{"id":100001459,"date":"2021-10-02T16:10:27","date_gmt":"2021-10-02T09:10:27","guid":{"rendered":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/?p=100001459"},"modified":"2021-10-02T14:14:12","modified_gmt":"2021-10-02T07:14:12","slug":"kami-berekspresi-bukan-oligarki-yang-difasilitasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/kami-berekspresi-bukan-oligarki-yang-difasilitasi\/","title":{"rendered":"Kami Berekspresi Bukan Oligarki yang Difasilitasi"},"content":{"rendered":"<p>Apa yang ada di pikiran kalian mengenai politik? Konflik yang terjadi atau kemajuan negeri? Atau bahkan dunia politisi yang ingkar janji dan akhirnya korupsi?. Terkadang dari semua presepsi masyarakat kecil terhadap politik kebanyakan dari mereka memandang bahwa politik hanya sebatas konflik yang terjadi untuk menindas rakyat kecil, karena itu lah yang mereka alami. Ketika menyalonkan diri menyogok dengan kopi dan sarimi dengan tambahan janji-janji untuk memajukan negeri.<br \/>\nBanyak dari mereka yang janjinya terealisasi dan Amanah terhadap kepercayaan masyarakat. Tetapi tidak sedikit juga dari mereka yang menyepelekan kepercayaan yang sudah masyarakat berikan.<\/p>\n<p>Di suatu malam gelap yang diterangi rembulan terdapat dua orang pemuda yang sedang bermain catur di pos ronda. Dengan kopi dan kacang asin yang menjadi cemilan dikala bermain. Dengan iringan suara jangkrik dan cacing tanah yang saling bersautan.<br \/>\n\u201cSkak mat\u201d ucap salah satu pemuda yang sedang bermain catur tersebut sambil tersenyum licik kepada lawannya yang kalah.<br \/>\n\u201cGanti-ganti\u201d sewot pemuda yang satunya sambil menyusun kembali catur-catur tersebut.<br \/>\n\u201cAh sudahlah Di, hoam\u201d ucap pemuda itu kepada Andi sambil menguap dan langsung berbaring.<br \/>\n\u201cIya deh Rik\u201d jawab Andi kepada Arik sambil membereskan catur itu dan menyimpannya di sudut pos ronda tersebut.<\/p>\n<p>Andi dan Arik merupakan dua pemuda dari Kampung Tani yang sama-sama mempunyai latar belakang keluarga yang sederhana. Tetapi mereka mempunyai tekad untuk mengubah nasibnya dengan melanjutkan pendidikannya di Perguruan Tinggi Negri. Ketika Andi sedang memainkan HP nya terlintas ada berita politik dari media sosialnya.<\/p>\n<p>\u201cRik liat deh, saat masyarakat kesusahan mencari uang buat makan dan lain-lain di masa pandemi ini para pejabat malah menambah hartanya\u201d ucap Andi sambil memperlihatkan layer HP nya kepada Arik.<br \/>\n\u201cEh buset iya juga ya, kok bisa sih? Korupsi lagi nih pasti\u201d Arik langsung bangun saat melihat berita yang Andi berikan sambil membenarkan sarung yang ia gunakan.<br \/>\n\u201cHeh, suudzon mulu, mungkin dia ada bisnis lain kan\u201d sanggah Andi terhadap pernyataan yang dilontarkan Arik secara spontan sambil memukul pelan kepala Arik.<br \/>\n\u201cIya sih, tapi wajar ga sih? Hartanya naik sampai 70% gitu saat kebanyakan masyarakat di negeri ini kesusahan?\u201d tanya Arik kepada Andi dengan memainkan kedua alisnya naik turun secara bersamaan.<br \/>\n\u201cGa tau lah Rik\u201d jawab Andi sambil menggaruk kepalanya.<br \/>\n\u201cYang korupsi mah itu wakil ketua DPR RI Rik\u201d ujar Andi memberi tahu Arik.<br \/>\n\u201cWakil ketua DPR RI korupsi? Parah sih ga inget sama janjinya tuh\u201d ujar Arik dengan nada sedikit meninggi.<br \/>\n\u201cWah Di, di tempat duduk pertigaan jalan kan temboknya kosong tuh, kita buat mural yuk\u201d ajak Arik kepada Andi.<br \/>\n\u201cBoleh tuh sambil ngisi waktu kosong\u201d kata Andi menyetujui ajakan Arik sambil antusias.