{"id":100000062,"date":"2021-09-04T11:35:11","date_gmt":"2021-09-04T11:35:11","guid":{"rendered":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/?p=100000062"},"modified":"2021-09-04T11:35:11","modified_gmt":"2021-09-04T11:35:11","slug":"masa-depan-dan-kesinambungan-failed-state-afghanistan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/masa-depan-dan-kesinambungan-failed-state-afghanistan\/","title":{"rendered":"Masa Depan dan Kesinambungan Failed State Afghanistan"},"content":{"rendered":"<p>Intervensi berbagai negara di Afghanistan meninggalkan penderitaan hingga 50% warganya hidup di bawah garis kemiskinan, hal ini disampaikan Peneliti INDEF M.\u00a0 Zulfikar Rahmat, Ph.D dalam diskusi publik secara virtual \u201cMasa Depan dan Kesinambungan Failed State Afghanistan\u201d Jumat (3\/9\/2021).<\/p>\n<p>Diskusi yang diselenggarakan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)\u00a0 bekerjasama dengan Universitas Paramadina dan Universitas Islam Indonesia (UII) ini juga menghadirkan pembicara Dr. Phil. Shiskha Prabawaningtyas, direktur Paramadina Graduate School of Diplomacy dan dimoderatori oleh Eisha Maghfiruha Rachbini &#8211; Peneliti INDEF.<\/p>\n<p>Zulfikar mengungkap sejarah Afghanistan merupakan negara yang kerap dilanda perang akibat diintervensi oleh berbagai negara seperti Inggris (1839-1919), Uni Soviet (1979-1989), dan Amerika Serikat (AS) pada 2001-2021<\/p>\n<p>Sebanyak 5,5 juta penduduk Afghanistan berada mengalami\u00a0food insecurity, defisit neraca perdagangan yang mencapai sekitar 30% GDP, dan ketergantungan 80% pada dana bantuan luar negeri. \u201cWajar kemudian Afghanistan dijuluki sebagai negara gagal.\u201d Katanya.<\/p>\n<p>Rangking\u00a0Gross domestic product\u00a0(GDP) nya berada di papan bawah pada urutan 213 dari 228 negara, dan rangking hutang publik di posisi 202 dari 228 negara. \u201cSementara kredit sektor swasta hanya mencapai 3% dari GDP, namun belanja keamanan mencapai 28 % dari GDP pada 2019.\u201d Ujar Zulfikar.<\/p>\n<p>\u201cTaliban dapat dengan cepat menguasai Afghanistan disebabkan oleh strategi perang Taliban, legitimasi masyarakat yang tinggi, serta korupsi yang parah pada pemerintahan dan mundurnya pasukan AS.\u201d Katanya.<\/p>\n<p>China yang melihat dengan jeli peluang memanfaatkan mundurnya AS, segera \u201cmerapat\u201d ke pihak Taliban. Hal itu karena ambisi China yang ingin mewujudkan jalur\u00a0One Belt One Road\u00a0(OBOR)-nya melintasi Afghanistan via Asia Tengah, Eropa Timur dan Eropa Barat.<\/p>\n<p>Dosen UII ini juga menyatakan bahwa Afghanistan mempunyai potensi cadangan logam (rare earth) bahan pembuat\u00a0microchip\u00a0dan teknologi mutahir lainnya, yang diperkirakan bernilai 1 triliun dolar AS. \u201cHal lainnya, China juga ingin mengurangi potensi penyebaran jaringan teroris terkait muslim Uighur di Xinjiang.\u201d Katanya.<\/p>\n<p>Menyinggung hubungan ekonomi Zulifkar menyatakan Indonesia mendapat peluang ekonomi terbatas ke Afghanistan\u201dPeringkat ke 127 negara tujuan ekspor Indonesia dengan total nilai ekspor sebesar 21,38 juta dolar AS pada 2020.\u201d Meskipun kontribusi ekspor RI ke Afghanistan hanya 163,19 miliar dolar AS, namun tren pertumbuhan eskpor cukup positif mencapai 2,91% pada 2016 sd 2020.<\/p>\n<p>Masih menurut Zulfikar bahwa di masa pandemi ini ekspor RI mampu tumbuh positif 36,87% secara tahunan. \u201cTercatat surplus neraca perdagangan RI sebesar 20,89 juta dolar AS dengan Afghanistan. Ekspor produk farmasi RI juga tumbuh 365,69% dari US$ 507,7 ribu (Januari-Juni 2020) menjadi US$ 2,36 juta pada Januari-Juni 2021.\u201d katanya.