CILEGON – Sejumlah Cabang Olahraga (Cabor) di Kota Cilegon mengeluhkan keterbatasan anggaran training center (TC) menjelang pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Banten VII 2026 di Kota Tangerang Selatan (Tangsel).
Anggaran pemusatan latihan yang semula diwacanakan berlangsung selama enam bulan disebut hanya mencukupi untuk satu bulan. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak terhadap kesiapan atlet dalam menghadapi ajang olahraga empat tahunan tersebut.
Keterbatasan anggaran juga membuat sejumlah cabor pesimistis mampu memenuhi target medali yang telah ditetapkan. Terlebih, beberapa cabor dibebani target meraih medali emas meskipun persiapan atlet dinilai belum maksimal.
Salah seorang Ketua Cabor di Kota Cilegon yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku kecewa dengan kondisi tersebut. Menurutnya, anggaran TC yang diterima tidak sesuai dengan rencana persiapan yang sebelumnya dibicarakan.
Akibatnya, program pemusatan latihan tidak dapat berjalan optimal. Bahkan, ia mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menutupi kebutuhan latihan atlet.
“Bagaimana kita bisa meraih target emas kalau TC saja terbatas? Sementara target yang diberikan cukup tinggi,” keluhnya, Kamis (29/10/2026).
Ia menilai, keterbatasan anggaran tidak hanya berdampak terhadap pelaksanaan program latihan, tetapi juga berpotensi memengaruhi motivasi atlet. Pasalnya, para atlet sebelumnya berharap mendapatkan program TC selama enam bulan untuk mempersiapkan diri menghadapi Porprov Banten 2026.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi cabor yang dituntut meraih medali emas. Mereka harus menyiapkan atlet dengan waktu latihan yang terbatas, sementara target prestasi tetap harus dipenuhi.
Menanggapi keluhan tersebut, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Cilegon, Irfan Ali Hakim, menjelaskan bahwa Porprov merupakan agenda olahraga empat tahunan yang seharusnya telah diantisipasi oleh setiap cabor melalui pembinaan atlet sejak jauh-jauh hari.
Menurut Irfan, persiapan menghadapi Porprov tidak semestinya hanya bergantung pada program TC menjelang pertandingan. Pembinaan atlet idealnya dilakukan secara berkelanjutan melalui program yang disusun setiap tahun.
“Porprov ini event empat tahunan. Logikanya, tiga tahun ke belakang, semua cabang olahraga sudah mempersiapkan diri karena setiap tahun mendapatkan dana hibah dari pemerintah,” ujar Irfan.
Ia mengatakan, setiap Cabor semestinya sudah memiliki perencanaan mengenai atlet yang dipersiapkan untuk Porprov maupun atlet yang masih menjalani pembinaan untuk menghadapi kompetisi pada periode berikutnya.
Karena itu, Irfan menilai keterbatasan anggaran menjelang Porprov perlu disikapi dengan mempertimbangkan proses pembinaan yang telah berjalan selama beberapa tahun sebelumnya.
Meski demikian, ia mengakui kondisi fiskal pemerintah daerah turut memengaruhi anggaran persiapan kontingen Kota Cilegon untuk Porprov Banten 2026.
Irfan mengungkapkan, KONI Kota Cilegon sebelumnya telah melakukan pemaparan rencana persiapan Porprov di hadapan pemerintah daerah melalui Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).
Dalam pembahasan tersebut, terdapat dua kebutuhan utama yang menjadi perhatian, yakni pelaksanaan TC dan biaya pemberangkatan atlet.
Namun, rencana tersebut mengalami penyesuaian setelah pemerintah daerah melakukan pemangkasan anggaran.
Menurut Irfan, jumlah kontingen yang semula direncanakan sekitar 750 orang kemudian harus dikurangi menjadi sekitar 250 orang.
Selain pengurangan jumlah kontingen, program TC juga tidak dapat dilaksanakan sesuai rencana awal.
“Ketika terjadi pemangkasan, jumlah kontingen harus dikurangi. Yang kedua, tidak ada TC seperti rencana awal. Akhirnya, TC hanya diberikan satu kali dan itu dibiayai dari dana KONI,” jelasnya.
Ia menegaskan, KONI harus menyesuaikan pelaksanaan program dengan kondisi keuangan pemerintah daerah.
Irfan juga mengaku memahami keluhan sejumlah pengurus Cabor mengenai keterbatasan biaya persiapan, termasuk kebutuhan transportasi atlet menuju lokasi latihan.
Meski demikian, ia menilai pengurus Cabor perlu memperhitungkan kebutuhan pembinaan secara berkelanjutan dan tidak hanya mengandalkan anggaran menjelang Porprov.
Menurutnya, dana pembinaan yang diterima setiap tahun semestinya menjadi bagian dari persiapan jangka panjang untuk menghadapi kompetisi empat tahunan.
Di tengah keterbatasan anggaran persiapan, KONI Kota Cilegon tetap berharap kontingen mampu meraih medali sebanyak-banyaknya pada Porprov Banten 2026.
Irfan mengatakan, pihaknya mengacu pada capaian Porprov sebelumnya yang berada di kisaran 70 hingga 80 medali emas.
“Kita mengacu kepada Porprov sebelumnya, sekitar 70 sampai 80 medali emas. Itu harapan kita agar raihannya tidak jauh bergeser dari sebelumnya,” katanya.
Ia menyebut sejumlah cabang olahraga, termasuk atletik, menjadi salah satu andalan untuk mendulang medali. Namun, Irfan mengaku belum memiliki data terperinci mengenai target medali emas dari masing-masing Cabor.
Irfan menambahkan, KONI juga melakukan pemantauan terhadap persiapan sejumlah cabor untuk melihat perkembangan atlet menjelang pertandingan.
Ia berharap para atlet tetap dapat menunjukkan kemampuan terbaik meskipun menghadapi keterbatasan fasilitas dan waktu pemusatan latihan.
“Raihan medali itu penting. Namun, yang paling penting, teman-teman bertanding secara maksimal,” ujarnya.
Irfan juga mengingatkan bahwa pencapaian medali tidak hanya dipengaruhi oleh persiapan atlet, tetapi juga sejumlah faktor lain, termasuk kesiapan penyelenggaraan oleh tuan rumah.
Dengan kondisi tersebut, target mempertahankan capaian medali Porprov sebelumnya menjadi tantangan bagi kontingen Kota Cilegon. Terlebih, keluhan sejumlah cabor mengenai keterbatasan anggaran TC menunjukkan adanya persoalan yang perlu mendapat perhatian menjelang pelaksanaan Porprov Banten 2026.
Penulis: Usman Temposo
Editor: Wahyudin