<\/p>\n<p>Dua hari kemudian setelah perbincangan di malam hari di pos ronda Andi dan Arik langsung menuju tempat yang dimaksud oleh Arik dengan peralatan seadanya. Mereka berangkat jam delapan malam dengan niatan begadang sambil membuat mural sesuai ajakan Arik. Setelah sampai di tempat tujuan mereka pun langsung membersihkan tembok yang kusam dipenuhi dengan debu. Meyiapkan peralatan dan mulai menggambar mural di tembok tersebut. Memilih membuat mural di malam hari karena Arik berpikir jika siang hari itu akan menimbulkan kerumunan anak kecil yang nantinya malah merusak mural yang mereka buat dan juga ketika membuatnya malam hari mereka tidak merasakan panasnya terik matahari.<br \/>\n\u201cBuat sketsanya dulu kali ya Rik?\u201d tanya Andi kepada Arik sambil memegang pensil.<br \/>\n\u201cIya Di. Nih dari sini\u201d titah Arik kepada Andi sambil menunjuk tembok yang akan di gambar.<\/p>\n<p>Mereka pun mulai menggambar dengan kreatifitas masing-masing. Kesunyian yang menyelimuti malah hari menjadikan suasana dingin yang tercipta. Aroma cat spray yang berkeliaran dari semprotan Andi dan Arik menemani malam mereka. Berjam-jam mereka lewati untuk menciptakan sebuah mural yang indah dan tentunya kritikan di dalamnya.<br \/>\n\u201cHuh akhirnya selesai juga\u201d ucap Arik sambil berbaring menghadap mural yang baru saja mereka buat.<br \/>\n\u201cMelanggar ga ya Rik ini tuh?\u201d tanya Andi dengan muka bingung.<br \/>\n\u201cNgga Di, santai aja, lagian kan kita cuma mengekspresikan kritikan melalui mural\u201d jawab Arik menyakinkan Andi.<br \/>\nMural yang bertuliskan \u201cTIKUS BERDASI YANG BERKELIARAN DI NEGERI\u201d dengan di hiasi gambaran tikus berdasi membuat mural semakin indah dan tentunya dengan warna yang dipadukan. Banyak warga yang memuji mereka karena bisa membuat tembok itu yang tadinya kusam menjadi indah. Di mata masyarakat, mural yang Andi dan Arik bikin hanya sebatas memperindah Kampung, mereka tidak ada pikiran bahwa mural itu nantinya akan membuat masalah bagi Kampung mereka.<\/p>\n<p>Satu minggu sudah mural itu menjadi primadona Kampung Tani tersebut dan menjadi spot foto khususnya bagi kalangan muda. Berfoto dan diupload di sosial media merupakan salah satu tujuan mereka. Satu bulan kemuadian saat Andi dan Arik ingin lebih memperindah mural yang sempat mereka buat tiba-tiba mereka melihat sekitar 10 orang di depan mural itu, 7 orang yang sedang menghapus mural yang mereka buat sedangkan 3 orang lainya merupakan warga sekitar yang sedang melihat. Andi dan Arik pun kaget melihat pemandangan seperti itu, lantas Arik pun langsung mendatanganinya.<br \/>\n\u201cIni ada apa pak?\u201d tanya Arik kepada bapak-bapak yang sedang menghapus mural itu dengan muka kebingungan.<br \/>\n\u201cApakah kamu yang membuat mural ini?\u201d tanya balik bapak tersebut yang menggunakan seragam.<br \/>\n\u201cIya itu hasil tangan saya dan teman saya, kenapa bapak malah menghapusnya?\u201d jawab Arik dengan nada yang sedikit meninggi. Tentu saja, siapa yang tidak kesal jika hasil karyanya yang dibuat dengan susah payah malah dirusak oleh orang lain.<br \/>\n\u201cRik sabar Rik\u201d ucap Andi menenangkan Arik.<br \/>\n\u201cKami menghapusnya karena ini tidak layak untuk dipertontonkan\u201d jawab bapak-bapak tersebut.<br \/>\n\u201ckenapa pak? Kenapa tidak layak? Apakah bapak tersinggung?\u201d tanya Arik dengan sarkas kepada bapak berseragam tersebut.<br \/>\n\u201cJaga ucapan kamu, sudah lanjutkan jangan dengarkan pemuda ini\u201d titah bapak tersebut kepada rekan kerjanya.<br \/>\n\u201cKami hanya berekspresi pak, bukan oligarki yang difasilitasi\u201d ujar Arik dengan kesal. Ucapan Arik tadi sesungguhnya menyinggung para kaum politik elit yang hartanya semakin bertambah sesuai berita yang diberi tahukan oleh Andi saat di pos ronda. Dan Ketika Arik mengucapkan kata-kata itu, bapak berseragam pun langsung menoleh dengan diam, sementara rekan kerja dari bapak tersebut hampir selesai untuk menutupi mural yang dibuat oleh Andi dan Arik.<\/p>\n<p>\u201cRik sudah lah, mungkin mereka juga hanya menjalankan perintah\u201d ucap Andi memberikan pengertian kepada Arik.