Beranda Peristiwa Angkot Sepi Penumpang, Sopir di Serang Kesulitan Bayar Pajak

Angkot Sepi Penumpang, Sopir di Serang Kesulitan Bayar Pajak

Beberapa angkot menunggu penumpang di pangkalan Warung Pojok, Kota Serang. (Adef/bantennews)

SERANG — Sepinya penumpang membuat sopir angkutan kota (angkot) di Kota Serang kian terjepit. Pendapatan harian yang minim membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan operasional, termasuk membayar pajak kendaraan dan menjalani uji KIR.

Kondisi itu terlihat di pangkalan angkot kawasan Warung Pojok, Kota Serang, Jumat (14/8/2026). Sejumlah angkot jurusan Warung Pojok-Petir lebih banyak menghabiskan waktu dengan ngetem karena penumpang tak kunjung datang.

Hampir satu jam menunggu, hanya sedikit warga yang menggunakan jasa angkot. Kondisi kendaraan juga beragam. Beberapa masih cukup layak, sementara lainnya membutuhkan perbaikan. Bahkan, ada angkot tanpa bemper belakang.

Masalah administrasi kendaraan ikut menghimpit para sopir. Sejumlah angkot tercatat menunggak pajak, bahkan ada kendaraan yang tidak membayar pajak sejak 2018.

Sopir angkot, Said, mengatakan kondisi sepi penumpang sudah berlangsung bertahun-tahun. Ia menyebut situasi tersebut semakin membuat sopir enggan menarik angkot hingga Petir.

“Banyak nongkrongnya. Paling ngetem, bawa penumpang dua orang sudah jalan. Bawa dua orang paling jalan,” kata Said.

Pendapatan yang tidak menentu membuat Said kesulitan memenuhi kewajiban kendaraan. Ia mengaku pajak angkotnya sudah menunggak sekitar lima tahun.

“Ya gimana, uangnya susah,” ujarnya.

Keluhan serupa datang dari Juned. Ia bahkan hanya mengumpulkan Rp2.000 sejak pagi hingga sekitar pukul 10.00 WIB dari perjalanan Petir menuju Warung Pojok.

“Teman saya juga, dia baru dapat Rp5.000,” katanya.

Juned menegaskan para sopir bukan sengaja menghindari pajak maupun kewajiban administrasi kendaraan. Penghasilan yang sangat kecil membuat mereka tidak punya cukup uang untuk membayar kewajiban tersebut.

“Teman-teman di sini, bukannya nggak mau, bukannya anti, tapi kan nggak ada uangnya,” tegas Juned.

Menurut Juned, pemerintah perlu mencari cara untuk menghidupkan kembali angkutan umum. Jika penumpang kembali ramai, sopir memiliki peluang memperbaiki pendapatan sekaligus memenuhi kewajiban kendaraan.

Baca Juga :  PSEL Serang Raya Mulai Dibangun Desember 2026, Target Olah Ribuan Ton Sampah per Hari

“Carikan solusinya supaya kembali ramai. Saya sering dari rumah bekal Rp50 ribu, pulang cuma dapat Rp20 ribu,” ungkapnya.

Para sopir berharap pemerintah tidak hanya menuntut kepatuhan pajak dan kelayakan kendaraan. Mereka juga meminta pemerintah memperbaiki ekosistem angkutan umum agar angkot kembali menjadi pilihan masyarakat.

Tanpa langkah konkret, para sopir khawatir angkot semakin kehilangan penumpang dan mereka semakin kesulitan mempertahankan operasional.

Penulis : Ade Faturohman
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd