
SERANG– Aktivis lingkungan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mendorong audit ekologis di Banten untuk menilai daya dukung dan daya tampung lingkungan sekaligus menguji apakah praktik investasi selama ini berjalan adil.
Kepala Divisi Penguatan Organisasi Eksekutif Nasional Walhi, Umbu Wulang Tanaamah Paranggi,
menjelaskan, audit ekologis akan membantu pemerintah dan masyarakat melihat secara menyeluruh dampak kebijakan dan izin investasi yang telah diterbitkan. Dengan begitu, pemerintah bisa menilai apakah kebijakan investasi perlu dikurangi atau sudah cukup.
“Apakah daya dukung lingkungan kita dengan jumlah investasi yang ada saat ini sudah cukup atau perlu ditambah atau kita harus kurangi. Itu hanya bisa dilakukan kalau kita lakukan audit,” ujar Umbu di sela-sela workshop ‘Tata Ruang dan Masa Depan Ekologis Banten’ di kafe 1994, Kota Serang, Selasa (5/5/2026).
Dia menekankan, jawaban atas pertanyaan itu hanya bisa diperoleh melalui audit berbasis data, bukan sekadar asumsi. Kebijakan yang mengabaikan dampak masa depan, kata Umbu, menunjukkan ketidakadilan ekologis.
Audit ekologis tersebut merupakan perhitungan mengenai dampak nyata dari eksploitasi alam yang sudah dilakukan dari dulu hingga kini. Termasuk mengenai penelusuran apakah investasi di Banten yang mengorbankan alam sudah memenuhi keadilan distributif atau belum.
Audit ini, menurut dia, menuntut keberanian pemerintah daerah untuk introspeksi secara serius, berbasis data yang kuat dan transparan. Untuk menjaga objektivitas, audit sebaiknya dilakukan oleh pihak independen.
“Itu hanya bisa dilakukan kalau pemerintah mau rendah hati untuk melakukan intropeksi dan tidak bisa hanya ngomong-ngomong saja. Audit itu juga harus dilakukan oleh pihak independen,” jelasnya.
Umbu menambahkan, masyarakat sipil di Banten harus dilibatkan aktif. Seluruh elemen masyarakat perlu duduk bersama merumuskan syarat keselamatan ekologis. Investasi, katanya, tidak boleh semata-mata berorientasi keuntungan, tetapi juga harus memenuhi standar lingkungan, budaya, sosial, hingga nilai antargenerasi dan religi.
“Banten itu sudah punya fondasi yang kuat sekali (mengenai kearifan lokal) cuma problem kita selama ini fondasi yang kuat itu tidak dikabarkan. Pendidikan kita tidak pernah mengabarkan soal kearifan jaga kampung jaga alam. Semua itu pondasi kita di Banten dengan basis masyarakat adat yang kuat saya kira sudah baik,” ucapnya
“Dan kita berharap di Banten pemerintahnya punya niat baik untuk melakukan pembenahan agar ketidakadilan ekologis tidak merajalela,” imbuhnya.
Penulis: Audindra Kusuma
Editor: TB Ahmad Fauzi