_gmt":"2021-10-14T03:55:48","slug":"tata-kelola-vaksin-dan-herd-immunity-di-indonesia-dan-asean","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/tata-kelola-vaksin-dan-herd-immunity-di-indonesia-dan-asean\/","title":{"rendered":"Tata Kelola Vaksin dan Herd Immunity di Indonesia dan ASEAN"},"content":{"rendered":"<p>Pandemi Covid-19 secara global saat ini ada di gelombang ke-3 dunia, demikian disampaikan dr. Dicky Budiman, M.Sd. PH., Ph.D (cand.) praktisi dan peneliti Center for Environment and Population Health, Griffith University, Australia.<\/p>\n<p>\u201cSaat ini kita masih diatas, meskipun ada tren menurun tapi belum jelas tren-nya akan seperti apa. Belum benar-benar mengarah ke terkendali.\u201d katanya pada webinar yang diselenggarakan Universitas Paramadina dan Center IDS bertajuk \u201cTata Kelola Vaksin dan Herd Immunity di Indonesia dan ASEAN\u201d, Rabu (13\/10\/2021).<\/p>\n<p>Terkait kapan berakhirnya pandemi, Dicky menyatakan bahwa saat ini ada 2 skenario, skenario baik di akhir 2022 pandemi ini berakhir atau skenario buruk akhir 2025 baru berakhir.<\/p>\n<p>Dicky mengungkap bahwa nanti ada 3 kategori, terkendali, endemi atau epidemi. \u201cEndemi bukan berarti tidak berbahaya, yang membedakan tresholdnya saja. Seperti misalnya demam berdarah, kalau treshold terlewati ini bisa jadi wabah besar. Ini yang perlu kita hindari.\u201d<\/p>\n<p>Dicky mengingatkan akan adanya efek long covid. \u201cBisa diperkirakan secara ekonomi akan ada beban 5-10 tahun ke depan. Selesai pandemi Covid akan ada dampak ikutan panjang bisa 10-20 tahun ke depan.\u201d<\/p>\n<p>Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah potensi ledakan \u201cMeskipun ada yang memiliki imunitas, tapi level indonesia ini dalam transimisinya di penularan komunitas di level 4 WHO. Itu yang terburuk, artinya kita tidak dapat mendeteksi sebagian besar kasus infeksi.\u201d Katanya.<\/p>\n<p>Hendrik Therik\u00a0Assistant Protection Officer (Acting) UNHCR Indonesia menyatakan bahwa saat ini di Indonesia ada 13.743 pengungsi yang tersebar di beberapa\u00a0 wilayah.<\/p>\n<p>\u201cPengungsi diberikan oleh pemerintah fasilitas yang sama dengan WNI ketika terkena Covid-19, namun sejak 20 April hanya beberapa faskes saja yang melayani pengungsi untuk dirawat secara gratis.\u201d Katanya.<\/p>\n<p>Praktik baik inklusi pengungi dalam vaksinasi Covid-19 bersama pemerintah daerah telah dilakukan di beberapa daerah.<\/p>\n<p>\u201cContohnya di Aceh Timur pada awal Juni, saat kedatangan pengunsi Rohingnya, sehari kemudian pemerintah Aceh Timur memberikan vaksinasi. Daerah lainnya juga dilakukan vaksinasi di Pekanbaru, Kupang, dan di Jakarta. Selain itu juga dari PBB sendiri dan CSR dari lembaga lainnya,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Jika sebelumnya belum ada peraturan yang jelas, maka pada tanggal 21 September 2021 keputusan menteri kesehatan telah direvisi sehingga sudah ada pedoman resmi untuk para pemerintah daerah yang ingin melakukan vaksinasi di daerah.<\/p>\n<p>\u201cSaat ini sudah ada 3000 orang pengungsi yang telah menerima vaksinasi dosis 1 dari 10 ribu orang yang memenuhi kriteria,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Hendrik berharap vaksinasi dapat menjangkau lebih luas untuk para pengungsi. \u201cSemoga semakin banyak pengungsi yang dapat divaksin karena mereka hidup berdampingan bersama kita, sehingga mereka juga perlu diperhatikan karena tidak semua orang aman sebelum semua orang divaksinasi, termasuk juga pengungsi.\u201d Katanya.<\/p>\n<p>Dr. Tatok Djoko Sudiarto, Ketua Prodi Hubungan Internasional Universitas Paramadina mempertanyakan peran ASEAN yang terkesan diam menghadapi Pandemi Covid-19.<\/p>\n<p>\u201cKenapa saat pandemi ini ASEAN menjadi diam, apakah sifat dari covid ini yang membuat ASEAN diam sehingga setiap daerah dibiarkan untuk membuat kebijakan di daerah nya masing-masing? Katanya.<\/p>\n<p>Tatok mengingatkan pentingnya kerja bersama di regional ASEAN ini yang benefitnya sangat banyak baik dari sisi\u00a0cooperation,\u00a0capacity\u00a0dan\u00a0community.<\/p>\n<p>Ia juga mengungkap bahwa menurut IMF ada kerugian 9 triliun dolar dari krisis pandemi, bukan hanya kehilangan barang tapi juga jiwa.<\/p>\n<p>\u201cDalam hal pengadaan vaksin, terjadi ketidakseimbangan kesehatan global dalam hal pengeluaran, riset infrastruktur \u00a0dan inovasi. 5 negara besar dunia penduduknya hanya 9% populasi itu spendingnya 60% dari global spending,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>\u201cConstraint\u00a0dalam pengembangan vaksin ada permasalahan\u00a0intellectual property\u00a0(IP) regimes tadi disebut terkait global conspiration,\u201d kata Tatok.<\/p>\n<p>(***)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pandemi Covid-19 secara global saat ini ada di gelombang ke-3 dunia, demikian disampaikan dr. Dicky Budiman, M.Sd. PH., Ph.D (cand.) praktisi dan peneliti Center for Environment and Population Health, Griffith University, Australia. \u201cSaat ini kita masih diatas, meskipun ada tren menurun tapi belum jelas tren-nya akan seperti apa. Belum benar-benar mengarah ke terkendali.\u201d katanya pada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":100002899,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_bbp_topic_count":0,"_bbp_reply_count":0,"_bbp_total_topic_count":0,"_bbp_total_reply_count":0,"_bbp_voice_count":0,"_bbp_anonymous_reply_count":0,"_bbp_topic_count_hidden":0,"_bbp_reply_count_hidden":0,"_bbp_forum_subforum_count":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[684],"class_list":{"0":"post-100002898","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-uncategorized","8":"tag-herd-immunity"},"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/webinar-asean.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100002898","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100002898"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100002898\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":100002900,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100002898\/revisions\/100002900"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100002899"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100002898"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100002898"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100002898"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}