TANGERANG – Suasana di lingkungan RW 02, Kelurahan Karang Timur, Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang tampak berbeda. Setiap pekan, sejumlah kader lingkungan Bank Sampah Sakura berkeliling dari rumah ke rumah warga. Mereka bukan sekadar menyapa, tetapi juga mengumpulkan sampah, khususnya sampah organik, lewat program andalan yang disebut gerakan jemput bola.
Salah satu kader, Mulyati, menceritakan semangat warga yang kini mulai terbiasa memilah sampah sejak dari rumah. “Alhamdulillah, warga merespons dengan baik. Selain untuk mengurangi sampah, khususnya sampah organik, sampah ini juga bisa diolah menjadi pupuk,” ujarnya dengan senyum bangga.
Gerakan jemput bola ini menyasar sedikitnya 15 rumah warga secara bergantian. Dengan pendekatan proaktif, kader Bank Sampah Sakura ingin memastikan sampah tidak menumpuk, sekaligus memberi edukasi langsung mengenai pentingnya memilah sampah organik dan anorganik.
Lebih dari sekadar menjaga kebersihan, inisiatif ini juga menyimpan manfaat ekonomi. Sampah yang terkumpul dapat ditukar menjadi uang, sementara sampah organik diolah menjadi pupuk kompos. “Bank Sampah Sakura juga menyediakan pelatihan gratis bagi warga untuk membuat pupuk kompos dari sampah organik,” tambah Mulyati.
Semangat gotong royong menjadi kunci keberhasilan gerakan ini. Warga bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan.
Dengan kerja sama erat antara kader lingkungan dan masyarakat, Bank Sampah Sakura RW 02 berhasil membuktikan bahwa sampah bukanlah akhir dari segalanya. Justru sebaliknya, sampah bisa menjadi berkah – membawa lingkungan lebih bersih sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi warga.
Tim Redaksi
