{"id":100000875,"date":"2021-09-21T07:35:08","date_gmt":"2021-09-21T00:35:08","guid":{"rendered":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/?p=100000875"},"modified":"2021-09-21T07:35:08","modified_gmt":"2021-09-21T00:35:08","slug":"transformasi-ekonomi-indonesia-menyiasati-middle-income-trap","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/transformasi-ekonomi-indonesia-menyiasati-middle-income-trap\/","title":{"rendered":"Transformasi Ekonomi Indonesia: Menyiasati &#8216;Middle Income Trap&#8217;"},"content":{"rendered":"<p><strong>Indonesia<\/strong> termasuk dalam klasifikasi sebagai negara yang mengalami middle income trap, demikian disampaikan Dr. Iin Mayasari Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Paramadina dalam webinar \u201cTransformasi Ekonomi Indonesia: Menyiasati Jebakan Middle Income Trap.\u201d yang dipandu Direktur Paramadina Graduate School of Business, Dr. Adman Nursal.<\/p>\n<p>Middle income trap, sebuah istilah yang mengacu pada keadaan ketika sebuah negara berhasil mencapai ke tingkat pendapatan menengah, tetapi tidak dapat keluar dari tingkatan tersebut untuk menjadi negara maju.<\/p>\n<p>Negara berpenghasilan menengah (MIC) tidak hanya mengalami kesulitan untuk bersaing dengan\u00a0low-wage countries, tetapi juga kesulitan untuk bersaing dengan\u00a0high-technology countries.<\/p>\n<p>\u201cNegara yang terjebak dalam\u00a0middle income trap\u00a0disebabkan oleh sejumlah faktor yaitu kurangnya perlindungan sosial, rendahnya infrastruktur, kurangnya kemandirian pangan, birokrasi, kurangnya profesionalisme, dan kurangnya supremasi hukum.\u201d kata Iin, Selasa (21\/9\/2021).<\/p>\n<p>Pada pertengahan 2020, Indonesia berada pada\u00a0upper middle income \u00a0country. Pada Juli 2021, Indonesia kembali ke\u00a0lower middle income country.<\/p>\n<p>\u201cHal ini ditunjukkan dengan adanya GNI Indonesia di tahun 2020 turun menjadi 3870 dollar yang sebelumnya 4050 dollar. Indikator hal tersebut adalah \u00a0perubahan indikator dari kelas menengah atas, pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar, dan pertumbuhan populasi,\u201d ujar Iin.<\/p>\n<p>Prof. Didik J. Rachbini, Rektor Universitas Paramadian menyatakan bahwa dikarenakan krisis Indonesia turun lagi menjadi negara berpendapat menengah bawah karena pendapatan per kapita turun di bawah batas 4045 dollar AS.<\/p>\n<p>\u201cWorld Bank \u00a0mengklasifikasikan negara berpendapatan menengah bawah atau\u00a0Lower middle income\u00a0(pendapatan menengah ke bawah), antara USD 1.036 hingga 4.045.\u00a0 Sementara itu, kelompok negara berpendapatan menengah atas atau\u00a0Upper middle income\u00a0(pendapatan menengah ke atas), antara \u00a0USD 4.046 hingga 12.535,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Negara yang tidak bisa menerobos menjadi negara maju berpendapatan tinggi dan terus terjebak sangat lama dalam pendapatan di bawah 12 ribu dollar AS per kapita akan mengalami banyak masalah ekonomi dan sosial politik.<\/p>\n<p>\u201cTingkat kemiskinan masih tinggi diikuti oleh kesenjangan yang lebar. Ini memicu masalah sosial dan stabilitas politik yang rapuh,\u201d kata Didik.<\/p>\n<p>Indonesia sebagai negara dengan klasifikasi pendapatan\u00a0middle income\u00a0mengalami\u00a0middle income trap. \u201cKarena itu, tidak ada jalan lain bagi Indonesia kecuali dari jebakan negara berpendapatan menengah dengan\u00a0menjalankan\u00a0outward looking strategy, strategi daya saing, dan orientasi ekspor,\u201d\u00a0 kata Didik.<\/p>\n<p>Menurut Didik, kebijakan ini pernah dijalankan oleh Indonesia pada tahun 1980-an dan 1990-an dan menghasilkan tingkat pertumbuhan 7 persen rata-rata per tahun.\u00a0 Tetapi sayang itu tidak berlanjut sekarang karena tingkat pertumbuhan stagnan di tingkat 5 persen atau di bawahnya.<\/p>\n<p>Kekuatan ekonomi, lanjut Didik diukur dengan seberapa jauh Indonesia bisa bersaing dengan negara lain. \u201cKarena itu, kemampuan ekspor harus kuat dengan produk-produk industri bernilai tambah tinggi \u2013 bukan ekspor bahan mentah seeperti sekarang,\u00a0 industrialisasi dan hilirisasi perlu dikuatkan,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Menyinggung strategi promosi ekspor Didik memandang perlunya menghapus kendala melalui penyesuaian struktur untuk produksi yang efisien dan mampu bersaing di pasar internasional. \u201cBirokrasi harus efisien dan mendukung dunia usaha untuk masuk ke pasar internasional.\u201d katanya.<\/p>\n<p>Terkait dengan strategi promosi ekspor tersebut ia mengurai sejumlah dampak yang diharapkan \u201cMemperkuat posisi eksternal, memacu ekspor mencari peluang pasar, memperkuat dan memperluas ekspor komoditas tradisional, meningkatkan penerimaan produsen dan eksportir, menguatkan kepastian usaha karena pasar tidak terbatas, penyerapan tenaga kerja, proses substitusi barang manufaktur,\u201d\u00a0pungkasnya.<\/p>\n<p><strong>(***)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia termasuk dalam klasifikasi sebagai negara yang mengalami middle income trap, demikian disampaikan Dr. Iin Mayasari Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Paramadina dalam webinar \u201cTransformasi Ekonomi Indonesia: Menyiasati Jebakan Middle Income Trap.\u201d yang dipandu Direktur Paramadina Graduate School of Business, Dr. Adman Nursal. Middle income trap, sebuah istilah yang mengacu pada keadaan ketika sebuah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":100000876,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_bbp_topic_count":0,"_bbp_reply_count":0,"_bbp_total_topic_count":0,"_bbp_total_reply_count":0,"_bbp_voice_count":0,"_bbp_anonymous_reply_count":0,"_bbp_topic_count_hidden":0,"_bbp_reply_count_hidden":0,"_bbp_forum_subforum_count":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[155],"tags":[191],"class_list":{"0":"post-100000875","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-gagasan","8":"tag-transformasi-ekonomi-indonesia"},"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/Dr.-Iin-Mayasari.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100000875","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100000875"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100000875\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":100000877,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100000875\/revisions\/100000877"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100000876"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100000875"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100000875"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100000875"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}