{"id":100000073,"date":"2021-09-04T12:11:54","date_gmt":"2021-09-04T12:11:54","guid":{"rendered":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/?p=100000073"},"modified":"2021-09-04T12:11:54","modified_gmt":"2021-09-04T12:11:54","slug":"diskusi-online-forum-ekonomi-politik-kampanye-pilpres-jangan-jadi-ajang-permusuhan-anak-bangsa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/diskusi-online-forum-ekonomi-politik-kampanye-pilpres-jangan-jadi-ajang-permusuhan-anak-bangsa\/","title":{"rendered":"Diskusi Online Forum Ekonomi Politik, Kampanye Pilpres Jangan Jadi Ajang Permusuhan Anak Bangsa"},"content":{"rendered":"<p>Pilpres mendatang diperkirakan masih akan penuh kampanye dengan kebencian. Demikian disampaikan Prof. Didik J. Rachbini dalam Diskusi Online Forum Ekonomi Politik \u00a0\u201cMisteri dan Serba Serbi Capres Dini\u201d yang diselenggarakan secara virtual oleh Universitas Paramadina (01\/09\/2021).<\/p>\n<p>Menurut Didik, etika politik di Indonesia tidak diperhatikan, dengan penggunaan buzzer politik yang jahat sekali men-downgrade\u00a0lawan politik.<\/p>\n<p>\u201cContoh kasus efektivitas\u00a0buzzer\u00a0adalah kasus KPK dengan memunculkan isu Taliban dan non Taliban di KPK ketika undang-undang KPK hendak diamandemen. Isu ini berhasil, rakyat dan mahasiswa gagal mempertahankan KPK dalam wujud yang asli.\u201d\u00a0 Katanya.<\/p>\n<p>Ia juga menyinggung fenomena pencapresan presiden di Indonesia sudah mulai terjadi secara terselubung dengan pemasangan baliho-baliho tokoh dan rencana sistematis di media sosial.<\/p>\n<p>\u201cSudah ada tokoh-tokoh yang popularitasnya tinggi sehingga upaya bersaing dalam pencapresan ini memang harus melihat peluang keberhasilan dari survei popularitas politik.\u201d<\/p>\n<p>Menurut Rektor Universitas Paramadina ini dari banyak lembaga survei beberapa saja yang kredibel dan sisanya melakukan akrobat.\u00a0 \u201cLembaga survei yang independen biasanya akan menghasilkan tradisi akademik yang baik. \u201c<\/p>\n<p>Ia juga menyatakan bahwa hasil survei harus memperhatikan waktu karena setelah 8 bulan hasil survei bisa dinyatakan tidak valid. \u201cBerbeda dengan dulu Jokowi dan Prabowo yang sejak awal di 2013 telah mempunyai tingkat popularitas yang konsisten tinggi, bahkan Prabowo sebelum Jokowi muncul punya popularitas yang sangat tinggi.\u201d<\/p>\n<p>Yang masih perlu diperhatikan dan diedukasi terhadap peta\u00a0like\u00a0and\u00a0dislike\u00a0figur politik hendaknya tidak seperti pilpres 2019 yang menjadikan masyarakat terbelah. \u00a0\u201cFigur yang populer mendekati waktu pilpres sebenarnya akan terlihat sehingga yang tidak perlu ngotot untuk menang dan para pesaing tidak boleh melakukan kampanye negatif sehingga pilpres menjadi ajang permusuhan anak bangsa.\u201d Katanya.<\/p>\n<p>Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI), Djayadi Hanan Ph.D mengungkapkan bahwa dalam\u00a0dua setengah tahun menjelang 2024 ada 3 lapis pengelompokan para calon presiden mendatang dari berbagai survei.<\/p>\n<p>\u201cTerdapat figur papan atas publik seperti Prabowo, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo yang berbeda tipis dalam popularitas.\u201d<\/p>\n<p>Djayadi juga menyatakan jika survei nasional menggunakan sampel 1200 dalam margin error kisaran 2,9 persen maka perbedaan antara para calon tersebut berada dalam rentang 2 kali margin of error, atau tidak terlalu signifikan perbedaannya. \u00a0\u201cJadi ketiga orang itu memang\u00a0front runner\u00a0saat ini.\u201d Katanya.<\/p>\n<p>Djayadi yang juga Dosen senior Ilmu Politik di Universitas Paramadina ini memberikan catatan bahwa dari ketiga orang itu juga tidak ada nama yang dominan. Angka mereka berada pada kisaran 20 an persen jika diadu dengan banyak nama.<\/p>\n<p>\u201cJika pada 2024 nanti ada 3 pasang calon yang paling mungkin misalnya, maka ketiga orang tersebut akan disebut mencapai angka dominan jika telah mencapai angka popularitas 30-35 persen diantara 10-15 nama. Tetapi saat ini angka mereka baru sekitar 20-25 persen saja.\u201c katanya.