CILEGON — Pengurus Besar Al-Khairiyah mendesak pemerintah Indonesia mengambil sikap tegas terkait konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Organisasi tersebut juga meminta Indonesia keluar dari Board of Peace (BoP) yang dinilai tidak memberikan keuntungan politik bagi Indonesia.
Ketua Umum PB Al-Khairiyah, Ali Mujahidin, mengecam keras serangan yang disebutnya dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel. Ia menilai narasi yang menyebut Iran sebagai pihak teroris justru menyesatkan.
“Mereka menuduh Iran teroris, padahal tindakan mereka yang nyata-nyata merusak,” ujar Ali Mujahidin usai acara halal bihalal di Kampus Al-Khairiyah, Cilegon, Senin (30/3/2026). Acara tersebut turut dihadiri Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi.
Ali, yang akrab disapa Haji Mumu, juga menyoroti keanggotaan Indonesia dalam BoP. Ia mempertanyakan arah kebijakan dan pihak yang mengendalikan forum tersebut.
“Kalau BoP benar untuk perdamaian, tidak masalah. Tapi siapa yang mengambil keputusan? Kalau didominasi kepentingan kelompok tertentu, untuk apa kita ikut,” tegasnya.
Ia menilai langkah Amerika Serikat dan Israel di panggung global kerap merugikan banyak negara. Karena itu, menurutnya, Indonesia perlu menjaga jarak dan tidak berada dalam barisan yang sama.
Haji Mumu mengingatkan bahwa Undang-Undang Dasar 1945 secara tegas menolak segala bentuk penjajahan. Ia meminta pemerintah konsisten menjalankan prinsip tersebut dalam politik luar negeri.
“Penjajahan harus dihapuskan. Jika ada pihak yang menjajah, Indonesia tidak boleh berada di barisan mereka,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk memperkuat solidaritas kemanusiaan di tengah konflik global.
“Ini bukan soal agama, tetapi soal kemanusiaan. Kita harus berdiri melawan kejahatan kemanusiaan,” pungkasnya.
Penulis: Maulana
Editor: Tb Moch. Ibnu Rushd
