Beranda Uncategorized Bahaya Gulir Layar Sosial Media yang Tak Disadari Banyak Pengguna

Bahaya Gulir Layar Sosial Media yang Tak Disadari Banyak Pengguna

Ilustrasi - foto istimewa Nova Online

DI BALIK aktivitas sepele seperti menggulir layar ponsel saat membuka media sosial, tersimpan potensi bahaya yang perlahan tapi pasti memengaruhi kesehatan mental, fisik, dan produktivitas seseorang. Fenomena ini dikenal sebagai setting scroll—yakni kebiasaan menggulir tanpa tujuan yang jelas, hanya demi mengisi waktu luang atau menghindari kebosanan.

Awalnya terlihat wajar. Sekilas, membuka Instagram, TikTok, atau Twitter untuk “sekadar melihat-lihat” tidak tampak seperti sesuatu yang merugikan. Namun, algoritma media sosial telah dirancang untuk terus menyajikan konten yang menarik perhatian dan membuat pengguna enggan berhenti. Akibatnya, apa yang niatnya hanya lima menit bisa berubah menjadi satu jam tanpa disadari.

Bahaya utama dari setting scroll adalah dampaknya terhadap kesehatan mental. Semakin sering kita terpapar konten yang menampilkan kehidupan orang lain yang tampak sempurna, semakin besar pula potensi timbulnya rasa cemas, rendah diri, dan ketidakpuasan terhadap kehidupan pribadi. Tanpa disadari, pengguna membandingkan diri dengan potongan momen bahagia yang ditampilkan orang lain, yang sebenarnya belum tentu merefleksikan kenyataan hidup mereka.

Tak hanya berdampak secara emosional, scrolling berlebihan juga merusak produktivitas. Pekerjaan tertunda, waktu belajar terabaikan, dan bahkan rutinitas sehari-hari bisa terganggu hanya karena satu kebiasaan kecil yang terus diulang. Rasa lelah mental pun bisa muncul akibat “overload” informasi yang tak semuanya penting atau relevan.

Selain itu, ada efek fisik yang tak kalah serius. Terlalu lama menunduk ke layar ponsel dapat menyebabkan nyeri leher, gangguan mata, dan postur tubuh yang memburuk. Ini diperparah jika aktivitas ini dilakukan di malam hari sebelum tidur, karena cahaya biru dari layar gadget dapat mengganggu kualitas tidur dan ritme sirkadian tubuh.

Baca Juga :  Kampanye Akbar di Jombang, Isro-Uyun Buka Layanan Kesehatan Gratis

Langkah sederhana seperti menetapkan waktu khusus untuk membuka media sosial, mengaktifkan pengingat waktu layar (screen time alert), atau bahkan mengambil jeda digital (digital detox) secara berkala bisa sangat membantu memutus siklus setting scroll. Media sosial sejatinya adalah alat yang bisa digunakan untuk kebaikan—asal kita bisa mengendalikannya, bukan malah dikendalikan olehnya.

Menggulir tanpa arah mungkin terasa menyenangkan sesaat, tapi dampaknya bisa berkepanjangan. Jangan biarkan kebiasaan kecil ini mencuri waktu, kesehatan, dan ketenangan pikiranmu.

Tim Redaksi