Beranda Gaya Hidup Alasan Tekad Baja Selalu Kalah Melawan Kebiasaan Buruk

Alasan Tekad Baja Selalu Kalah Melawan Kebiasaan Buruk

Ilustrasi - foto istimewa suara.com

DI sebuah ruangan hening di tengah musim dingin yang membeku, Judson Brewer duduk bersila dengan kaus yang basah kuyup oleh keringat. Waktu itu, ia sedang belajar meditasi dalam sebuah retret hening. Petunjuk yang diterimanya terdengar sangat sepele: cukup perhatikan napas, dan jika pikiran melayang, bawa kembali fokus itu secara lembut.

Namun di balik instruksinya yang tampak bersahaja, realitasnya terasa seperti siksaan fisik. Brewer kelelahan, frustrasi, dan memanfaatkan setiap celah waktu istirahat hanya untuk tidur siang karena energinya terkuras habis. Ia sedang berjuang keras melawan sesuatu di dalam kepalanya, tanpa menyadari bahwa memaksakan pikiran untuk patuh dengan kekerasan tekad adalah pertarungan yang hampir mustahil dimenangkan.

Fenomena ini bukan hanya milik para praktisi meditasi. Kita semua mengalaminya hampir setiap hari.

Pernahkah Anda berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi menyentuh camilan manis di malam hari, tetapi sejam kemudian mendapati tangan Anda sudah berada di dasar toples biskuit? Atau berniat fokus menyelesaikan laporan pekerjaan yang tenggatnya tinggal hitungan jam, namun jari-jemari secara otomatis membuka media sosial hanya karena ada sedikit jeda kebosanan? Di dalam kepala, suara akal sehat berteriak memperingatkan konsekuensinya, tetapi dorongan tubuh bergerak jauh lebih gesit mendahului nalar.

Sebagai seorang psikiater dan neurosaintis yang mendalami ilmu kecanduan, Brewer akhirnya menemukan akar dari kebuntuan ini. Manusia, menurutnya, kerap lupa bahwa kita sedang berhadapan dengan salah satu mekanisme belajar paling purba yang tertanam di sistem saraf makhluk hidup: pembelajaran berbasis imbalan (reward-based learning).

Mekanisme ini sangat sederhana dan berpola tiga langkah: pemicu (trigger), tindakan (behavior), dan imbalan (reward). Jutaan tahun lalu, polanya membantu nenek moyang kita bertahan hidup. Mata melihat pohon buah yang manis (pemicu), tubuh memakannya untuk menyerap kalori (tindakan), dan otak melepas sinyal kenikmatan yang mencatat memori: “Ingat makanan ini dan di mana kamu menemukannya” (imbalan).

Baca Juga :  Terapkan Tips Ini untuk Mewujudkan Cita-citamu

Masalah muncul ketika otak manusia yang kreatif mulai memakai sirkuit biologis yang sama untuk urusan lain. Suatu hari saat beranjak dewasa, kita merasa sedih atau tertekan karena masalah hidup. Otak membisikkan ide: “Hei, bukankah es krim atau cokelat membuatmu merasa nyaman? Coba makan itu agar kesedihanmu hilang.” Kita mencobanya, gula meredakan rasa gelisah sesaat, dan otak kembali mengunci memori baru. Kini, rasa lapar tidak lagi berasal dari perut yang kosong, melainkan dari hati yang resah. Hal yang sama terjadi pada sebatang rokok untuk mengusir canggung atau secangkir kopi manis untuk menunda pekerjaan berat.

Ketika kebiasaan buruk itu mulai merugikan kesehatan dan produktivitas, senjata pertama yang biasanya kita hunus adalah willpower alias tekad baja. Kita mengandalkan korteks prefrontal—bagian otak depan yang mengatur kontrol kognitif dan nalar rasional.

Sialnya, korteks prefrontal adalah bagian otak pertama yang langsung “mati kutu” atau offline begitu kita dihantam stres, kelelahan, atau tekanan emosional. Itulah mengapa kita jauh lebih mudah membentak orang terdekat, membeli barang yang tidak perlu, atau menyulut rokok justru di saat kita paling lelah dan tertekan, padahal secara logika kita tahu hal itu keliru. Memaksa diri menahan godaan saat otak rasional sedang padam ibarat mencoba mengerem mobil yang minyak remnya bocor di turunan curam.

Sadar bahwa jalan pemaksaan sering menemui jalan buntu, Brewer mencoba membalik cara mainnya di laboratorium riset miliknya. Ia mengumpulkan sekelompok perokok aktif yang rata-rata sudah gagal berhenti merokok sebanyak enam kali. Kepada mereka, Brewer tidak memberikan obat penahan nafsu atau larangan ketat. Sebaliknya, ia memberikan instruksi yang terdengar nyeleneh: “Silakan merokok. Lanjutkan saja kebiasaanmu, tapi kali ini lakukan dengan penuh rasa ingin tahu.”

