Beranda Nasional Banten Jadi Daerah Rawan Penyebaran Hoaks

Banten Jadi Daerah Rawan Penyebaran Hoaks

760
0
Ilustrasi - foto istimewa liputan6.com

SERANG – Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut daerah Banten dan Jawa Barat menjadi wilayah yang rawan hoaks. Khususnya hoaks yang berkaitan dengan komunisme atau Partai Komunis Indonesia (PKI).

Akademisi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Leo Agustino mangatakan merujuk penelitian tersebut terkait penyebaran hoaks di Banten yang menempati urutan ketiga, maka hal ini sangat mengkhawatirkan. Sebagai provinsi yang religius dan agamis seharusnya berada pada urutan terakhir, tapi data menunjukkan hal sebaliknya.

“Ini menarik. Mengapa? Karena anomali dengan nilai-nilai religiusitas itu sendiri. Hoaks mendekati fitnah yang justru dilarang oleh agama. Ini artinya religiusitas kita perlu dipertanyakan, terutama bagi mereka yang suka memproduksi dan menyebarkan hoaks,” kata Leo, Kamis (24/1/2019).

Banten adalah tempat pertempuran serius bagi kedua belah pasang calon presiden dan wakil presiden.Tangerang Raya adalah lumbung suara, tanpa menafikan kota dan kabupaten lainnya. Oleh karena itu, Banten diperebutkan dengan sangat sengit.

“Kembali ke pertanyaan siapa yang dirugikan? Jika dilihat trendnya, maka tentu pasangan 01 yang amat dirugikan. Isu anti-Islam dan PKI masih terus digoreng di Banten,” katanya.

Sebab itulah, ia mengimbau pemilih harus lebih cerdas dalam dan jeli dalam menentukan pilihannya dengan mengkaji dan memperdalam visi misi kedua pasangan calon.

“Masih ada 80 hari lebih untuk menentukan pilihan. Jadilah pemilih cerdas yang tidak ikut-ikutan memproduksi maupun menyebar hoaks,” katanya.

Menanggapi hasil temuan LIPI tersebut Ketua Bawaslu Banten, Didih M Sudi mengatakan telah berkoordinasi dengan Polri untuk melakukan patroli cyber di media sosial karena ia menilai tentang hoax ini bukan hanya pelanggaran Pemilu .

“Karena praktiknya di luar pelanggaran undang-undang Pemilu kalau udah menghina menunjukkan permusuhan itu kan juga di luar Pemilu,” katanya.

Lanjut Didih, yang lebih mengkhawatirkan saat ini adalah penyebaran berita hoax di grup WhatsApp karena sifatnya tertutup sedangkan pola lama sudah mampu kita telusuri karena secara terbuka seperti di facebook dan twitter.

“Yang mengundang kekhawatiran lebih itu adalah grup WhatsApp ada grup tertutup yang bukan anggota tidak bisa masuk itu sulit diawasi Bawaslu Banten,” katanya. (You/Red)