<br \/>\n\u201cTapi Di..\u201d belum selesai Arik berbicara, tiba-tiba saja warga memotong pembicaraannya.<br \/>\n\u201cNak Andi, bawa Nak Arik ini duduk dulu biar tenang\u201d ujar bapak tua salah satu warga setempat yang melihat perdebatan mereka.<br \/>\n\u201cBaik pak, ayo Rik\u201d ajak Andi kepada Arik untuk duduk di rumah warga yang dekat dari temapat mereka tadi, sehingga mereka bisa melihat para petugas yang sudah hampir selesai menutupi mural yang mereka buat.<br \/>\nDari kejauhan Arik dan Andi melihat bapak yang menggunakan seragam dengan warga yang menyuruh Andi dan Arik duduk, sedang berbincang. Mereka bisa melihat bapak-bapak itu, tapi tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Tidak lama dari itu warga yang tadi berbincang dengan petugas, akhirnya menghampiri Andi dan Arik.<\/p>\n<p>\u201cBiar bapak jelaskan ya, kamunya yang tenang dulu nak Arik\u201d ucap bapak tersebut dengan pelan sambil mengusap pelan Pundak Arik.<br \/>\n\u201cIya pak Agus\u201d ya dia adalah Agus, ketua RW dari kampung Tani.<br \/>\n\u201cGambar yang kamu dan Andi buat itu sangat bagus, bisa memperindah Kampung Tani kita ini, banyak juga kan warga yang mengapresiasi gambar kamu dan Andi. Tapi itu melanggar peraturan nak Arik\u201d jelas pak Agus kepada Andi dan Arik.<br \/>\n\u201cKalo boleh tau langgaran apa ya pak?\u201d tanya Andi yang belum mengerti.<br \/>\n\u201cLarangan tempat umum yang dijadikan sebagai aksi vandalisme nak Andi\u201d jelas pak Agus agar Andi dan Arik mengerti.<br \/>\n\u201cIya pak\u201d jawab Arik yang mulai mengerti.<br \/>\nMereka hanya ingin mengekspresikan kritikan mereka terhadap negeri, tidak salah secara keseluruhan. Para petugas juga hanya menjalankan perintah, mereka bekerja. Setelah diberikan penjelasan oleh pak RW tadi Andi dan Arik pun mulai mengerti, dan Arik yang mulai tenang dan pulang meninggalkan tempat tersebut dengan muka kusutnya dan membawa hati yang kecewa.<\/p>\n<p>(***)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apa yang ada di pikiran kalian mengenai politik? Konflik yang terjadi atau kemajuan negeri? Atau bahkan dunia politisi yang ingkar janji dan akhirnya korupsi?. Terkadang dari semua presepsi masyarakat kecil terhadap politik kebanyakan dari mereka memandang bahwa politik hanya sebatas konflik yang terjadi untuk menindas rakyat kecil, karena itu lah yang mereka alami. Ketika menyalonkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":171,"featured_media":100001460,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_bbp_topic_count":0,"_bbp_reply_count":0,"_bbp_total_topic_count":0,"_bbp_total_reply_count":0,"_bbp_voice_count":0,"_bbp_anonymous_reply_count":0,"_bbp_topic_count_hidden":0,"_bbp_reply_count_hidden":0,"_bbp_forum_subforum_count":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[44],"tags":[304],"class_list":{"0":"post-100001459","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-cerpen","8":"tag-cerpenpolitik"},"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/feac6cad529619a1a07c254c7206d98e.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100001459","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/171"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100001459"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100001459\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":100001481,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100001459\/revisions\/100001481"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100001460"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100001459"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100001459"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100001459"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}