PANDEGLANG – Di mata keluarga, Surakman alias Sukarman bukan sekadar ABK kapal Arupadhatu 1 yang meninggal dunia saat mengantar jurnalis meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Ia dikenal sebagai sosok pendiam yang lebih banyak menunjukkan kasih sayang lewat perhatian kepada keluarga.
Anak korban, Yayat Suryadi mengatakan, ayahnya dikenal sebagai pribadi yang menyayangi keluarga dan tidak banyak bicara. Bukan hanya kepada keluarga, Surakman juga dikenal pendiam di lingkungan tempat tinggalnya.
“Kalau di mata keluarga, almarhum ini orangnya sayang sama keluarga, terus orangnya enggak pernah banyak ngomong. Sama tetangga juga begitu,” kata Yayat, Kamis (24/9/2026).
Di balik sikap pendiamnya, Surakman disebut memiliki perhatian besar kepada cucu-cucunya. Ketika mendapatkan rezeki lebih, ia tak segan berbagi dengan mereka.
“Terus sama cucu-cucunya juga, kalau punya rezeki banyak, dia kasih. Baik,” ujarnya.
Bagi keluarga, Surakman juga merupakan sosok penting karena menjadi salah satu tulang punggung keluarga. Pekerjaan di laut telah dijalaninya sejak usia muda.
Yayat menuturkan, ayahnya mulai menjadi nelayan setelah lulus SD. Profesi tersebut dijalani karena mayoritas warga di kawasan Carita juga bekerja sebagai nelayan.
Seiring waktu, Surakman kemudian bekerja sebagai ABK kapal dan terbiasa membawa tamu menggunakan speedboat.
“Almarhum dari lulus SD itu sudah jadi nelayan. Karena di sini kan kebanyakan orang nelayan, kalau di Carita. Kemudian menjadi ABK kapal untuk mengantar wisatawan,” tuturnya.
Kini, cerita tentang sosok Surakman tinggal menjadi kenangan bagi keluarga. Setelah jenazahnya ditemukan dan proses identifikasi selesai, keluarga bersiap mengantarkan Surakman ke tempat peristirahatan terakhir.
Keluarga Ikhlas
Keluarga Korba juga telah ikhlas mendapat kabar Surakman meninggal dunia dan ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu.
“Saya sebagai anak sekaligus keluarga merasa sedih, tapi kita kan kembali lagi ke garis takdir. Mungkin itu rencana Allah yang terbaik buat almarhum dan buat kita keluarga,” kata Yayat Suryadi.
Selama Surakman dinyatakan hilang, keluarga terus menunggu kabar. Setiap informasi mengenai pencarian menjadi harapan agar ada titik terang tentang keberadaan sang ayah.
Penemuan jenazah akhirnya memberikan jawaban atas penantian tersebut. Meski jawaban itu datang bersama duka mendalam.
“Untuk penantian, sejak dinyatakan hilang sampai sekarang pihak keluarga terus menanti kedatangan, biar ada titik terang. Apa pun kondisinya, tapi kan ada titik terang. Jadi kita sudah ikhlas menerima,” ujarnya.
Bagi keluarga, kepastian tersebut sekaligus menjadi akhir dari penantian panjang yang melelahkan. Mereka kini bersiap mengantarkan Sukarman ke tempat peristirahatan terakhir.
Yayat mengatakan keluarga tidak lagi mempertanyakan jalan yang telah digariskan untuk ayahnya. Kepergian Sukarman diterima sebagai bagian dari ketentuan Tuhan.
“Mau bagaimana lagi, karena sudah suratan takdir,” tuturnya.
Sulaman rencananya dimakamkan siang ini di TPU Kidemang, Carita.
Penulis : Mg-Madani Prasetia
Editor : TB Ahmad Fauzi
