SERANG – Belasan mahasiswa menggelar Aksi Kamisan di seberang Gedung Negara Banten, Kamis, (3/9/2026). Mereka ingin mengingatkan publik tentang berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang belum tuntas, baik di Banten maupun di daerah lain.
Aksi bertema “Menyulam Catatan Kelam” itu berlangsung melalui orasi, poster, dan lapak baca. Massa aksi juga kompak menggunakan pakaian serba hitam. Puluhan polisi, sebagian berseragam dan lainnya berpakaian sipil hingga jaket ojek online tampak mengawasi jalannya aksi.
“September bukan bulan biasa, banyak kejadian pelanggaran HAM. Kita harus mengingat terus pelanggaran HAM tanpa proses pengadilan,” kata salah satu orator.
Peserta aksi menyebut sejumlah kasus yang mereka anggap sebagai bagian dari catatan kelam pelanggaran HAM. Di antaranya pembunuhan aktivis hak asasi manusia Munir Said Thalib, tragedi 1965, penculikan aktivis, hingga tragedi Kanjuruhan yang menewaskan lebih dari 135 orang.
Mereka juga menyinggung kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus, kematian Affan Kurniawan setelah terlindas mobil rantis Brimob, serta kematian seorang penjual cermin di Jakarta dalam aksi pada Agustus lalu.
Di Banten, massa menyoroti sejumlah persoalan yang mereka nilai berkaitan dengan dugaan pelanggaran HAM. Kasus yang disebut antara lain penangkapan warga oleh polisi terkait pembakaran kandang ayam yang meresahkan warga di Padarincang, kriminalisasi massa aksi di Ciceri pada Agustus 2025, penyerobotan lahan oleh TNI di Rancapinang, Pandeglang, serta konflik antara perusahaan dan warga di Pulau Sangiang.
Tak hanya berorasi, peserta aksi membacakan puisi bertema perlawanan di tengah jalan. Karya para penyair yang dikenal menyuarakan kekerasan dan pelanggaran HAM, termasuk penyair yang hingga kini masih dinyatakan hilang, dibacakan sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengingat.
Salah satunya puisi “Peringatan” karya Wiji Thukul. “Apabila usul ditolak tanpa ditimbang,
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!,” kata salah satu massa aksi yang membacakan puisi berjudul “Peringatan” karya Wiji Thukul.
Salah satu peserta aksi, Ridwan, mengatakan gerakan tersebut terinspirasi dari Aksi Kamisan yang rutin digelar di depan Istana Negara, Jakarta. Aksi itu salah satunya diinisiasi Maria Catarina Sumarsih, ibu dari Bernardus Realiano Norma Irawan, salah satu korban tewas dalam Tragedi Semanggi pada 13 November 1998.
“Gerakan ini juga kami namakan Aksi Kamisan Serang. Kami memulai di September itu karena banyak tragedi HAM terjadi di September,” kata Ridwan.
Ridwan mengatakan Aksi Kamisan Serang akan digelar secara konsisten setiap Kamis sore dengan mengangkat berbagai isu. Alun-alun Kota Serang dipilih sebagai lokasi karena dinilai berada di pusat kota dan menjadi ruang yang banyak dilalui masyarakat.
“Ini juga bentuk manifestasi dari keresahan kami bahwa banyak kasus pelanggaran HAM yang belum selesai dan membayangi kita. Masyarakat ditekan dan dikriminalisasi,” ujarnya.
Di penghujung aksi, Ridwan membacakan tulisan berjudul “Menyulam Catatan Kelam”. Tulisan itu menjadi semacam penanda penutup aksi sekaligus seruan untuk merawat ingatan terhadap korban dan berbagai kasus kekerasan yang belum memperoleh keadilan.
Dalam tulisannya, Ridwan mengatakan peserta aksi tidak datang sekadar membawa poster atau mengenakan pakaian hitam. Mereka datang karena masih ada nama korban yang belum selesai disebut, keluarga yang masih menunggu, serta pertanyaan yang belum mendapatkan jawaban.
Ia juga mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya hidup dalam buku, tetapi dalam tubuh orang-orang yang kehilangan, air mata keluarga korban, ketakutan mereka yang pernah dibungkam, serta keberanian orang-orang yang memilih untuk tidak melupakan.
“Mungkin kita tidak mengenal semua korban secara langsung. Mungkin kita tidak berada di tempat ketika tragedi itu terjadi. Tetapi hari ini kita memilih untuk mengatakan:
Kami mengingat.
Kami tidak berpaling.
Kami tidak rela luka itu dihapus dari ingatan.”
Ridwan kemudian menyampaikan doa bagi para korban yang meninggal dalam ketidakadilan dan keluarga yang masih membawa luka. Ia juga mendoakan mereka yang menghadapi kriminalisasi, intimidasi, kekerasan, dan pembungkaman karena menyuarakan kebenaran.
“Jangan biarkan kami menjadi generasi yang terbiasa melihat ketidakadilan. Jangan biarkan kami menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang wajar.
Jangan biarkan kami diam ketika kebenaran dipaksa untuk tunduk.
Dan jangan biarkan kami lupa bahwa negara dibangun untuk melindungi manusia, bukan untuk menakut-nakuti manusia., ”
Di bagian akhir, Ridwan menyerukan agar ingatan terhadap berbagai kasus pelanggaran HAM terus dirawat. Menurut dia, masa lalu mungkin tidak dapat diubah, tetapi luka dan catatan kelam tidak semestinya disembunyikan.
“Kita masih bisa menyulam catatan-catatan kelam itu menjadi ingatan bersama. Dan dari ingatan itu, semoga lahir keberanian untuk menciptakan masa depan yang lebih manusiawi, ”
“Untuk mereka yang telah pergi, kami mengingat. Untuk mereka yang masih menunggu, kami membersamai. Untuk kebenaran, kami bersuara. Untuk keadilan, kami akan terus berjalan.Semoga langkah kecil kita hari ini menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju keadilan,” ujarnya.
Penulis: Audindra Kusuma
Editor: Usman