<\/p>\n<p>Ia membandingkan dengan pilpres sebelumnya Prabowo dan Jokowi memang menjadi calon-calon yang dominan ketimbang calon yang lain. \u201cArtinya, pilpres 2024 mendatang masih membuka peluang bagi siapapun untuk\u00a0leading. Karena saat ini belum ada yang dominan\u201d<\/p>\n<p>Kemudian ada papan tengah (10 besar) terdapat nama AHY, Sandiuno, dan seterusnya. Terdapat juga nama-nama yang berada di luar 10 besar terpopuler seperti Puan Maharani, Cak Imin, dan Airlangga Hartarto yang menariknya\u00a0 adalah para figur partai politik.<\/p>\n<p>Djayadi juga mengungkapkan alasan mengapa para calon di luar 10 besar memilih stragegi memasang baliho, iklan di TV, sosmed untuk meningkatkan popularitas. \u201cAkan sangat sulit peluang yang diperoleh jika popularitas masih di bawah 70 persen.\u201d<\/p>\n<p>\u201cMengapa yang dipilih ada baliho dan televisi ketimbang medsos? Karena tingkat kepedulian publik pada medsos di Indonesia masih di bawah 60 persen dibanding TV yang berdasar survei penduduk masih 80 persen selalu ditonton oleh warga masyarakat.\u201d Kata Djayadi.<\/p>\n<p>Direktur LP3ES, Fajar Nursahid mengungkapkan bahwa variabel\u00a0downgrade\u00a0lawan politik harus menjadi perhatian serius oleh para politikus. \u201cHal itu nampak betul karena ada juga capres-capres yang sangat popular tetapi\u00a0favorability-nya rendah sekali. Itu misalnya terjadi pada figure Anies Baswedan walaupun masih di 3 besar papan atas terpopuler.\u201d<\/p>\n<p>Fajar memandang bahwa jalan menuju pencapresan itu tidaklah semulus seperti yang diperkirakan. \u201cBelum lagi bagaimana peran-peran\u00a0cybertroops\u00a0kemudian bisa mendegradasi lawan politik.\u201d<\/p>\n<p>Ia juga mengungkap fenomena para figur politik yang jauh dari partai politik pengusungnya. Mengambil contoh dahulu figure Jokowi dan SBY jauh melampaui popularitas partai pengusungnya.<\/p>\n<p>\u201cSaat ini figur yang diharapkan menjadi\u00a0centrum\u00a0pengaruh dari partai politik untuk meraih\u00a0voters\u00a0ternyata belum cukup kuat untuk mengangkat popularitas pencalonan dirinya.\u201d<\/p>\n<p>Fajar mencontohkan kasus pada Puan Maharani yang membuat strategi baliho masif untuk mendongkrak daya pikat bagi\u00a0voters, sementara dalam realitasnya Ganjar Pranowo yang ternyata bersanding di figure terpopuler papan atas bersama Anies Baswedan.<\/p>\n<p>\u201cHal itu menjadi menarik untuk dikaji mengapa orang-orang yang punya kendali kuat di partai politik ternyata tidak cukup punya\u00a0favorability\u00a0ketimbang mereka yang di luar centrum partai politik seperti Anies Baswedan, Ganjar Pranowo.\u201d<\/p>\n<p><strong>(Red)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pilpres mendatang diperkirakan masih akan penuh kampanye dengan kebencian. Demikian disampaikan Prof. Didik J. Rachbini dalam Diskusi Online Forum Ekonomi Politik \u00a0\u201cMisteri dan Serba Serbi Capres Dini\u201d yang diselenggarakan secara virtual oleh Universitas Paramadina (01\/09\/2021). Menurut Didik, etika politik di Indonesia tidak diperhatikan, dengan penggunaan buzzer politik yang jahat sekali men-downgrade\u00a0lawan politik. \u201cContoh kasus efektivitas\u00a0buzzer\u00a0adalah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":100000074,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_bbp_topic_count":0,"_bbp_reply_count":0,"_bbp_total_topic_count":0,"_bbp_total_reply_count":0,"_bbp_voice_count":0,"_bbp_anonymous_reply_count":0,"_bbp_topic_count_hidden":0,"_bbp_reply_count_hidden":0,"_bbp_forum_subforum_count":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":{"0":"post-100000073","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-uncategorized"},"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/didik-j-rachbini1.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100000073","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100000073"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100000073\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":100000075,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100000073\/revisions\/100000075"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100000074"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100000073"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100000073"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100000073"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}