TEKNOLOGI kecerdasan buatan terus berkembang pesat, dan salah satu inovasi yang paling kontroversial adalah deepfake—teknik manipulasi audio maupun video yang membuat seseorang tampak melakukan atau mengucapkan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Meski memiliki potensi positif dalam industri kreatif, teknologi ini juga membawa risiko besar bagi keamanan, privasi, dan stabilitas sosial. Berikut adalah sejumlah bahaya deepfake yang diprediksi akan semakin mengemuka di masa depan.
1. Manipulasi Politik dan Opini Publik
Deepfake membuka peluang luas bagi penyebaran disinformasi politik. Video palsu yang menampilkan tokoh publik dapat digunakan untuk memicu konflik, menjatuhkan lawan politik, atau mempengaruhi hasil pemilu. Di tengah arus informasi yang bergerak cepat di media sosial, hoaks berbasis deepfake dapat menyebar sebelum publik sempat melakukan verifikasi.
2. Pemerasan dan Kejahatan Siber
Pelaku kejahatan dapat memanfaatkan deepfake untuk melakukan pemerasan, penipuan, atau rekayasa sosial (social engineering). Misalnya, membuat rekaman suara palsu untuk meminta transfer uang, atau video palsu yang mencemarkan nama baik seseorang untuk mendapatkan tebusan. Risiko ini membuat keamanan digital keluarga dan individu semakin rentan.
3. Kerusakan Reputasi Personal
Salah satu ancaman terbesar dari deepfake adalah dampaknya terhadap reputasi pribadi. Video palsu yang memperlihatkan seseorang dalam situasi yang merugikan dapat menghancurkan karier, hubungan sosial, hingga kesehatan mental korban. Meski pada akhirnya berhasil dibuktikan sebagai palsu, kerusakan citra sering kali sudah terlanjur terjadi.
4. Erosi Kepercayaan pada Bukti Visual
Jika teknologi deepfake semakin mudah dibuat, kepercayaan publik terhadap bukti visual akan menurun drastis. Di masa depan, siapa pun dapat dengan mudah menolak video asli dengan mengatakan “itu hanya deepfake”. Kondisi ini berbahaya bagi proses hukum, investigasi media, hingga penyelesaian konflik sosial.
5. Penipuan Finansial yang Lebih Canggih
Sistem keamanan berbasis pengenalan wajah atau suara berpotensi ditembus oleh deepfake. Pelaku dapat memalsukan identitas seseorang untuk membuka akun bank, melakukan transaksi ilegal, atau mengakses data personal. Ancaman ini menuntut lembaga keuangan meningkatkan sistem verifikasi yang lebih ketat.
6. Serangan Psikologis dan Perundungan Digital
Deepfake juga dapat digunakan untuk bentuk perundungan digital level lanjut. Rekaman palsu yang mempermalukan korban—baik anak-anak maupun orang dewasa—dapat memicu tekanan psikologis, depresi, hingga isolasi sosial. Teknologi ini memperbesar dampak cyberbullying yang sebelumnya sudah menjadi masalah global.
7. Disinformasi Massal dan Instabilitas Sosial
Di tangan kelompok tertentu, deepfake dapat digunakan untuk membuat kepanikan publik, seperti video palsu yang menunjukkan bencana, kerusuhan, atau kebijakan pemerintah yang tidak pernah dikeluarkan. Dalam skala besar, ini bisa mengganggu keamanan nasional dan stabilitas sosial.
