TANGERANG – Di balik hiruk-pikuk perdagangan kain yang setiap hari memenuhi jalan-jalan sempit di Cipadu, tersimpan cerita lama tentang bagaimana kawasan ini mendapat namanya. Bagi banyak orang, Cipadu identik dengan tekstil murah, bahkan sering dijuluki sebagai “Tanah Abang-nya Kota Tangerang.” Namun, di balik kemasyhuran niaga itu, Cipadu sesungguhnya memiliki akar sejarah yang kental dengan kehidupan agraris dan tradisi lokal.
Dalam buku “Melacak Asal Muasal Kampung di Kota Tangerang” karya Burhanuddin, dijelaskan bahwa kata Cipadu berasal dari bahasa Sunda. “Ci” berarti air, sementara “Padu” berarti berpadu atau bertemu. Nama ini muncul karena pada masa lalu, kawasan Cipadu hanyalah hamparan sawah luas dengan sumber air yang dijadikan pengguyangan—tempat memandikan kerbau milik warga sekitar.
“Cipadu berarti bertemunya air, karena memang dulu ada pengguyangan tempat para penggembala memandikan kerbau,” tulis Burhanuddin.
Namun, bukan hanya persawahan yang membentuk identitas Cipadu. Versi lain menyebutkan bahwa Cipadu lahir dari kebiasaan para jawara lokal yang gemar beradu kekuatan. Air keringat yang bercucuran ketika mereka bertarung dianggap sebagai simbol “padu” atau pertemuan.
Tak heran, kawasan ini hingga kini masih dikenal sebagai tanah kelahiran para jawara. Nama-nama seperti Kong Risin, Kong Roman, Murtado, hingga Haji Muali melegenda di tengah masyarakat. “Cipadu bisa juga dipahami sebagai beradunya air keringat para jagoan kampung ini,” tambah Burhanuddin.
Seiring berjalannya waktu, Cipadu menjelma dari kawasan agraris menjadi sentra perdagangan tekstil yang sibuk. Jalanan yang dulunya lengang kini dipenuhi kios-kios kain, grosir, hingga gudang distribusi yang melayani pembeli dari berbagai daerah.
Kini, Cipadu telah berkembang menjadi kawasan urban yang padat penduduk. Wilayah ini pun dimekarkan menjadi dua kelurahan: Cipadu dan Cipadu Jaya, keduanya berada dalam Kecamatan Larangan, Kota Tangerang.
Meskipun wajah Cipadu berubah menjadi kawasan niaga modern, cerita asal-usul namanya tetap hidup dalam ingatan masyarakat. Entah dipahami sebagai pertemuan aliran air di sawah, atau pertemuan keringat para jawara, Cipadu tetap menyimpan kisah tentang percampuran budaya, kerja keras, dan semangat masyarakatnya.
Dari kerbau yang diguyur air di pematang sawah, hingga kain-kain warna-warni yang kini digantung di setiap toko, Cipadu membuktikan dirinya sebagai kawasan yang terus berpadu antara sejarah dan masa depan.
Tim Redaksi
