Beranda Gaya Hidup Awas! Bergaya Hidup Mewah Bisa Bikin Susah Berteman

Awas! Bergaya Hidup Mewah Bisa Bikin Susah Berteman

318
0
Ilustrasi - foto istimewa IDN Times

Jika kita mampu dan banyak uanh, tentu saja kita ingin membeli barang-barang bermerk untuk melengkapi penampilan sebagai simbol status.

Tapi, sebaiknya tahan dulu keinginan tersebut agar tidak terlihat mencolok. Pasalnya, kebanyakan orang justru takut untuk berteman dekat dengan orang yang gaya hidupnya mewah.

Hal itu dibuktikan lewat studi yang dilakukan para peneliti di Universitas Michigan dan Singapura.

Tim peneliti mengajukan pertanyaan simpel kepada peserta, yakni “Jika mereka punya mobil ‘sejuta umat’ dan mobil mewah, mana yang akan mereka kendarai ke pesta pernikahan untuk mendapatkan teman baru?’

Hasilnya, sebanyak 66 persen peserta memilih mobil mewah sebagai cara untuk menarik teman baru.

Pertanyaan itu kemudian beralih ke kelompok peserta berbeda. Pertanyaannya kurang lebih, “‘Bayangkan berada di resepsi pernikahan lalu melihat seseorang datang naik mobil biasa atau mobil mewah. Orang mana yang lebih disukai untuk berteman?’

Para peserta rupanya merasa lebih nyaman memilih orang dengan mobil ‘sejuta umat’ dibanding pemilik mobil mewah.

Meskipun orang berpikir memiliki simbol status tinggi–seperti naik mobil mewah akan meningkatkan lingkaran persahabatan mereka, fakta berkata sebaliknya.

Petinju Floyd Mayweather sebagai salah satu contoh konkret bagaimana kehidupan mewah berpotensi sulit mendapatkan pertemanan.

Sejumlah orang mengomentari kehidupan petinju Amerika Serikat tersebut yang tampak sepi.

“Tampak sepi di atas awan,” sebut pyrex908.

Menurut akun coltencharles, “Man, terlihat sangat bosan.”

Kondisi yang dialami Mayweather, menurut peneliti Stephen Garcia, Kimberlee Weaver dan Patricia Chen, disebut sebagai “Status Signals Paradox”.

Dijelaskan bahwa orang mengira punya barang mewah akan menarik pertemanan, namun bagi calon teman, mereka menjauhi orang yang memiliki simbol kemewahan.

Hasil penelitian lain seputar arloji mahal juga menunjukkan hal serupa.

Berdasarkan model studi serupa, peserta ditanyai jenis jam tangan apa yang akan mereka kenakan untuk acara sosial.

Sebagian besar memilih jam tangan TAG Heuer (yang harganya mencapai puluhan juta), ketimbang arloji dengan harga lebih murah. Kelompok terpisah kemudian ditanya dengan siapa mereka lebih suka mendekat ketika sedang “hang out”.

Sekali lagi, para peserta memilih orang yang memakai arloji lebih murah, daripada yang memakai arloji mahal.

“Ketika kita memutuskan apa yang akan dikenakan, kita berada dalam ‘presenting roles’ di mana ingin mengedepankan yang terbaik. Kita ingin terlihat lebih baik daripada yang lain,” ujar Garcia dalam Psychology Today.

“Namun, kita tidak mengambil perspektif dari calon teman. Mereka juga ingin terlihat baik dan tidak ingin dikalahkan oleh orang lain,” katanya.

Dengan kata lain, di satu sisi kita ingin membandingkan dengan orang lain dalam penampilan tapi sering tidak menyadari bahwa orang lain juga tidak suka dibayangi.

Studi ini sekadar mengatakan untuk memberikan kesadaran bahwa gaya hidup tersebut dapat membahayakan peluang seseorang mendapatkan teman baru. (Red)

Sumber : kompas.com