<\/p>\n<p>Menurut Dr. Phil Shiskha Prabawaningtyas\u00a0secara kajian geopolitik, Afghanistan sebagai negara \u201cLandlord\u201d yang tak henti bergejolak, juga dikeliingi oleh negara-negara yang juga relatif \u201cbermasalah\u201d seperti Iran di selatan. \u201cPakistan sebagai tempat transit dan pemupukan ideologi Taliban pada awalnya, Turkmenistan dan tentu saja bertetangga dengan negara besar seperti Rusia dan China.\u201d Katanya.<\/p>\n<p>Ia menyatakan bahwa Afghanistan juga lahan subur bagi cerita-cerita\u00a0 \u201cproxywar\u201d transmisi ideologi transnasional berkembang. \u201cKetika Rusia mundur dari Afghanistan menandai berakhirnya perang dingin dan munculnya landasan baru yakni\u00a0sovereignity\u00a0atau kedaulatan negara yang sering kali menjadi konsep utama studi-studi Hubungan Internasional.\u201d Kata Shiskha.<\/p>\n<p>Afghanistan juga tak ketinggalan menjadi dasar bagi pemahaman baru konsep makna kedaulatan negara. Begitu pula dengan konsep \u201cfailed state\u201d atau negara gagal yang mengambil Afghanistan (selain Somalia dulu) sebagai contoh kasus.<\/p>\n<p>Shikha mengungkapkan bahwa peristiwa 9\/11 di Amerika Serikat juga menjadi dasar diskusi kedaulatan negara terkait praktik diplomasi,\u00a0coersif diplomacy, dan\u00a0international organization.<\/p>\n<p>\u201cInvasi AS ke Afghanistan untuk menggulingkan pemerintahan Taliban pada 2001 menandai kebijakan\u00a0coersif diplomacy\u00a0AS untuk mencari pelaku serangan 9\/11 yang dianggap dilindungi oleh pemerintahan Taliban.\u201d Kata Shiskha.<\/p>\n<p>\u201cCoersif diplomacy\u00a0AS ke Afghanistan kala itu bahkan mendapatkan semacam persetujuan dari badan dunia PBB dan dijadikan landasan bagi perang melawan terorisme di seluruh dunia.\u201d Pungkasnya.<\/p>\n<p><strong>(Red)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Intervensi berbagai negara di Afghanistan meninggalkan penderitaan hingga 50% warganya hidup di bawah garis kemiskinan, hal ini disampaikan Peneliti INDEF M.\u00a0 Zulfikar Rahmat, Ph.D dalam diskusi publik secara virtual \u201cMasa Depan dan Kesinambungan Failed State Afghanistan\u201d Jumat (3\/9\/2021). Diskusi yang diselenggarakan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)\u00a0 bekerjasama dengan Universitas Paramadina dan Universitas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":100000061,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_bbp_topic_count":0,"_bbp_reply_count":0,"_bbp_total_topic_count":0,"_bbp_total_reply_count":0,"_bbp_voice_count":0,"_bbp_anonymous_reply_count":0,"_bbp_topic_count_hidden":0,"_bbp_reply_count_hidden":0,"_bbp_forum_subforum_count":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":{"0":"post-100000062","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-uncategorized"},"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/shiskha2.jpeg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100000062","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100000062"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100000062\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":100000063,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/100000062\/revisions\/100000063"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media\/100000061"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100000062"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=100000062"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.bantennews.co.id\/bantenesia\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=100000062"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}