
TANGERANG – Asosiasi Olahraga Pendakian Gunung Indonesia (AOPGI) Provinsi Banten menilai antusiasme generasi muda terhadap aktivitas pendakian gunung terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, peningkatan minat tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan pemahaman manajemen risiko dan penerapan standar keselamatan yang memadai.
Merespons kondisi tersebut, AOPGI Banten berkolaborasi dengan Arei Outdoor Gear menggelar coaching clinic peningkatan kapasitas pendaki berbasis praktik manajemen risiko dan standar keselamatan gelombang II. Kegiatan ini berlangsung di SMKN 2 Kota Tangerang, Sabtu (28/2/2028).
Ketua AOPGI Banten, Deni Ahmad Fanani, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari kebutuhan membangun budaya keselamatan pendakian sejak usia sekolah.
“Kondisi inilah yang mendorong lahirnya gerakan edukatif berbasis praktik di kalangan pelajar,” ujar Deni.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Deni dengan koordinasi lapangan oleh Arief Budiman dan Daden Hilmansah dari AOPGI Banten. Ketiganya menekankan pentingnya menanamkan budaya keselamatan sebagai fondasi lahirnya pendaki yang kompeten dan bertanggung jawab.
Menurut Deni, kecelakaan di gunung kerap terjadi bukan semata karena faktor alam, melainkan akibat kurangnya kesiapan teknis dan lemahnya perencanaan.
“Pendakian bukan sekadar hobi atau tren. Ia membutuhkan manajemen risiko, perhitungan matang, dan disiplin terhadap standar keselamatan,” tegasnya.
Dalam coaching clinic tersebut, peserta dibekali materi komprehensif mulai dari perencanaan pendakian, identifikasi potensi bahaya, manajemen peralatan, standar operasional keselamatan, hingga simulasi pengambilan keputusan dalam situasi darurat.
“Pendekatan yang digunakan berbasis praktik dan studi kasus, sehingga peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaplikasikannya,” jelas Deni.
Program ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan AOPGI Banten dalam meningkatkan kapasitas pelajar SMA/SMK/MA di Provinsi Banten. Kolaborasi dengan Arei Outdoor Gear turut memperkuat aspek edukatif melalui pengenalan standar perlengkapan yang sesuai dengan kebutuhan dan keselamatan pendaki.
Koordinator kegiatan, Arief Budiman, menambahkan bahwa selain aspek teknis, kegiatan ini juga menanamkan nilai etika pendakian, tanggung jawab terhadap tim, serta kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
“Peserta diajak memahami bahwa menjadi pendaki bukan hanya soal mencapai puncak, tetapi juga memastikan seluruh tim kembali dengan selamat,” ujarnya.
Melalui pelaksanaan gelombang kedua ini, AOPGI Banten berharap gerakan peningkatan kapasitas pendaki dapat terus meluas dan membentuk generasi muda yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga cerdas dalam manajemen risiko serta berorientasi pada keselamatan.
“Dengan sinergi organisasi, dunia industri, dan institusi pendidikan, budaya keselamatan pendakian di Banten diharapkan tumbuh semakin kokoh dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Penulis: Saepulloh
Editor: Usman Temposo