Para peserta diminta menjadi pengamat atas tubuh mereka sendiri saat menyulut tembakau. Mereka diminta memperhatikan aromanya, rasa di lidah, tarikan di tenggorokan, dan sensasi yang muncul di dada.

Baca Juga :  Manfaat yang Didapat Jika Kita Rajin Mengoreksi Diri

Hasilnya mencengangkan. Salah satu wanita peserta penelitian menghirup asapnya perlahan, berhenti sejenak, lalu tertegun sebelum berujar: “Ternyata rasanya seperti bahan kimia busuk dan baunya mirip keju basi. Menjijikkan.”

Secara teori dan angka medis, wanita itu sudah tahu sejak bertahun-tahun lalu bahwa rokok beracun dan merusak paru-paru. Pengetahuan itu bersarang di kepalanya. Namun lewat kesadaran penuh (mindfulness) yang didorong rasa penasaran tanpa penghakiman, ilusi kenikmatan rokok pecah berkeping-keping. Rasa ingin tahunya mengubah “pengetahuan di kepala” menjadi “pemahaman yang meresap hingga ke sumsum tulang”. Pesonanya luntur seketika. Brewer menyebut momen ini sebagai disenchantment—pudarnya daya sihir dari sebuah ilusi kenikmatan.

Ketika otak menyadari secara nyata bahwa imbalan yang didapat sebenarnya tidak seindah fantasi yang dijanjikan, dorongan untuk mengulanginya runtuh dengan sendirinya. Kita tidak perlu lagi bersusah payah mengerahkan tenaga untuk menolak, karena dari lubuk hati terdalam, ketertarikan kita terhadap hal tersebut memang sudah habis.

Lalu, bagaimana kita bisa memanfaatkan prinsip rasa penasaran ini untuk menaklukkan kebiasaan buruk kita sendiri sehari-hari?

Semuanya dimulai saat gelombang dorongan itu datang menyergap. Alih-alih langsung menuruti dorongan tersebut secara membabi buta atau menyiksa diri dengan menahannya sekuat tenaga, langkah pertama adalah berhenti sejenak dan menyadari kehadirannya. Sadari bahwa lingkaran kebiasaan Anda sedang dipicu oleh sesuatu, entah itu rasa bosan, kesepian, cemas, atau lelah.

Begitu Anda menyadarinya, ubah peran Anda dari seorang pelaku menjadi seorang ilmuwan yang sedang mengamati fenomena unik di dalam diri. Alih-alih panik, ajukan pertanyaan dengan penuh rasa penasaran: “Apa sebenarnya yang sedang terjadi di tubuhku saat ini?”

Jika diperhatikan lebih dekat, apa yang selama ini kita sebut sebagai “hasrat tak tertahankan” sebenarnya hanyalah kumpulan sensasi fisik belaka. Ada rasa sesak yang menegang di dada, getaran gelisah di perut, atau ketegangan di area rahang dan bahu. Sensasi-sensasi ini bukan monster raksasa yang bisa menelan kita hidup-hidup; mereka hanyalah riak-riak kecil pengalaman tubuh yang datang, memuncak, lalu mereda jika dibiarkan tanpa dilawan. Rasa ingin tahu itu sendiri memiliki sifat yang menyenangkan dan secara alami menenangkan sirkuit otak kita.

Baca Juga :  Orang dengan Zodiak Ini Karirnya Bakal Sukses Bulan Juli 2018

Kemudian, jika dalam proses belajar ini Anda ternyata masih terpeleset dan melakukan kebiasaan itu—katakanlah Anda tetap memakan kue manis tambahan tersebut—jangan terburu-buru mengutuk diri dengan rasa bersalah. Jadikan momen itu sebagai laboratorium mini. Perhatikan dengan sangat jujur apa yang sebenarnya Anda dapatkan. Apakah suapan kue ketiga rasanya masih seenak suapan pertama? Apakah tubuh terasa lebih segar, atau perut justru terasa begah dan pikiran dipenuhi penyesalan?

Melihat hasil tindakan secara jernih dan tanpa ilusi adalah kunci pembebasan. Perlahan tapi pasti, otak akan memperbarui data nilai (reward value) dari perilaku tersebut. Melalui rasa penasaran yang jujur, lingkaran kebiasaan yang melelahkan itu tidak lagi dipatahkan dengan kekerasan tekad yang rapuh, melainkan terurai dengan sendirinya oleh kejernihan kesadaran.

Sumber: TED